Sorot matanya
tampak sinis kala itu. Kata seorang teman, “tidak mudah mendapatkan hatinya.”
Ia adalah seorang Koordinator guru. Rabu, 9 Februari 2011 aku membenarkan
informasi seorang teman yang pernah mengajar di sekolah itu. Aku sendiri lebih
banyak diam, semua sibuk dengan kegiatan harian mereka dan untuk pertama kali
aku melihat mereka tapi sebagian besar dari mereka yang namanya tidak asing
lagi bagiku, ada beberapa yang harus kuhindari dan aku harus waspada, katanya:
DANGEROUS.
Salah satunya
adalah sang Koordinator yang bernama Sheena. Tubuhnya kurus, tinggi badannya
sekitar 164cm. Selain disiplin, ia juga terkenal teliti dan disegani banyak
guru karena kedisplinannya dan sifatnya perfectionist.
“Miss Emma, disini asisten
guru biasa dipanggil partner, harus
membantu guru senior atau biasa disebut Leader.
Setelah makan, pekerjaan inti seorang partner adalah penyerut pensil, membundel
lembar kerja siswa atau project,
merapikan mainan di kelas, atau membantu guru lain yang mempersiapkan hasta
karya atau kami menyebutnya Art and Craft.”
Jelas seorang guru yang masa kerjanya masih seumur jagung di sekolah itu.
Namanya Arni.
Namun sayangnya aku
terpksa harus gigit jari karena masih dalam tahap percobaan dan karena baru
saja masuk di pertengahanTerm, sehingga
untuk sementara aku hanya bertugas sebagai guru pengganti dan sialnya aku
ditempatkan di kelas Miss Sheena. Ia ditemani Miss Rianti, yang ramah namun tidak ingin diganggu
pekerjaannya. Ia tampak cekatan dan tidak ingin terlihat lalai dalam
menjalankan tugas dihadapan Miss Sheena. Aku, hanya kebagian tugas menyerut 6
set pensil warna. Aku menyerut sambil bergabung dengan beberapa guru baru
sembari mendengar cerita - cerita mereka. Dan, selesai juga tugasku. Segera
kukembalikan di tempatnya semula.
***
Pagi yang masih
dengan suasana baru bagiku. Tidak bisa dipungkiri suasana hatiku masih kurang
baik sejak penghujung tahun 2010 lalu, aku baru saja dikhianati oleh seseorang.
Aku adalah lulusan pendidikan bahasa Inggris yang masih fresh graduated, namun wajahku tidak sesegar gelar sarjanaku. Masih
diselimuti kesedihan dan sedikit kebencian pada si penghianat tersebut.
Aku hendak memasuki
kelas untuk mengambil sesuatu dan... memergoki Miss Sheena menyerut kembali
pensil warna yang kemarin sudah kukerjakan. Kuperhatikan wajahnya kurang
senang, tidak ada suara terdengar dari bibirnya namun hatiku mendengar dengan
jelas betapa ia kurang puas dengan hasil kerjaku. Apa boleh buat, aku berusaha
tetap berfikiran positif. Resiko menjadi partner seseorang yang perfectionist. Tak jarang aku menggaruk
kepalaku yang tidak gatal saking bingungnya dan mungkin saja ia mengira aku
punya peternakan kutu.
“Tuhan, kapan
situasi kurang menyenangkan ini bisa berhasil kulewati?”
Aku kerap berfikir
dan berdoa sebelum tidur. Dalam kamus perjuanganku, tidak ada istilah menyerah.
Aku bisa saja kabur dari sekolah yang suasananya seperti itu. Tapi, bukankah
setiap lingkungan perlu adaptasi?
Oh, yah...
dia hanya belum mengenalku. Hiburku dalam hati, lalu memejamkan mata yang
sudah berat. Merebahkan otot - otot yang pegal setelah menggendong murid Toddler berusia 2 tahun lebih yang tidak
berhenti menangis tadi siang.
***
Siang hari di kelas
Toddler, suasana makin memanas. Aku
selalu berusaha tersenyum dan berperang melawan perasaan ciut saat melihat sang
koordinator yang tak kunjung ramah. Namun kali ini, aku selamat dari tanduknya.
Retina mataku tertuju pada teman seperjuangan yang juga guru baru.
“Miss Elnina... I am talking to you!! Close the door!” Tegas miss Sheena. Matanya
berapi - api, nada yang tinggi membuat suasana hening. Ini adalah mimpi buruk
di siang bolong. Miss Sheena mungkin betul - betul tidak menyukai diriku dan
Elnina. Aku mendesah lagi, sambil mengajar muridku, menarik nafas dalam - dalam
dan mulai merasa tidak nyaman dengan keadaan ini.
“Aku tau, aku guru
baru. Tapi aku nggak tahan banget diperlakukan seperti itu. Dipandang sebelah
mata, sedih banget dibentak dan arrgghh...! sepertinya aku udah nggak tahan
lagi.” Keluh Elnina sambil menatap makan siangnya. Aku hanya bisa mendengarkan.
Tapi tidak menampik bahwa semangatku juga nyaris pudar.
“Sabar,
bertahanlah. Ini kan masa percobaan, kita harus tunjukkan pada mereka kalau
kita itu tidak pantas dipandang sebelah mata. Okelah, kalau kinerja kita memang
kurang bagus, toh kita kan masih baru, kita belum menguasai medan perang.” Arni
berusaha menenangkan Elnina. Namun Elnina masih terlihat sedih dan tidak
bersemangat. Aku, Arrie, dan Jane tidak banyak bicara. Tapi saat itu, dan sejak
saat itu kami merasa ada ikatan batin yang bru saja terjalin diantara kami
berlima.
***
Beberapa hari
kemudian...
Miss Cinta, sang kepala sekolah yang ramah dan
bijaksana, mengadakan rapat kecil dengan kami para guru baru. Ia memaparkan
beberapa komplain dan wejangan dari pemimpin yayasan. Aku, Arrie, Jane, Elnino
dan Arni hanya bisa menelan ludah dan menganggukan kepala saat miss Cinta
berkata, “tidak perlu merasa sungkan untuk berkonsultasi dengan miss yang satu
ini.”
Tangan kanannya
merangkul miss Sheena dan sang koordinator tersenyum penuh arti pada miss
Cinta. Mataku berusaha menangkap sisi positif dari pertemuan ini.
Kepekaan miss Cinta
akan suasana lantai 2 antara guru baru dan Koordinator mungkin tercium jelas.
Tapi ada satu hal yang membuatku menjadi lebih lega, ketika miss Cinta
memberitahukan– “beliau ini, punya banyak ilmu yang bermanfaat bagi kita, tidak
ada pengecualian. Sebagai kepala sekolah juga selalu sharing dan memetik banyak pelajaran, jangan liat dari sisi lain.
Kenali dulu lebih dekat. Mungkin tak kenal maka tak sayang.”
Selepas rapat, kami
berlima kembali berunding di changing
room. Sedikit berbisik - bisik, takut ada yang mendengar dan melaporkan kami
lagi. “Kenali dulu lebih dekat? Bukannya mereka juga perlu mengenal kita lebih
dekat?” Jane yang pendiam namun kritis terdengar kurang setuju. “Sabar, yang
penting itu kita tunjukkan kinerja kita tidak kalah dengan guru senior
lainnya.” Timpal Arrie. “Aku tetap pengen resign,
malas banget dimarahin terus ama miss Sheena.” Elnina kembali menunjukkan rasa
pesimisnya. “Tunggu sampai seminggu, kalau suasananya masih tidak menyenangkan,
baru kau get out from here.” Bujuk
Arni. Sementara aku dan Elnino saling bertatapan, layaknya sepasang tokoh
kartun Magic Girls yang mampu bertelepati.
Dan dalam doaku
hari ini setelah mendengar nasehat miss Cinta, aku berharap agar seseorang tadi
dibukakan pintu jodoh dan dilimpahi kebahagiaan dan kasih sayang agar hatinya
luluh pada kami. Tujuanku bekerja di sekolah itu bukan mengutamakan nafkah,
tetapi lebih pada pengalaman kerja dan untuk menyembuhkan hatiku yang sempat
retak, bukan untuk membuatnya bertambah retak dengan suasana seperti ini.
***
Selasa, 16 Agustus
2011 setelah melewati kerikil tajam, akhirnya perjuangan kami sampai di atas
kertas putih dan materai 6000. Tersusun dengan tinta hitam– kontrak kerja
selama satu tahun. Namun sayangnya, kami tinggal berempat. Jumat, 17 Juni 2011
yang lalu air mata tak terbendung lagi saat membaca pesan singkat Arni yang didepak
dari sekolah karena bermasalah dengan leadernya
dan banyak hal, yang membuatku miris adalah: ia dipecat pada saat hubungan
mereka sudah membaik.
Tinggallah kami
berempat, bunga – bunga kecil diantara pepohonan yang rindang. Satu telah gugur
dan entah sampai kapan kami menghiasai pekarangan ini.
Suasana pun kian
membaik. Tidak seperti hal wajar yang keakrabannya ada karena telah terbiasa,
tetapi sesuatu itu ada karena Tuhan Maha Mendengar dan Mengijabah doa seseorang
yang berusaha. Setelah rapat tempo hari, aku berusaha mengambil hati miss
Sheena. Tidak perduli dengan kata – kata senior lain yang menjelek –
jelekkannya dari belakang, dan bukan karena ingin menjilat, tapi karena ilmunya
dan yang kutahu dengan jelas pribadi seseorang yang dingin itu sebenarnya jauh
lebih bisa dipercaya juga penyanyang dibandingkan pribadi yang ramah dan supel
sekalipun. Seseorang yang sulit ditaklukkan lebih menantang dan dibalik semua
sikap dinginnya aku yakin ada benda lunak yang tersimpan di dalam jantungnya:
hati. Meski tak jarang aku juga berkesah pada Jane bila melihat tatapan khas
miss Sheena bila mendengar satu volume kesalahan. Masa itu telah lewat, kini
yang menggantikanku adalah guru mungil yang selalu kelabakan dan sangat sensitive bila berhadapan dengan miss Sheena.
Aveline si pecinta kuning itu menjulukinya miss Perfect. Kadang aku tersenyum
geli diatas kegundahannya, sebab akupun pernah merasakannya.
Hingga di suatu
hari, terjadi hal yang tidak mengenakkan di sekolah. Ada beberapa guru dari
divisi SD yang bermasalah dengan pihak yayasan. Aku tidak ingin ikut campur,
namun dengan kejadian itu ada perubahan besar, khususnya pada hubungan antara
aku dan miss Sheena.
“Maaf, kalau selama
ini tidak pernah memberi kesempatan untuk melihat dengan hati.” Ungkap miss Sheena.
Di kesempatan itu, aku pun menggandeng nama Ave. Tanpa sepengetahuan dan
persetujuannya, aku memberitahu miss Sheena bahwa Ave sebenarnya sangat kagum
padanya, namun sepertinya miss Sheena hanya fokus pada Fiana, yang kebetulan
diterima sebagai guru baru bersama Ave untuk menggantikan beberapa guru yang
telah pindah. “Kata Ave, dia sekarang jadi sangat ketakutan bila melihat miss
Sheena. Padahal Ave sangat ingin jadi partner
miss Sheena loh.” Kataku sambil menahan tawa, mengingat Ave yang ekspresif;
kadang terlihat polos dan lugu, selalu membuat kami tertawa. Dan tidak lama
kemudian hubungan mereka membaik. Ave sebagai partner miss Sheena di term
berikutnya dan merupakan kesayangannya.
***
Jingga menorehkan
warnanya di sore itu, Oktober 2011. Agak canggung, aku menemani miss Sheena
belanja di MP untuk pertama kali. Kami juga sempat makan kapurung di Food
Court. Banyak hal yang kami bincangkan; ada sesuatu yang ingin dikoreknya atau
mungkin ia hanya ingin meluruskan konflik antara beberapa guru senior di lantai
3 yang kebetulan aku mulai akrab pada salah satunya. Tidak banyak yang bisa
kusampaikan karena sebaik - baiknya teman adalah yang bisa menjaga rahasia dan
menjadi penengah memang harus mengetahui inti permasalahan di kedua pihak.
Namun yang membuatku semakin lega adalah, saat mengetahui bahwa semua prasangka
buruk tentangnya adalah tidak benar. Setiap orang punya karakter, bila kita
tidak mengenal karakter orang lain maka hanya prasangka buruk yang akan
tercipta.
![]() |
| Friendship is sweet like Chocolate |
Sampailah kami pada
tempat parkiran motor. Miss Sheena mengeluarkan sebuah coklat dari plastik
belanjaannya tadi. “For you.” Singkatnya sembari mengatrek motor. Sedikit malu
menerimanya, kuucapkan terima kasih dan tersenyum senang. Disitulah awal dimana
kami mulai akran dan saling mengenal. Miss Sheena kerap memintaku untuk
menemaninya belanja atau makan bila punya waktu luang. Sebab ia tahu betul aku
adalah salah satu guru yang punya sense
of shopping, kedekatan kami juga didasari oleh perdagangan. Miss Sheena
yang berjiwa dagang sangat senang karena aku adalah jalur dagang yang membuat
jualannya laris manis, orderan kerjinan tangan milik kerabatnya meningkat dan
aku tidak membutuhkan keuntungan materi di dalamnya karena sejak dulu sudah
terbiasa mempromosikan dagangan orang lain dengan ikhlas.
Kedekatan kami pun
berlabuh pada sebuah novel tua berjudul “Surat Cinta Saiful Malook.” Saat makan
siang kami makan bersama guru lainnya. Dan miss Sheena meminjamkan buku
tersebut. Setelah membacanya, sungguh... kisahnya menyentuh dan mengingatkanku
pada seorang teman dekat yang berada di Pakistan. Naluri kolektor novel yang
kumiliki mendayu - dayu. “Pengen beli juga, dimana tempat jual novel tua yah?
Pasti di Gramed sudah tidak ada.” Tanyaku pada miss Sheena dalam pesan singkat.
“kamu bisa memilikinya dengan syarat, jaga baik - baik buku itu karena buku itu
juga punya kenangan tersendiri.” Ujarnya membuatku terkejut, tapi mendengar
kalimat terakhir rasanya tidak pantas bagiku ingin memiliki barang orang lain
yang berharga.
![]() |
| Novel: Surat Cinta Saiful Malook |
Esok hari, aku
mengembalikannya. Tapi miss Sheena menolak dan menyuruhku untuk menjaga buku
itu dengan baik. Novel yang pernah membuat miss Maya menangis setelah
membacanya. Meskipun aku sendiri tidak sampai menangis, tapi aku mengakui mutu
buku tersebut, buku yang akhirnya terjejer di antara novel lain di rak buku
kamarku. Dan kali ini kusampaikan bahwa ‘dingin’ merupakan senyawa yang bila
disentuh maka akan terasa sampai kedalam lapisan kulit hingga ke tulang,
“dingin mempunyai perasaan yang dalam yang rasanya selalu dikenang.”
***
7 tahun berkarir,
kedisplinan dan inovasi yang membuat kualitas sekolah semakin cemerlang dan
menjadikannya sebagai kepala sekolah sebab miss Cinta diangkat sebagai kepala
sekolah divisi SD. Karirnya semakin
berkilau. Tidak hanya karirnya yang berkilau namun juga cintanya yang akhirnya
membawa miss Sheena dan kekasihnya ke KUA. Tepat di bulan kelahiranku,
September tanggal 4 tahun 2012 aku bolos kerja karena miss Rianti yang telah
mengumpulkan uang teman - teman guru lantai 2 yang berencana memberikan hadiah
cincin emas. Aku ditemani ibu, keliling mencari cincin yang berkualitas dan
modelnya bagus juga harganya sesuai dengan uang yang terkumpul. Meskipun
sayangnya ternyata cincin itu longgar. Miss Sheena terlihat bahagia di hari
pernikahannya. Saat foto bersama aku berdiri disamping kanannya menggeser
posisi miss Rianti dan tangan miss Sheena merangkul dari belakang sambil
tersenyum melihat kamera. Doanya, “semoga cepat menyusul.” Kami semua turut
bahagia malam itu. Rasa syukur padaNya yang melimpahkan kebahagiaan dan kasih
sayang, membuka pintu jodoh miss Sheena juga beberapa guru lainnya.
![]() |
| Left to Right: Rati, Poetry, Pengantin, Yuni, Mira |
***
Meski selama miss
Sheena menduduki jabatannya kami para guru makin sibuk dan beberapa guru
mengeluh, kami tetap punya waktu luang jalan – jalan. Entah itu shopping bersama guru lain, makan
kapurung atau karaokean. Setelah jam kerja, miss Sheena meminta untuk ditemani
belanja. Kami hunting barang pecah -
belah. Sudah beberapa hari aku diteraktirnya, meskipun rasanya tidak enak tapi
rejeki tidak boleh ditolak kata Elnina. Hari berikutnya kami memulai dengan
makan coto, lalu membeli pernak - pernik untuk keponakannya, kita lanjut makan
pisang ijo “Kenneth” kemudian jelang maghrib kami menyeberang ke salah satu
toko aksesoris terunik di Makassar dan yang mengejutkanku adalah setelah
membayar belanjaannya ia menemukan kaleng kecil berwarna merah, putih, biru
bendera Perancis dengan gambar seorang gadis cantik memegang kamera dengan caption “Voyage, I love Paris in the
Spring Time.” Miss Sheena tahu benar aku sangat menyukai segala sesuatu berbau
Paris dan ia mengambil kaleng kotak mungil itu lalu membelikannya untukku.
Sungguh, aku tidak bisa menolak. “Merci beaucoup, miss Sheena.”
***
![]() |
| I Love Paris :) |
Jumat, 7 Februari
2013 miss Sheena memanggilku pada jam 02:40 siang. “Miss Emma...!” terkejut,
aku lalu bergegas. Pikirku mengarah pada laporan bulanan yang baru saja
direvisi mungkin ada kekeliruan. Di depan pintunya aku mengintip dan ia keluar
sembari memberiku sebuah buku catatan kecil dengan gambar menara Eiffel, “for
you.” Kuraih buku itu, “Oh my God, it’s pretty cute. Thank you.” Kataku sambil
menatapnya tersenyum penuh rahasia. Akupun tersenyum tapi kali ini senyumanku
tidak seperti biasanya. Kabar yang beberapa hari terngiang di telingaku
membuatku berjalan lesu ke kelas. Sepertinya ini bukan pemberian seperti
biasanya, ini merupakan kenang - kenangan yang punya arti lain. Aku sudah
banyak ditinggalkan sahabat di sekolah ini; mulai dari Arni, Jane dan beberapa
sahabat lain yang tidak bisa disebut satu per satu. Pikiranku semakin menjurus
pada saat yang tidak kuharapkan: perpisahan. Nafas semakin berat, angkutan umum
berjalan selayaknya siput. Semakin lama rasanya leherku mulai tercekat menahan
kesedihan. Apa pada bulan Juni 2013 nanti aku harus mempersembahkan tulisan
perpisahan lagi di Blog pribadiku seperti yang sudah - sudah?
Rabu, 12 Februari
2013 mengingatkanku pada hari Rabu di tahun 2011 tanggal 9 Februari silam
dimana pertama kali aku mengerutkan kening saat melihat tatapannya. Rabu kali
ini membuatku mengerutkan kening dalam rapat, tercium sesuatu yang tidak
kuinginkan. Apa benar yang dikatakan Dwayne semalam? Betulkah itu? I see there’s something in her eyes that far
too revealing. Kerutan di keningku bukan soal komplain seorang kepala
sekolah kepada guru - gurunya. Tetapi kabar yang akan disampaikannya.
“Kalau saya punya
utang atau janji yang belum ditepati, tolong disampaikan.” Katanya menerawangi
kami dan menunggu jawaban. Nadanya kian pekat tercekat membuat kami pilu,
“because today is my last day here.” Tangisannya pecah sembari meminta maaf
satu - persatu. Semua terharu, juga Elnina dan bagian yang tersulit untukku
ketika suara tangis Aveline pecah, si cengeng itu memeluk tak menyangka hari
ini miss Sheena mengakhiri karirnya. Sebelum sampai padaku, aku lekas keluar
ruangan dan masuk di toilet – menangis. Bukan karena tidak ingin dilihat
menangis oleh yang lainnya, tetapi karena perpisahan adalah hal menyedihkan
yang sering kualami tapi tidak ada tempat menghindar lagi. Kami berpapasan di
antara ruang makan dan ruang serbaguna. “Maafkan kalau selama ini banyak salah,
kamu baik sekali selama ini, Emma.” Aku hanya diam. Ingin kubertanya; mengapa
harus hari ini? Mengapa tidak menunggu sampai bulan Juni? Mengapa harus
bertepatan dengan perginya lelaki yang baru saja mencuri hatiku? Patah hati
kalah rasa sedihnya dibanding hari ini, hari dimana ditinggalkan oleh sahabat.
Bukan untuk selamanya, tapi tidak bersama lagi tiap hari. “Not coz of you, not
coz of me. It’s all for love.” Bukankah teman yang baik selalu mengantarkan
temannya pada BONHEUR: kebahagiaan. Semoga cinta selalu menyertaimu, May Allah
bless miss Sheena all the way.
“Because
friendship is shining just like a diamond. Your shine is like a diamond”
![]() |
| Imlek, The last day of her in February 2013 |
(# ̄▽ ̄#) Based on true story, dedicated for my best friend...
![]() |
| Lunch bareng |
![]() |
| Thanks for the gifts |
![]() |
| Nasi goreng udang tempura |
![]() | ||||||
| Setiap melewatinya, selalu terkesan seperti ada yang hilang... |
♫♪♫♪
Why she had to go I don't know she wouldn't say.
I said something wrong, now I long for yesterday.
Yesterday, love was such an easy game to play.
Now I need a place to hide away.
Oh, I believe in yesterday.
♫♪ The Beatles ~ Yesterday








