Minggu, 24 Juni 2012

The Horse is Maria

The funniest Moment with Maria Nida Bidja in 2005.

Maria, nama yang indah dan bersejarah.
Begitupun sore itu, selesai berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan di Gorontalo.
Gue masih nimbrung bareng teman - teman 'cuz takut kesasar.
Sementara sibuk dengan tentengan masing - masing, Maria temen gue yang paling heboh and subur jadi pemimpin pasukan.

"Maria... Maria... Maria !!"

Spontan mata kami mencari - cari sumber suara tersebut, termasuk si Maria. Merasa tenar, Maria dengan percaya diri tingkat tinggi menghampiri lelaki paruh baya yang memanggil - manggil namanya.

"ada apa panggil - panggil?" tanya Maria dengan wajah bingung. Pak kusir yang ditanya Maria juga tidak kalah bingungnya, "panggil situ??" masih bingung bak bayi yang tak berdosa. Sambil memperbaiki lipatan jilbabnya, Maria menjelaskan, "tadi bapak panggil - panggil Maria kan?" lalu menoleh ke arah kami yang setia menanti dibelakang Maria.

Dengan cambuk di tangannya, pak kusir tersebut tertawa. "Oh, Maria nama kuda saya !"
Wajah Maria merah merona dan tawa kami meledak. "Maria... Maria... Maria !!!" seru pak kusir pada kudanya yang lagi rewel. Ckckckck... Maria... Maria...

written in September 9th, 2011

IKA...

Ponsel berdering, NO NAME. Ogah – ogahan setengah ngantuk gue dengar suara cewek,

“hai put...? apa kabar say?”
“bae... ni sapa??”
“loh masa lupa sih?”
“iya lupa, siapa?”
Samar – samar terdengar, “iika...!”
“haa?? Ika?”
“iya... kok lupa sih?”
“oh... maaf maaf... abis ganti – ganti nomer sih?!” Ngelles plus ngarang hehehe.

Sumpah, temen gue yang namanya Ika banyak banget. Sekian banyak temen yang namanya Ika, ini Ika yang mana yah?? Tapi yang paling sering ganti nomer and tiba – tiba nelfon ntah itu buang gratisan, atau kangen tak terbendungi lagi or maybe lagi bete trus butuh penghibur, cuma Vica.

“nggak kok, nomornya masih yang lama...”
“ooh kirain dulu nomernya ada buntut dua dua??” sambil geleng – geleng bayangin wajah herannya Vica.
“ahh... jadi yang dulu pake nelp kamu nomor apa??”
“ooh... iya, maaf deh soalnya nggak tersave.”

Ngomong – ngomong kok tumben yah si Vica yang logat Bolmongnya kental banget udah berubah jadi logat jawa campur aduk Gorontalo and Makassar? Hmm...

“abisnya suara lo juga udah berubah ampe gue nggak kenal lagi vica!!!”
“hihihihi.. masa sih? Nggak kok biasa aja tuh... berubah gimana??”
“iyaa... berubah, sampe nggak kenal.” Masih berusaha membela diri takut dicap sombong ama Vica soalnya udah lama nggak sms or nelfon Vica.
“ooh... itu gara – gara aku krisis logat disini...” nah tuh pantesan si Vica logatnya berubah.
“hehehehehe... pindah tugas yah?”
“iya... belakangan ini aku gaulnya ama anak – anak Makassar, beberapa minggu lalu aku nemenin teman aku dari Makassar juga,  jadi parah banget nih logatku.”
“ooh.. gitu yah??”
“iya... kamu tau nggak lembaga pendidikan bahasa Inggris di Makassar?”
“oh, disini banyak banget, saking banyaknya nggak bisa disebut.”

Dalam hati gue bilang, gue belum sempat survei lembaga pendidikan di Makassar. Hehehe... dari pada ngomong nggak jelas, mending singgung soal mantannya si Febriansyah Thalib yang udah lulus CPNS di Kotamobagu.

“eh, si ebi udah lulus di Kotamobagu yah?”
“ebi??”
“iya... ebi udah lulus CPNS di Kotamobagu, tapi sayang yah?? Dia terlambat... nanti Vica udah merid baru dia lulus disana.”
Yang disebrang nadanya datar aja, nggak seperti biasanya. Apa karena udah merid jadi nggak tertarik lagi ngomongin si Ebi Geboy yah??
“itu aku nggak tau.”
“aduh, masa nggak tau?? Iyah benner dia udah lulus loh... gue dah ledekin dia tuh, terlambat sudah kau datang...kasih.” sambil nyanyiin potongan lagu lawas.
“hehehehe...”

Hmmm aneh, kok udah nggak ada chemistry lagi nih ngomong ama Vica?? Cepat – cepat gue nyari topik lain buat ngobrol.

“udah ada baby blom vic??”
“apa??”
“baby BABY...”
“baby???”
“iya... baby... YOUR BABY, MOMONGAN...  udah ada tanda – tanda blom??”
“hah... ngomong apa sih kamu?? Nikah aja belum udah punya baby?!”

Haa??? So, who are you?? Dari tadi asyik ngobrol ternyata yang diseberang bukan Vica?? Lalu siapakah dirinya??

“wait... wait... ini Vica kan?”
“ya ampun... jadi kamu pikir aku Vica??”
“iya, kamu siapa?”
“Rika... Rika... Erika, wkwkwkwkwkwkwkwkwkwk...... put put...!!”

Lipstick and Me

my lipsticks ^^

Masih lekat di ingatanku saat berumur 3 tahun; berdiri di depan cermin lemari bermain bersama lipstick  ibu sambil  berlenggak – lenggok bak peragawati atau mengajak teman untuk bermain sinetron  dan aku berperanse bagai guru yang cantik sedangkan temanku adalah murid yang baik hati. Sejak kecil aku memang dilahirkan menjadi seorang anak pesolek. Kadang, ketika orang – orang dewasa disekitarku sedang sibuk dengan rutinitas mereka, aku sangat senang bersembunyi di dalam kamar dan memakai baju dan sepatu milik ibu.

Masa kecilku selalu menanti datangnya hari dimana aku bisa menggunakan lipstick tanpa mendengar protes dari teman maupun ibu. Beranjak SMP, ibu membelikanku pelembab bibir beraroma buah dan tidak jarang bila ada kerabat atau pun tetangga mengadakan pesta, 

Jadi pagar ayu. Baju Bodo modern.
aku sering ikut andil meskipun hanya menjadi pagar ayu. Rasanya senang karena itu berarti aku akan dirias. Sayang sekali semasa kecil aku kurang tertarik mengikuti fashion show dan semacamnya. Meskipun aku senang melihat segala sesuatu yang berbau fashion dan mode.

Visiting my aunty at Sahid Hotel, 2007

Padatahun 2005 aku lulus di salah satu universitas negeri di Gorontalo.Namun, langkahku pun terhenti saat melihat salah satu mahasiswa yang berpenampilan wah di kampus. Kelopak yang berwarna – warni, bulumata yang lentik dan tebal, perona pipi dan lipstick. Meskipun mencintai keindahan lipstick, bukan berarti harus berdandan menor disegala suasana.Syukurlah, semasa kuliah aku masih percaya bahwa kecantikan itu bukan bersumber dari polesan kosmetik tapi bagaimana kita berpenampilan dan tentunya dari dalam hati.

Setelah itu, aku bergabung pada salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa yaitu Teater.

Road show for Global Warming 2008

Disana aku bisa mengeksplorasi kegemaranku dengan tepat dalam menata rias. Bahkan bukan hanya merias untuk menjadi cantik, tapi juga merias pemain teater yang muda menjadi tua dan yang cantik bisa menjadi konyol. Banyak kenangan tentang tata rias di Teater Peneti Gorontalo. Hingga waktu mempertemukanku pada gelar sarjana. Momen terpenting bagi para mahasiswi adalah tampil cantik pada saat mengenakan toga. Aku bersama salah satu angkatanku rela bangun jam 4 subuh untuk mempersiapkan diri ke salon kecantikan. Kami dirias dan juga mencoba kreasi jilbab agar penampilan kami lebih menunjang.

Graduation ceremony, 2010
Waktu terus berjalan, hidup berputar dan berproses. Dunia nyata tentunya setelah kita sarjana. Aku melamar pada salah satu yayasan pendidikan di Makassar. Di tempat aku bekerja tersebut yang notabene guru – gurunya adalah seorang perempuan, aku menemukan tempat seperti dahulu kala sewaktu aku berperan sebagai guru dan juga aku bisa berias namun tidak berlebihan.  

Bambini School Graduation, 2011

Dan satu hal yang menarik adalah beberapa guru ada yang berbisnis kosmetik, hehehe. Namun langkahku tidak terhenti sampai disitu, masih banyak cita – cita yang belum tercapai.

Me and my workmate: Ms. Aisyah Amir
Kecantikan adalah anugerah Tuhan yang patut kita jaga dan syukuri. Bagiku, tidak ada perempuan di dunia ini yang diciptakan buruk oleh-Nya terkecuali anda sendiri yang menjadikan diri anda buruk.

Because the ugly truth is the way you hurt another by doing the cruel things. Be beauty just like the lipstick which gives some pretty colors to your smile.