Minggu, 22 September 2013

Rika is Ivy

Terkadang, kita terlalu naif menyimpulkan sesuatu. Apalagi dalam hal menilai seseorang. Perlu ditekankan: Don't judge the book by its cover. Tentu kita sudah sering mendengarnya, bukan?

Kali ini saya ingin menceritakan kisah seorang teman kuliah dulu. Tepatnya di tahun 2005, pertama kali mengenalnya. Dia adalah mahasiswi yang gigih dan ramah. Tapi, waktu itu saya tidak begitu akrab dengannya! Karena penampilannya yang agak aneh.

Aneh? Ya, betul. Teman - teman di sekitarku pun berpendapat demikian. Karena jilbabnya yang hampir menutupi alisnya. Namanya Ivy.

---

Time goes by, kami tidak segrup maupun sekelas. Karena angkatan kami terbagi empat kelas, saya di kelas D dan Ivy di kelas A. Kami bertemu hanya pada mata kuliah umum. Dia termasuk mahasiswi yang cerdas dan ramah.

Pada saat pembagian kelompok PPL 2 secara acak, Ivy ternyata sekelompok denganku. Kami dengan beberapa teman lain sama - sama belajar mengajar di SMK 2 Gorontalo.

Waktu itu saya tidak punya teman dekat, karena mereka berasal dari kelas A dan B. Biasanya di jurusan, dosen selalu menggabung empat kelas menjadi dua. Dan saya berada di kelompok C dan D. Sementara dua teman lagi dari kelas C dan D, juga tidak begitu akrab denganku. Tetapi saya berusaha berbaur. Mereka teman yang ramah dan baik.

---

Selang beberapa hari PPL, terjadi hal - hal yang kurang menyenangkan hati. Hari pertama, kami memang masih canggung. Saat itu saya menemani teman kelas saya yang agak pemalu. Yang membuat saya agak kurang senang adalah, ketika ia mengajar dan ia tahu yang dihadapinya adalah anak - anak SMK yang notabene acuh tak acuh dalam belajar. Ntah apa yang dipikirannya sehingga ia menginstruksikan mereka menyanyikan lagu Up and down and shake, shake, shake...

Bukan masalah lagunya, tapi ia menyuruhku yang menyanyi di depan mereka yang tidak menunjukkan antusias sama sekali sambil bergoyang up and down and shake shake shake. Dan saya terpaksa melakukannya, karena ia memaksa. Sungguh hari yang sial, pikirku saat itu.

Semenjak peristiwa Up and down tersebut, saya tidak marah padanya. Tapi, saya memutuskan untuk tidak menemaninya lagi. Toh pada saat itu kami bertiga di dalam kelas, tapi mengapa yang dipaksa saya sendiri?

Selama kami PPL, banyak hal yang terjadi. Juga sempat, secara tidak langsung ada yang membuat Ivy tidak senang dengan salah satu rekan kami.

Saya dan Ivy bertemu di jembatan kecil di antara kolam ikan. Tidak sengaja, kami saling berkeluh kesah dan menemukan titik persamaan. Saya mulai mengenal Ivy lebih dekat. Selain cerdas, ia juga menyenangkan. Meskipun kadang hal yang lucu menurutnya tidak lucu menurutku. Tetapi saat itu Ivy cukup banyak memotivasi saya yang sangat bosan kuliah.

Setelah PPL, kami jadi lebih akrab. Banyak yang heran di fakultas. Termasuk beberapa teman dekat saya yang selalu nongkrong dulu. Unbelievable! Setelah lama hilang dari peredaran, tiba - tiba saya berteman dengan Ivy?

But, yah... Begitulah hidup! Kadang kita tidak sadar selalu menilai seseorang dari penampilannya saja. Berteman itu karena kita hidup dan membutuhkan teman. Bersahabat, bukan karena materi ataupun kepentingan sosial... Tetapi karena kita merasa nyaman dan percaya dialah orang baik yang bisa menerima kita apa adanya dan ada di situasi apapun.

And you know what?? Sekarang jilbabnya sudah tidak terlalu 'turun' menutupi alisnya lagi.

Thank you for being my best friend, Ivy.

Adelia Returns

September 2013.

Malam itu aku membuka album Facebook salah satu guru di sekolah tempatku mengajar. Yang ingin kulihat hanya foto - foto murid saja. Tiba - tiba aku menemukan foto seorang anak yang sudah lama tidak nampak, ia duduk bersama teman - temannya di kelas Beginner, seangkatan dengan Jessica Jordyn, Vincent and friends.

Sungguh, foto lama yang akhirnya membuatku bertanya, kemanakah anak ini berada? Sudah lama tidak nampak di sekolah.

Keesokan harinya berjalan seperti biasa. Tidak pernah sempat bertanya pada mantan gurunya. Hingga suatu pagi, aku berjalan menuju kelas Ms. Sita, tujuanku adalah mencari correction pen.

Beberapa murid tiba di kelas, Chloe dan Aurelia. Aku pun meninggalkan kelas setelah menyapa mereka yang disambut oleh Ms.Nina. Tujuanku adalah ke changing room.

Beberapa langkah meninggalkan kelas Ms. Masita, keningku tiba - tiba berkerut.

Bukannya anak ini yang sudah lama tidak kulihat? Ternyata dia masih ada? Tapi di kelasnya siapa?

Anak itu bermata besar, cantik dan imut - imut. Dia berjalan menuju ke? Kelas Ms. Masita?? Aku terus berjalan dengan tergesa - gesa karena harus stand-by di kelas. Setelah mengganti celana jeans, aku berencana untuk memberi tahu Ms. Masita, perihal yang kulihat tadi.

"Sita, kemana anak yang tadi menuju kesini?" tanyaku penasaran sambil mengecek absen yang tertempel di mading kelasnya.

"anak yang mana?" tanya Ms. Masita
"iya, dari tadi tidak ada anak yang masuk selain Chloe dan Aurelia." tukas Ms. Nina.

Aku sibuk menjelaskan pada Ms. Masita, siapa yang kumaksud.

"Masa sih kamu lupa muridmu dulu waktu Beginner?" desakku.
"Iya, lupa. Oh...! Iya iya iya, namanya Adel!" seru Ms. Masita.

Ms. Nina ikut penasaran, "tapi benar, disini tidak ada yang masuk selain tadi."

Aku menceritakan kembali kronologisnya. "Sumpah! Aku liat sendiri dia jalan menuju kesini sambil tenteng homework case!"

Ms. Masita dan Ms. Nina memandangku dengan serius bercampur paranoid. Maklum saja, cerita horor di sekolah bukan hal baru.

"Apa iya, arwahnya yang datang?" tanya Ms. Nina. Disambut heboh oleh Ms. Masita. "ih... Mungkin ada sesuatu yang terjadi dengan anak itu yah?" tambah Ms. Masita.

"Ntahlah, yang jelas, sudah lama nggak kedengaran kabarnya, kok tiba - tiba muncul?" kataku.

"Wah, kamu tau nggak anak itu punya kisah mengharukan. Tapi dia pintar banget! Mungkin ada sesuatu yang terjadi sampai dia muncul disini. Eww... Merinding!" ungkap Ms. Masita.

"ih, bulu kuduk jadi berdiri semua." ujar Ms. Nina.

---

Setelah heboh di kelas Ms. Masita, aku kembali ke kelasku. Sebelumnya aku juga sudah keliling di beberapa kelas tapi tidak menemukan anak itu. Di dalam daftar murid Pre-School juga tidak ada namanya. Kabar pun tidak ada, jadi apa benar?

Tiba - tiba Ms. Masita datang dengan tawa khasnya. Tertawa terbahak - bahak. Aku sedikit bingung tapi ikut tertawa melihatnya membawa seorang anak bermata indah dan kini sudah mulai besar.

Tidak ada kata - kata yang bisa menjelaskan kronologisnya. Tapi, kali ini memang aku sudah dibuat sakit perut karena tertawa mengingat kembali kata - kata Ms. Masita, "Mungkin arwahnya yang datang!"

Aku memeluk anak itu, rindu beberapa hari lalu terungkap sudah. Adelia telah kembali sekolah setelah setahun lamanya tidak hadir.

"Ternyata, kemarin Adel masuk sekolah lagi dan sekarang jadi muridnya Ms. Nurul." Terang Ms. Masita sambil tertawa.

Sabtu, 14 September 2013

The Story Behind My Eiffel Collection

First of all I'd like to say:

MERCI BEAUCOUP buat keluarga, kerabat, sahabat dan semua yang udah bantu ngumpulin my collection!

Well, starting from 2008 saya udah mulai suka bahasa Prancis. Sampai - sampai waktu itu dibelikan kamus sama 'teman'  ~(˘ε˘~)(~˘з˘)~ selain itu saya juga diwariskan kamus ama temen geng @Wewe' semasa SMP dulu. Latihan juga didukung karena dulu pernah dekat dengan someone from Mulhouse, France.

Belum kepikiran koleksi sih... But barang pertama yang saya punya itu gantungan kunci Eiffel from K'Nining Cono. Kisah lucunya adalah... Suatu hari beliau berjalan dari kos ke kampus. Ditengah jalan, beliau nemu gantungan kunci Eiffel. Semenjak tau saya sedang demam Prancis, dia pamerin gantungannya itu sampai akhirnya terpaksa beliau tukar dengan gantungan kunci Malaysia pemberian 'teman'ku hehehehe... Sayangnya, gantungan kunci Eiffel bersejarahnya udah patah.

Setelah graduation, akhir 2010 saya balik ke Makassar dan mulai bekerja di salah satu sekolah swasta. Disana saya ketemu guru - guru yang tau banget saya lagi demam all about Paris. Mereka juga membantu banget, loh!

Kalau 2008 saya baru mulai belajar sedikit bahasa, musik, dan cari tahu tentang sejarah dan life style Perancis... Di pertengahan tahun 2012 saya mulai niat koleksi. Meskipun jarang kepikiran karena sibuk, xixixixi...  Dan sampai hari ini koleksi saya masih sedikit. Nggak harus buru - buru juga, kapan ada kesempatan and mood baru hunting lagi.

Sekian dulu cerita saya hari ini. Next time I'll share again. Je t'aime, bonque...!

( ˘˘ﻬ(∩_∩)

-Poetry Spice-

Rindu yang Tak Lagi Merah Muda

Ntah kapan mulanya. Tapi kebersamaan yang dulunya selalu menjadi kerinduan merah muda yang bermekaran saat kita lama tak bertemu, kini buram sudah.

Layu, sebentar lagi berguguran. Mungkin rasa sayang masih tertanam di akarnya. Namun, peristiwa tusuk menusuk sungguh tak tertahankan lagi.

Lalu buat apa kita memutuskan menjadi satu, bila kesatuan itu tidak menyenangkan lagi?

Sebenarnya ada apa?
Apa yang salah?
Dimanakah solidaritas yang dulu kuat? Mengapa tak kutemukan lagi, ntah di benak maupun di otakku ini.

Bara api memang menyala - nyala sekarang, ntah nanti. Terlalu banyak ego, bukan ini yang kucari selama ini. Bukanlah persahabatan yang seperti ini.

"I don't like!!"
"Then why if I don't like?"
"Is there a problem officer??"

Bukankah berteman itu saling berbagi? Bukan ingin diakui "ter and ter" kemudian menjatuhkan yang lain. Menceritakan keburukan di belakang lalu menyindir. Lalu buat apa kita bersama bila yang terjadi seperti demikian?

Memperlihatkan sikap tidak tertarik, tidak antusias sama halnya dengan tidak menghargai. Atau mungkin ada dendam lama yang melatarbelakangi?? Sehingga caci dibalas caci. Sentimental dan keegoisan memetik habis bunga - bunga segar. Kebersamaan kita yang merah muda.

Apa untungnya kita berkumpul dalam satu taman bila dalam hati ada gejolak yang berbau busuk menari - nari, berserakan di ujung jenuh.

Sepertinya memang sudah tidak semerah dulu. Rindu yang tak lagi merah muda.

Sabtu, 03 Agustus 2013

Berakhir di Stasiun Kereta

"Menginginkan sesuatu secara berlebihan pasti akan menyisakan kehilangan yang dalam."

Semua teman sudah tahu, kali ini yang kuinginkan adalah sebuah pasmina bercorak kotak - kotak.

"Kotak - kotak? Yang seperti ini?"

Tanya salah satu penjual di pasar butung setelah saya, JM dan Marie berkeliling mencarinya.

"Oh, iya betul. Tapi apa masih ada yang bahannya lebih bagus?"

Tanyaku penasaran. Sungguh senang akhirnya sudah ada gambaran. Hanya saja, bertepuk pada kualitasnya. Oh no... I am not going to buy it!

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju MTC. Marie dan JM sibuk mencari aksesoris handphone. Kemudian melanjutkan pencarian "pasmina kotak - kotak."

Sudah berkeliling Karebosi Link tapi tidak ada satupun yang mengerti maksud kami. "kotak - kotak?"

Marie pun tak kalah penasarannya. Dikeluarkan ponsel dari tasnya. Ia memotret sebuah jepitan rambut bercorak kotak - kotak.

"Kalau kita sudah punya gambarnya, tidak sulit lagi."  jelas Marie.

Kaki yang pegal dan dahaga menyerang. Segera kami kembali ke MTC untuk menemani JM buka puasa.

---

Beberapa hari kemudian, saya menelusuri penjual onlineshop. Bertanya pada banyak akun onlineshop tapi tidak satupun yang menjualnya.

But I shall not surrender.

Saya menemukan gambar di Google, sekaligus brand tersebut.

"Oh, Burberry! Kenapa baru ngeh?! Itu kan seperti dompet mama oleh - oleh dari bosnya?"

Yah, perjuangan masih berlanjut. Saya pun menyimpan gambarnya agar kelak ke pusat perbelanjaan, tidak kesusahan menjelaskan.

Beberapa hari sebelum Bambini SMILE Competition bulan Mei 2012, JM menemani saya jalan - jalan ke MTC. Karena saya telah menemukan penjualnya kemarin tapi sayang uangnya tidak cukup.

"Masih ada yang lain, mbak?" tanyaku.
"Maaf, stoknya udah habis. Kalau mau tunggu saya carikan di toko bos saya yang lain"
"oke."

Beberapa menit kemudian, penjaga toko tersebut kembali dengan tangan kosong. Baiklah, meskipun ada satu helai benang yang mencuat, masih bisa digunting... tidak masalah pikirku.

Finally, saya pulang dengan senyum manis. Akan saya pakai pada saat lomba sekolah digelar hari jumat nanti.

---

Setelah membeli pasmina tersebut, saya sangat menjaganya. Tidak menggunakan peniti supaya bahannya tetap mulus. Saya menjadi tambah menyayanginya setelah tahu Romeo Beckham menjadi model brand Burberry. Secara Victoria Beckham is my Spice idol.

Bahkan pada saat saya, JM, Marie dan Ekha akan berlibur pun pasmina itu masuk dalam daftar barang yang akan dipakai nanti di liburan Fantastic 4 tanggal 27 Desember 2012.

Hari terakhir di Jogja, tanggal 30 Desember 2012, kami masih sibuk belanja. Sebelum berkemas kami sempatkan belanja di Mirota Batik. Sesuai rencana, kami harus beli coklat Monggo. Dengan mengenakan pasmina tersebut, saya dan JM tersenyum sambil memegang coklat didepan kamera Marie.

1 2 3 cheers....!

Jogja, 31 Desember 2013. Misi kami berempat selesai. Saatnya berangkat ke stasiun tujuan Surabaya.

Cuaca sangat dingin. Hujan masih mengguyur Jogja di malam tahun baru, tanpa jaket. Saya menenteng pasmina Burberry kesayangan saya yang cukup tebal, jaga - jaga nanti kedinginan.

Lama menunggu, kami melanjutkan hunting di Malioboro sekaligus melihat kembang api yang meledak - ledak diantara gerimis. Setelah lepas tahun 2012, kami kembali ke stasiun kereta menuju Surabaya dan pulang ke Makassar dari Juanda.

---

Makassar dengan rintik hujan sungguh membawa kerinduan pada Jogjakarta.

Saatnya bongkar tas dalam kamar saya yang berwarna ungu. Semua sudah keluar. Tapi ada yang hilang...

Kemana pasmina Burberry kesayanganku?? Oh No!!

Kutanya pada JM, Ekha dan Marie. Mereka juga tidak menemukannya dalam barang bawaan mereka. God...! I lost it at the train station.

---

Well, apapun itu kadang kita harus mengikhlaskan sesuatu yang telah kita perjuangkan. Karena segala sesuatu tidak ada yang abadi.

Sebulan setelah liburan, Fantastic 4 kembali bertemu dan karaokean. Satu lagu persembahan Ekha untuk Marieta...

Tunggulah aku... Di Jakartamu...

"tunggu! Bukannya itu pasmina kamu yang hilang?" seru Marie menunjuk video klip Sheila on 7 di stasiun kereta api di Jogja. Seorang gadis memakai scarft bercorak Burberry. Sungguh kebetulan yang luar biasa.

Kami tertawa, mungkin itulah jawabannya... Pasmina itu tercecer di stasiun. Semoga saya bisa mendapat penggantinya, insyaAllah :)

Minggu, 28 April 2013

Have You Ever?

Have you ever been in love so deep but he doesn't feel the same?

The worst feeling you get. More than pain, cry for a wrong reason.

But the question is...

"How to control your heart not to fall in love with a wrong person?"

Who can answer? please tell me... since my brain can't work good when I fall in love.

Jumat, 26 April 2013

Gum! [Monolog sayembara Gagas Media 100 kata]

Dua puluh detik lalu, saat mentari senja berbisik, ia menyebut namamu.

"Sudahlah, jangan ingat lagi masa itu." Tapi, senja kali ini hening membawaku padamu.

Sore setelah selasai kuliah, aku melihatmu diseberang dan kau pun melihatku. Kita tersenyum penuh arti. Dibalik pagar fakultas kita masing - masing, kita berlari seolah kau dan aku sudah lama tidak bertemu. Padahal itu baru dua hari yang lalu, bukan?

Kau berseru, "hey! gum!" akupun tak kalah serunya, "Gum!"

Dulu, selalu begitu. Sebelum persahabatan kita berubah menjadi cinta, kemudian merubahnya menjadi sebuah jarak yang lebih jauh. Jarak yang tidak mungkin kita seberangi lagi saat senja berbias, Gum!

Minggu, 14 April 2013

Merah dan Jingga

Warnamu Merah, tetapi sebagian orang kurang teliti menyebutmu Jingga.

Ya, itu bukan kau.

"Bukan"

Kau mengelak, selanjutnya kau hanya diam membiarkan sebutan itu terngiang - ngiang lagi di lorong telingamu. Hingga akhirnya kau kesal dan menjauhinya.

Kembali pada saat Jingga terlupakan. Ledakanmu tercetus halus namun begitu menusuk hingga berlubang ke dalam hatinya.

Mungkin dia tidak mengenal Jingga, namun itulah dendam Merah.

Malam, dengan cahaya merah di ujung jalan pulang.

---

Hari kedua setelah Jingga terlupakan.

Ada sepotong baugette di atas piring putih. Rupanya sedari tadi tuan besar cacing sudah banyak komplain dalam perutmu. Namun, saat kau berdiri di hadapan roti yang kau beli kemarin, kau hanya diam dan mengernyitkan keningmu.

Sekelompok semut sedang merampok jatah makan siangmu. Si tuan cacing enggan berkompromi, ia bukan hanya memaki - maki tetapi juga membuat perutmu perih.

Engkau pun bertindak dan tidak kusangka kau melahap baugette setelah memotong roti tersebut menjadi dua bagian dan mengusir sebagian semut yang tersesat kehilangan arah.

Saat itu, kau menunjukkan sesuatu yang berbeda. Bukan hal bodoh, tetapi kasih sayang pada sekelompok makhluk kecil itu.

Siang itu, merahmu berbentuk menjadi hati.

---

"Selamat malam, Reyna. Kau harus istirahat." Kata Dorothee kemudian mengecup kening Reyna.

Gadis itu hanya diam lalu melambaikan tangannya ketika sahabatnya itu kembali memastikan Reyna menghentikan ketikannya, dan berbalik ke arah pintu kamar Reyna lalu pulang ke rumahnya.

Disibakkannya rambut lurus nan hitam miliknya. Tangan kanannya meraba pipi kiri dan perban yang membalut wajahnya.

Tangisannya dalam hati, ia belum bisa tidur. Sudah pukul 11:59 malam. Kejadian terakhir sebelum ia menjadi penghuni rumah sakit terputar kembali dan berulang - ulang hingga ia membawanya ke dalam mimpi dan terbangun.

---

Matanya melirik jam dinding, 12:02 AM. Ia terbangun karena dering telepon. Matanya setengah terbuka.

Joseph memanggil.

Layar ponselnya berkedip - kedip. "Halo?" suara Reyna dijawabnya singkat, "temui aku di bawah. Lantai 1, di samping tangga darurat." Sambungan telepon terputus.

"Gila! jam berapa ini?" gumamnya setengah ngantuk dan seperempat kesal.

Andai saja bukan Joseph yang meminta, ia tidak akan turun.

"Reyna?" tegur Joseph. Lelaki berdada bidang di samping tangga menghampiri Reyna dan memeluknya. "Jangan katakan pada siapapun aku menemuimu disini." Bisiknya membuat Reyna mengangguk.

Mereka berdua berjalan menuju kamar Reyna.

"Kau merasa kesepian?" tanya Joseph. Reyna menggelengkan kepalanya lagi. Matanya lurus memandang Joseph penuh rindu.

Bibir tipis Joseph merekah. Begitu damai dan manis. "Kau akan baik - baik saja disini. Tidurlah!"

Reyna meraih tangan hangat Joseph. "Kau tetap disini, bukan?" kemudian menunggu jawaban Joseph. "Temani aku." Lanjut Reyna.

Joseph membaringkan Reyna dan dengan lembut merapikan selimutnya. Tidak ada suara selain kecupan dari bibir Joseph, tepat di kening Reyna.

---

Reyna selalu tidak bisa menebak Joseph, ketika matahari memancarkan cahaya pagi, yang terjadi adalah menemukan dirinya sendiri lagi.

"Joseph?"

Tidak ada jawaban. Ponselnya pun sulit dihubungi.

~(˘ε˘~) Bersambung (~˘з˘)~

Kamis, 11 April 2013

Kalau Dia Aku? [Viction Short Story]

Gadis itu bercermin sambil mengutarakan kekecewaannya.

"Aku tahu dia mencintaimu, tapi ingat aku juga begitu."

Air matanya berjatuhan dari sudut - sudut matanya, mata yang kata lelaki itu indah dan membuatnya jatuh cinta. Tapi itu dulu. Sebelum ia mengetahui ada perempuan lain yang menyelipkan surat cinta di dalam agenda Tom saat ia selesai mengajar di sekolah menengah atas, tempatnya bekerja.

"Sungguh, mati itu jauh lebih bahagia daripada hidup menderita."

Kata - kata gadis itu untuk Tom dalam suratnya, menggema di relung hati April. Berulang - ulang hingga ia meringis.

"April, kau tau dia sering menemuiku diam - diam. Lalu mengapa kau masih saja mempertahankannya?"

Sore nan mendung saat seorang remaja belia yang cukup percaya diri seolah menamparnya dengan pertanyaan itu.

"Kalau kau jadi aku, tidakkah kau malu membatalkan undangan pernikahan hanya karena perselingkuhan kalian?" Balas April sedikit menaikkan intonasinya.

Ia menatap lawan bicaranya dengan tatapan penuh dengki, menunggu jawabannya namun yang ia dapat hanya pekikan sinis. Lalu remaja bernama Anti itu meninggalkan April.

---

Lampu redup, air matanya masih mengalir. Ia sama sekali tidak bisa berhenti mengingat kembali perlakuan tunangannya, juga perempuan itu.

"Dimana Tuhan?"

"Mengapa ini terjadi padaku?"

Dadanya semakin sesak. Yang di hadapannya adalah malu dan sakit hati ketika pria yang telah meyakinkannya untuk menikah malah lebih memilih untuk pergi, entah kemana.

---

"Bagaimana aku menghadapi orang tua dan menjawab pertanyaan - pertanyaan rekan kerja, juga sanak famili, apakah harus kusaksikan wajah ayah dan ibu tertunduk karena malu?"

April meluapkan emosinya saat ia menemui tunangannya yang baru saja pulang dari persembunyiannya.

Di ruang tamu, lelaki itu kehilangan kata - kata. Tangannya berkeringat dan hatinya tercabik - cabik melihat April. Rasa kasihan juga menerpanya mengingat Anti sedang mengandung anaknya.

Ia berusaha menjelaskan, dengan suara yang serak nyaris tak terdengar. "Lalu aku harus bagaimana?"

April lemas tak berdaya mendengarnya. Andai saja ia tidak mencintai lelaki di hadapannya itu mungkin rasanya tak sesakit itu. Pilu, bagaikan beling - beling yang tertancap di jantungnya.

"Kau tau apa yang harus kau lakukan, Tom. Tapi kau harus menebus semuanya nanti, suatu saat!"

April meninggalkan rumah Tom dengan isak tangis, ia pun berlari mencari taksi.

"Aku ingin pulang. Kali ini benar - benar pulang."

---

Gadis berambut pendek itu menancapkan kunci dan membuka pintu rumahnya.

Cermin di kamarnya menguraikan kemalangan nasibnya. Pikirannya melayang - layang. Wajah ayah, ibu, kakak, sahabat - sahabat, para tetangga dan kemudian wajah Tom bersama Anti silih berganti.

"Pilih malu atau mati?"

"malu!"
"mati!"
"tidak! malu!"
"mati!"
"malu! malu! malu! malu!"

Pertengkaran dalam batin membakar sumbu khilafnya hingga keubun - ubun.

Ia meneguk racun tikus dan setelah itu melemparnya dengan kesal, diraihnya lagi sebotol obat nyamuk meski dadanya mulai terasa panas dan kepalanya seperti gasing yang diputar - putar. Satu teguk. Perutnya melilit - lilit, dari mulutnya keluar busa dan ia tergeletak.

Entah berapa menit ia tak sadar. Matanya terbuka dan aroma obat nyamuk masih bertebaran. Kepalanya pusing semopoyongan. Ia berusaha bangkit, namun badannya terasa berat. Ia bersikukuh, terus berusaha dan kemudian ia berhasil duduk dan berdiri.

Rasanya dingin dan tiba - tiba tubuhnya ringan seperti melayang di udara. Timbul keinginan untuk berbalik, ia menengok kebelakang dan mendapati dirinya tergeletak kaku.

Matanya membelalak menyaksikan dirinya sendiri. "Kalau gadis itu diriku, lalu aku sedang apa?"

-The End-

#Hidup dan mati itu sudah diatur oleh Tuhan. Seburuk apapun masalah yang kita hadapi, semalu apapun itu, yakinlah... Tuhan selalu adil dalam memperlakukan ummatNya. Katakan "TIDAK" untuk bunuh diri.

Senin, 08 April 2013

The Same Questions Have Gone Part II


"Sudahlah, let me do it." kataku pasrah.

Sikapnya pun aneh, ia terlihat kasar saat bekerja. Suasana kelas yang hening menjadi ribut dengan bunyi gunting yang terbanting, pelubang kertas yang jatuh di lantai. Oh, membuatku terngganggu saat mengisi report book. Tapi aku hanya diam, walau kesal melihat tingkahnya.

---

Hari itupun berlalu. Kulangkahkan kaki ku pagi ini di kelas. "Good morning miss, I've been waiting for you since long time!" Sapaku ingin mencairkan suasana. Ia hanya tersenyum dan berkata, "you know? maybe tomorrow is my last day. I want to resign." Katanya membuatku tercengang.

"Hah? kenapa? Apa ada kerjaan baru, atau miss tidak merasa nyaman dengan saya?" tanyaku.

"No, miss. As I always say to you. You are good, Bagiku miss sangat dewasa dibanding yang lain. Miss, sudah tau kan? saya selalu bilang saya merasa tidak nyaman disini dan tidak bisa berbaur. Saya tidak suka gosip dan making group. Sementara saya lihat dari atas sampai lantai 2, seperti itu."

Aku masih diam tidak percaya ternyata dia betul - betul tidak tahan lagi.

"Lagian ada yang nawarin kerja di luar kota. Awalnya masih ragu sih, tapi kayaknya I wanna quit."

"Oh, miss... I feel sorry. Hm, so have you sent the letter?"

Ia menggeleng dan bertanya bagaimana cara membuatnya? Tapi aku menggelengkan kepala. "I never type that kind of letter."

---

Suasana di kelas berubah. Aku merasa akan kehilangan, walau dulu aku bersikeras ingin  berpisah di term depan. Ia juga terlihat sedih. Kami tidak banyak bicara selain mengajar murid - murid.

"Friends... my lovely kids, do you know miss Ester will move. You will not meet miss Ester anymore." Tiba - tiba lampu padam. Suasana remang - remang. Sedikit cahaya dari balik jendela putih yang berhadapan miss Ester.

Serentak anak - anak heboh karena lampu padam.

"Ssttt... it's Ok, dear! by the way please say to miss Ester 'We will miss you, miss Ester,' and then shake miss Ester's hand, ok?" kataku pada anak - anak.

Meski gedung sekolah sebagian gelap, namun masih bisa melihat mata miss Ester yang berkaca - kaca. Aku tidak ingin hari terakhirnya bersama anak - anak berlangsung haru.

Dengan menyembunyikan rasa sedih aku bercanda pada anak - anak hingga mereka tertawa. Senyum miss Ester merekah. Sorot kelam masih menempel, aku terpukul mengingat kata - katanya dulu bahwa akulah satu - satunya guru yang dekat dengannya. Sementara aku tidak bisa sabar membimbingnya dan sering mengeluh pada JM.

---

Besok report day. Semua sudah rampung. Setelah makan siang, miss Ester memberitahu bahwa ia menunggu kabar dari bawah sebab ia telah memberikan surat pengunduran dirinya.

Entah apa yang telah terjadi, tapi menurut salah satu guru, ada seorang guru yang dipanggil atasan dan menanyakan kinerja miss Ester yang kebetulan mereka satu tim di kelas siang.

Saat itu aku sempat menyesali, mengapa saat kinerjanya sudah mulai baik, ia masih mendapat teguran? apa karena? Ah, aku berhenti berpikiran buruk. Namun bukankah aku telah memberitahu pada koordinator bahwa kinerjanya mulai bagus dan tidak masalah bila ia tetap jadi partnerku?

Apa boleh buat. Aku dan miss Ester masih asyik berbincang dan belum sempat bersalaman atau sekedar berbagi alamar email, telepon dari atasan ditujukan padaku untuk memberi kabar tentang pengunduran diri miss Ester.

Saat aku kembali di kelas, miss Ester telah pulang lebih awal dari biasanya. Ia pergi meninggalkan sejuta tanya untukku dan ia pergi membawa pertanyaan - pertanyaannya jauh. Tidak akan ada lagi pertanyaan yang sama darinya untukku seperti biasa. Juga, tidak ada pula sapaan hangat tiap pagi yang menjadi kebiasaannya...

"Miss... Good morning, I've been waiting for you."

-The End-

The Same Questions Have Gone Part I

Pagi itu aku berjalan santai memasuki kelas. Dalam benak selalu bertanya - tanya bagaimanakah rupa partner kerjaku yang baru.

Sebelum masuk ke kelas, terlihat seseorang perempuan bertubuh tinggi besar dan rambutnya panjang tebal kecokelatan.

"Hi, how do you do?" Sapanya mengulurkan tangan padaku. Ia tersenyum ramah, terlihat jelas kepercayaan dirinya terpancar dari potongan wajahnya yang cantik.

"Ester." Kami berkenalan. Meski sebelumnya aku telah diwanti - wanti oleh kepala sekolah supaya aku tidak boleh diam saja- maksudnya, diam saat seseorang yang agresif lebih mendominasi atau membuatku terlihat lemah.

"Nice to meet you." Kataku dan tersenyum lalu duduk di kursi. Setelah itu aku mulai memperkenalkan diri dan menjelaskan secara singkat tugasnya sebagai asisten guru.

Sebelumnya aku sudah dengar, bahwa ia fasih bercakap bahasa Inggris. Terbukti saat aku mendengarnya sendiri. Senang, akhirnya aku mendapatkan partner yang bisa diandalkan untuk membantuku mengejar target.

---

Seminggu telah berlalu. Entah apa yang sebenarnya terjadi; canggung atau masih bingung karena dia masih baru. Tapi apa iya, ada yang sulit mengenal orang baru?

"I'm sorry because I don't know the teachers' name here. It's difficult to me to recognize them." Akunya padaku setelah makan siang.

"Oh? it's okay. You're new. So, all you need is try to be close with them." Jawabku.

Ester yang ramah dan sopan namun tertutup. Ia sangat rajin, kadang pelupa. Kuanggap itu hal biasa. Karena aku juga pernah menjadi guru baru seperti dia. Yang dibutuhkannya adalah beradaptasi.

---

Selang satu bulan lebih, aku yang sibuk mempersiapkan event besar sangat tidak sabar menghadapi Ester.

"Kenapa?" tanya JM sahabatku.

Lalu kujelaskan bahwa selama ini Ester selalu mempertanyakan hal yang sama berulang - ulang.

"Itu membuatku bosan!" keluhku kemudian menceritakan kronologis kekacauan kelas.

"Aku capek! rasanya aku yang kerja sendiri. Sementara aku harus bersabar dan mengerti posisinya sebagai guru baru." lanjutku panjang lebar.

"Ya sudah, Put... kamu tulis saja tugas - tugasnya di secarik kertas dan tempel di mading kelasmu. Beres."

Ide itu pula yang juga melayang - layang dalam otakku. Kemudian kuketik jadwal belajar kelasku dan beberapa tips.

---

"I heard you keep asking some teachers about our class' projects and schedule." Kataku dengan tenang seperti biasa kalau menghadapinya.

"who said?" tanya Ester. "Some teachers told me." jawabku dan menyimpan proposal dalam rak buku dekat meja kerjaku.

"Tell me who are they?" Ester memburu jawabanku. Tapi aku tidak bermaksud untuk mengadu domba.

"Some of them, and I think so. Because you always ask me what you have asked many times. I'm sorry for saying these, miss. But this is for you. I hope it will help you." Jelasku lalu menyodorkan dua lembar kertas berisi jadwal dan tips.

"Okay. Thank you."

Kulihat wajahnya sedikit kesal bercampur sedih, dengan terpaksa namun tetap sopan ia menerimanya.

Aku memang sering dibuatnya kesal bila ia hanya bengong ketika anak - anak usia 4 tahun di kelas kami tidak terkontrol. Maklumlah, anak pre-school mana ada yang kalem semua? Kalau bukan ada yang lari, pasti bersahut - sahutan sambil bercanda.

Aku kerap menerima komplain dari orang tua. Bahkan yang paling parah saat aku benar - benar sakit kepala dan tidak hadir, terjadi kecelakan ringan. Salah satu murid kami yang kuku kakinya panjang, tanpa sengaja menggores kaki si kecil Joseph.

Dua hari berturut - turut ibunya marah besar. Biasalah, di sekolah kami sangat menomorsatukan kualitas dan kenyamanan orang tua murid. Sehingga pelayanan sekolah harus sangat sempurna pada orang tua murid.

Siang itu, rasanya seperti dicabik - cabik saat mendengar kata - kata ibu Joseph. Bagiku, sebab saat terjadi aku tidak hadir dan kecelakaan kedua anak tampan dan mungil itu terpleset.

"Oh my God! I am really really really sick! kenapa sih, miss Ester tidak mengerti juga kalau menangani kelas Pre-K itu harus cekatan dan punya inisiatif. Kalau tidak peka, bisa - bisa aku tinggal tulang terbungkus kulit!" Kali ini aku mengeluh lagi pada JM.

"Hmmm, mungkin pikirannya sedang tidak konsen atau sulit baginya menyesuaikan diri." Timpal JM.

"Tadi siang, rasanya pengen jewer kupingnya. Tapi dia kan lebih tua dari aku, JM. Pokoknya aku pengen term depan ganti partner. Kalau begini tiap hari bisa gawat. Aku juga rasanya kehilangan kesabaran kalau ditanya berulang - ulang hal - hal yang udah kujelasin."

"Sabar... sabar... berdoa saja semoga next term dapat partner yang lebih baik.Kalaupun tetap dia, semoga dia jauh lebih baik."

---

Dua bulan kemudian, walau masih bertanya meski terlihat sangat segan bertanya, Ester sedikit curhat tentang dirinya.

Sejenak, hatiku berdesir. Rasanya selama ini aku kurang bijaksana menghadapinya. Akupun mulai luluh dan kami sering bercanda. Walau tetap saja, Ester tidak senang membahas masalah pribadinya.

"Do you know miss Ester? you look like Geri Halliwell. Ginger Spice." Kataku sambil memperlihatkan foto - foto Spice Girls.

Ia melihat dan tersipu malu. "Hm, no. I don't think so." kilahnya tersenyum, mata cokelatnya masih melihat - lihat koleksiku. "I only know the blondy one." Ester menunjuk  Baby Spice. "Ow, that's Emma." kataku.

Kami berdua rasanya seperti dua orang guru yang saling menjaga perasaan. Walau mungkin saja dalam hatinya ia juga kesal dengan sikapku yang terkadang dingin bila banyak hal yang harus aku kerjakan sementara suasana kelas berantakan.

---

Hampir tiap malam aku terganggu dan mengeluh dengan kinerja Ester. Hingga suatu hari aku bertanya pada Koordinator guru.

"Kira - kira next term siapa partnerku?"

Awalnya beliau tidak ingin menjawab, tapi akhirnya ia mengisyaratkan bahwa aku masih dipasangkan dengan Ester.

Telingaku bagai mendengar gelegar guntur. Kilat menyambar - nyambar, gelas - gelas kaca berjatuhan.

"Oh, no...!!!"

Kuceritakan pada JM dan bagai orang frustasi aku tidak hentinya berbicara dan menceritakan betapa hatiku serba salah tiap kali ingin marah, tapi harus tetap menjaga perasaannya, agar tidak terkesan mengintimidasi.

"Tapi apa aku harus begini terus?"

JM membisu, kehabisan kata - kata. Kami terdiam dalam ruang obrolan Whatsapp.

---

Setelah menyerah karena hal yang mustahil membujuk koordinator yang sudah angkat tangan sebelum aku minta tolong untuk memberi training pada guru - guru baru.

Sambil menghela nafas, aku berusaha sabar dan tidak memperumit. Setelah makan siang, aku mulai bercanda dengannya dan memberi tips dan cara menjelaskan pelajaran.

Satu per satu guru yang lewat depan kelas kami sempat meledek dengan jenaka. Tapi aku dan Ester tetap serius dalam diskusi kami. Ini demi kenyamanan bersama, khususnya untuk next term.

"I think it's enough, miss." Pinta Ester. "I get headache if I receive too many subjects." Terangnya.

Aku tersenyum dan berdoa untuk kedepannya bisa lebih baik.

---

Seminggu berlalu, untuk kesekian kali ia bertanya bagaimana kinerjanya. Biasanya aku hanya menjawab. "Not bad, because you're still new. You have to be proud. You are smart miss, and beautiful. But sometimes, you look confuse with many things." Kataku.

Pandangannya lurus padaku. Sedikit mengakui kelemahannya, ia berkata bahwa ia masih bingung dan kadang tidak tau harus berbuat apa. Ia juga mengakui bahwa ia pelupa.

Sifatku yang ceplas - ceplos, sedikit tidak menjaga perasaannya. Aku menyarankannya untuk meminum vitamin agar stamina otaknya fit. Karena bagiku dan kebanyakan guru lain, Ester benar - benar pelupa.

"I have bought Chinesse pill for brain." Katanya membuatku kaget dan sedikit menyesal telah menyusahkannya. Mungkin ia berfikir keras agar bisa menguasai medan. Seperti katanya, "I want everthing can go fast."

Aku menatapnya tanpa kata - kata. Sudah kuberi tahu, semua butuh proses dan tidak perlu khawatir berlebihan. Bekerja dengan santai tapi pasti. Pun aku berkata padanya, "Don't worry. You are getting better. You look happy and I feel good to see you have a great job" jelasku membuatnya tersenyum.

Tidak disangka, setelah asyik berdiskusi aku mendapatkan alasan mengapa ia terlihat bahagia. Rupanya sebentar lagi ulang tahunnya. Tanggal 21 Maret.

---

Selang beberapa hari, tepat pada hari ulang tahunnya, aku berniat untuk bercanda. "Hi miss... so how old are you now?"

Namun ia menjawabku dengan singkat dan terkesan dingin. "It's a secret, do not tell anyone about this day." Lalu ia pergi meninggalkan kelas.

"Oh, sungguh tidak bersahabat!" gumamku. Kadang Ester memang sulit ditebak, makanya sebagian besar guru - guru segan bersenda - gurau dengannya. Takut dijawab dengan singkat dan menyisakan tanda tanya, sebab ia sangat tertutup.

---

Akhir term telah tiba, kami sibuk mempersiapkan report day yang tinggal beberapa hari lagi. Seperti biasa, Ester selalu membuatku terdesak untuk melakukan sesuatu saking inginnya ia bergerak cepat. Tapi, sayangnya saat tugas telah dibagi, ia malah kebingungan dan stress sendiri.

"Sudahlah, let me do it."

Sabtu, 06 April 2013

Friendship Tips

God gives us special people to love and special times to let them know how much we do. Meskipun orang bijak mengatakan "Bersosialisasilah pada semua orang," but nggak bisa dipungkiri... tidak semua orang itu punya persepsi yang sama. So, that's why sering banget kita dengar sebuah grup ataupun geng. Nah, kali ini Spice pengen share tips buat adik - adik ABG and friends yang pengen tau apa sih, tips - tips biar geng lebih keren... check them out, friends!

☆ KOMPAK.

Perlu banget cuz ini modal utama kalau mau langgeng.

☆ COCOK.

Satu selera cuz ini yang bisa bikin kompak.

☆ JUJUR.

Jadi nggak perlu terjadi teman makan teman.

☆ NGGAK Sombong & Belagu.

Karena diluar geng kita bisa baur dengan yang lain. Nggak ada seorang pun yang senang dikasarin, kan??

☆ SMART

Dari bergaul bareng kita juga bisa saling tukar info buat tambah wawasan.

☆ SHARING

Sedih senang selalu berbagi. Bantuin yang lagi susah. Take n' give dengan natural.

Friendship Never End (∩_∩) (^_^)ε^)

Minggu, 24 Maret 2013

The Beautiful Songkolo Bandang

Tik... tik... tik...

Pukul 12:30 dini hari berdetik meniupkan wangi akhir pekan yang mulai tercium.

Aku terbangun, sejenak me-restart otak. Jumat baru saja berlalu. Ntah mengapa bola mataku tiba - tiba memandang sebuah kalender yang tergantung di tembok.

Pandanganku pun berubah nanar mengingat isi dompet. Tanggal dua puluh tiga, bukan kali pertama isi dompet sekarat.

Pandangan mata pun berpaling ke arah rak buku. Deretan novel kedengarannya sedang berteriak - teriak, "pengen teman baru... pengen teman baru...!"

Kututup telingaku lalu beranjak ke ruang makan dan memutar siaran di salah satu stasiun TV. Sayangnya, jagoan saya sudah tampil sedari tadi.

Jarum jam terus berjalan, sebentar lagi pagi. Saya tidur dulu.

---

Pukul 7:00 pagi saya dibangunkan oleh suara ibu.
"Songkolo bandang!"

Sudah lama tidak makan kue lezat berwarna hijau tersebut. Saya segera bangun, cuci muka, sikat gigi dan ganti baju. Lalu cepat - cepat mendaratkan tangan kanan pada salah satu kue tradisional kesukaanku.

"Alhamdulillah, nikmat!"

(⌒˛⌒)

Bersyukur, kita memang harus bersyukur. Bukan Uyha Suryadi anaknya pak Syukur! xixixi *just kidding

Well...

Happiness starts with bismillah, for the simple thing... then ended by great things and alhamdulillah.


Senin, 18 Maret 2013

Making A Posh Fairy Black Blanket

It's been so long time... I planned to have a blanket diary. And... finally I have done (ง ‾o‾)ง

Awalnya, saya pernah coba order pada pengrajin flannel, tapi sayangnya mengalami berbagai penolakan order dengan alasan: terlalu sulit.

Kemudian seorang sahabat membuka ladang inspirasi saya dengan meminta saya untuk menemaninya berbelanja bahan - bahan jahit di salah satu toko tua di Makassar. Alhasil, ide saya bermunculan dan juga ikut membeli beberapa bahan seperti:

- Kain flannel
- Benang sulam
- Dacron
- Tali

Dari keempat bahan itu saya mulai membuat kalung Spice tanpa menggambar pola terlebih dahulu karena kekurangan alat dan bahan. Saya hanya mengandalkan gunting dan imajinasi.

Melihat hasil yang tidak buruk, saya iseng - iseng menggunting pola dan tujuan saya adalah membuat Posh Spice fairy. Setelah menggunting pola, saya berfikir untuk menggunting bagian wajah, tapi terlalu sulit karena ukurannya yang kecil.

Beberapa menit kemudian, saya berinisiatif menyulam mata dengan benang jahit biasa berwarna hitam dan hasilnya cukup memuaskan. Menyusul setelahnya; alis, mata dan bibir. Lalu saya menggunting sedikit kain flannel untuk hidungnya.

Tadaaa...! Waktu itu saya makin bersemangat hingga tak kenal lelah menyelesaikannya. Di hari berikutnya setelah selesai menggunting pola tubuh, saya juga menyulam sayap putihnya dengan benang dan payet. Selesailah Posh Fairy saya.

Weekend telah selesai, saya mulai beraktifitas dan kembali pada weekend selanjutnya. Saya putuskan membuat blanket diary. Kebetulan, setelah saya dan ibu membeli beberapa macam jarum dan payet, kami singgah di sebuah toko buku yang ternyata saya mendapatkan banyak buku tulis import yang kertasnya berkualitas dan murah meriah!

Saya hampir kalap, rasanya ingin membeli semuanya xixixixixi... Rp.10,000 untuk 1 diary. Melihat korcek, akhirnya saya hanya membeli 2 saja.

Kedua buku tersebut saya gabung dan membungkusnya dengan kertas kado. Lalu, mulai membuat blanket dan menempel Posh fairy. Tidak lupa menambahkan payet sebagai pemanis pada bagian dalam blanket dan menutupi jahitan yang kurang rapi.

Hasil yang memuaskan yaitu ketika kita bisa berkarya dan tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk mendapatkan barang berkualitas bagus. Selamat berkarya.





Minggu, 17 Februari 2013

Shine Like a Diamond



Sorot matanya tampak sinis kala itu. Kata seorang teman, “tidak mudah mendapatkan hatinya.” Ia adalah seorang Koordinator guru. Rabu, 9 Februari 2011 aku membenarkan informasi seorang teman yang pernah mengajar di sekolah itu. Aku sendiri lebih banyak diam, semua sibuk dengan kegiatan harian mereka dan untuk pertama kali aku melihat mereka tapi sebagian besar dari mereka yang namanya tidak asing lagi bagiku, ada beberapa yang harus kuhindari dan aku harus waspada, katanya: DANGEROUS.

Salah satunya adalah sang Koordinator yang bernama Sheena. Tubuhnya kurus, tinggi badannya sekitar 164cm. Selain disiplin, ia juga terkenal teliti dan disegani banyak guru karena kedisplinannya dan sifatnya perfectionist

“Miss Emma, disini asisten guru biasa dipanggil partner, harus membantu guru senior atau biasa disebut Leader. Setelah makan, pekerjaan inti seorang partner adalah penyerut pensil, membundel lembar kerja siswa atau project, merapikan mainan di kelas, atau membantu guru lain yang mempersiapkan hasta karya atau kami menyebutnya Art and Craft.” Jelas seorang guru yang masa kerjanya masih seumur jagung di sekolah itu. Namanya Arni.

Namun sayangnya aku terpksa harus gigit jari karena masih dalam tahap percobaan dan karena baru saja masuk di pertengahanTerm, sehingga untuk sementara aku hanya bertugas sebagai guru pengganti dan sialnya aku ditempatkan di kelas Miss Sheena. Ia ditemani Miss Rianti, yang  ramah namun tidak ingin diganggu pekerjaannya. Ia tampak cekatan dan tidak ingin terlihat lalai dalam menjalankan tugas dihadapan Miss Sheena. Aku, hanya kebagian tugas menyerut 6 set pensil warna. Aku menyerut sambil bergabung dengan beberapa guru baru sembari mendengar cerita - cerita mereka. Dan, selesai juga tugasku. Segera kukembalikan di tempatnya semula.

***



Pagi yang masih dengan suasana baru bagiku. Tidak bisa dipungkiri suasana hatiku masih kurang baik sejak penghujung tahun 2010 lalu, aku baru saja dikhianati oleh seseorang. Aku adalah lulusan pendidikan bahasa Inggris yang masih fresh graduated, namun wajahku tidak sesegar gelar sarjanaku. Masih diselimuti kesedihan dan sedikit kebencian pada si penghianat tersebut.

Aku hendak memasuki kelas untuk mengambil sesuatu dan... memergoki Miss Sheena menyerut kembali pensil warna yang kemarin sudah kukerjakan. Kuperhatikan wajahnya kurang senang, tidak ada suara terdengar dari bibirnya namun hatiku mendengar dengan jelas betapa ia kurang puas dengan hasil kerjaku. Apa boleh buat, aku berusaha tetap berfikiran positif. Resiko menjadi partner seseorang yang perfectionist. Tak jarang aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal saking bingungnya dan mungkin saja ia mengira aku punya peternakan kutu. 

“Tuhan, kapan situasi kurang menyenangkan ini bisa berhasil kulewati?”

Aku kerap berfikir dan berdoa sebelum tidur. Dalam kamus perjuanganku, tidak ada istilah menyerah. Aku bisa saja kabur dari sekolah yang suasananya seperti itu. Tapi, bukankah setiap lingkungan perlu adaptasi?
Oh, yah... dia hanya belum mengenalku. Hiburku dalam hati, lalu memejamkan mata yang sudah berat. Merebahkan otot - otot yang pegal setelah menggendong murid Toddler berusia 2 tahun lebih yang tidak berhenti menangis tadi siang.

***

Siang hari di kelas Toddler, suasana makin memanas. Aku selalu berusaha tersenyum dan berperang melawan perasaan ciut saat melihat sang koordinator yang tak kunjung ramah. Namun kali ini, aku selamat dari tanduknya. Retina mataku tertuju pada teman seperjuangan yang juga guru baru. 

“Miss Elnina... I am talking to you!! Close the door!” Tegas miss Sheena. Matanya berapi - api, nada yang tinggi membuat suasana hening. Ini adalah mimpi buruk di siang bolong. Miss Sheena mungkin betul - betul tidak menyukai diriku dan Elnina. Aku mendesah lagi, sambil mengajar muridku, menarik nafas dalam - dalam dan mulai merasa tidak nyaman dengan keadaan ini.

“Aku tau, aku guru baru. Tapi aku nggak tahan banget diperlakukan seperti itu. Dipandang sebelah mata, sedih banget dibentak dan arrgghh...! sepertinya aku udah nggak tahan lagi.” Keluh Elnina sambil menatap makan siangnya. Aku hanya bisa mendengarkan. Tapi tidak menampik bahwa semangatku juga nyaris pudar.


“Sabar, bertahanlah. Ini kan masa percobaan, kita harus tunjukkan pada mereka kalau kita itu tidak pantas dipandang sebelah mata. Okelah, kalau kinerja kita memang kurang bagus, toh kita kan masih baru, kita belum menguasai medan perang.” Arni berusaha menenangkan Elnina. Namun Elnina masih terlihat sedih dan tidak bersemangat. Aku, Arrie, dan Jane tidak banyak bicara. Tapi saat itu, dan sejak saat itu kami merasa ada ikatan batin yang bru saja terjalin diantara kami berlima.

***

Beberapa hari kemudian...

Miss Cinta, sang kepala sekolah yang ramah dan bijaksana, mengadakan rapat kecil dengan kami para guru baru. Ia memaparkan beberapa komplain dan wejangan dari pemimpin yayasan. Aku, Arrie, Jane, Elnino dan Arni hanya bisa menelan ludah dan menganggukan kepala saat miss Cinta berkata, “tidak perlu merasa sungkan untuk berkonsultasi dengan miss yang satu ini.”  

Tangan kanannya merangkul miss Sheena dan sang koordinator tersenyum penuh arti pada miss Cinta. Mataku berusaha menangkap sisi positif dari pertemuan ini. 

Kepekaan miss Cinta akan suasana lantai 2 antara guru baru dan Koordinator mungkin tercium jelas. Tapi ada satu hal yang membuatku menjadi lebih lega, ketika miss Cinta memberitahukan– “beliau ini, punya banyak ilmu yang bermanfaat bagi kita, tidak ada pengecualian. Sebagai kepala sekolah juga selalu sharing dan memetik banyak pelajaran, jangan liat dari sisi lain. Kenali dulu lebih dekat. Mungkin tak kenal maka tak sayang.”

Selepas rapat, kami berlima kembali berunding di changing room. Sedikit berbisik - bisik, takut ada yang mendengar dan melaporkan kami lagi. “Kenali dulu lebih dekat? Bukannya mereka juga perlu mengenal kita lebih dekat?” Jane yang pendiam namun kritis terdengar kurang setuju. “Sabar, yang penting itu kita tunjukkan kinerja kita tidak kalah dengan guru senior lainnya.” Timpal Arrie. “Aku tetap pengen resign, malas banget dimarahin terus ama miss Sheena.” Elnina kembali menunjukkan rasa pesimisnya. “Tunggu sampai seminggu, kalau suasananya masih tidak menyenangkan, baru kau get out from here.” Bujuk Arni. Sementara aku dan Elnino saling bertatapan, layaknya sepasang tokoh kartun Magic Girls yang mampu bertelepati. 

Dan dalam doaku hari ini setelah mendengar nasehat miss Cinta, aku berharap agar seseorang tadi dibukakan pintu jodoh dan dilimpahi kebahagiaan dan kasih sayang agar hatinya luluh pada kami. Tujuanku bekerja di sekolah itu bukan mengutamakan nafkah, tetapi lebih pada pengalaman kerja dan untuk menyembuhkan hatiku yang sempat retak, bukan untuk membuatnya bertambah retak dengan suasana seperti ini.

***

Selasa, 16 Agustus 2011 setelah melewati kerikil tajam, akhirnya perjuangan kami sampai di atas kertas putih dan materai 6000. Tersusun dengan tinta hitam– kontrak kerja selama satu tahun. Namun sayangnya, kami tinggal berempat. Jumat, 17 Juni 2011 yang lalu air mata tak terbendung lagi saat membaca pesan singkat Arni yang didepak dari sekolah karena bermasalah dengan leadernya dan banyak hal, yang membuatku miris adalah: ia dipecat pada saat hubungan mereka sudah membaik.

Tinggallah kami berempat, bunga – bunga kecil diantara pepohonan yang rindang. Satu telah gugur dan entah sampai kapan kami menghiasai pekarangan ini. 

Suasana pun kian membaik. Tidak seperti hal wajar yang keakrabannya ada karena telah terbiasa, tetapi sesuatu itu ada karena Tuhan Maha Mendengar dan Mengijabah doa seseorang yang berusaha. Setelah rapat tempo hari, aku berusaha mengambil hati miss Sheena. Tidak perduli dengan kata – kata senior lain yang menjelek – jelekkannya dari belakang, dan bukan karena ingin menjilat, tapi karena ilmunya dan yang kutahu dengan jelas pribadi seseorang yang dingin itu sebenarnya jauh lebih bisa dipercaya juga penyanyang dibandingkan pribadi yang ramah dan supel sekalipun. Seseorang yang sulit ditaklukkan lebih menantang dan dibalik semua sikap dinginnya aku yakin ada benda lunak yang tersimpan di dalam jantungnya: hati. Meski tak jarang aku juga berkesah pada Jane bila melihat tatapan khas miss Sheena bila mendengar satu volume kesalahan. Masa itu telah lewat, kini yang menggantikanku adalah guru mungil yang selalu kelabakan dan sangat sensitive bila berhadapan dengan miss Sheena. Aveline si pecinta kuning itu menjulukinya miss Perfect. Kadang aku tersenyum geli diatas kegundahannya, sebab akupun pernah merasakannya. 


Hingga di suatu hari, terjadi hal yang tidak mengenakkan di sekolah. Ada beberapa guru dari divisi SD yang bermasalah dengan pihak yayasan. Aku tidak ingin ikut campur, namun dengan kejadian itu ada perubahan besar, khususnya pada hubungan antara aku dan miss Sheena.

“Maaf, kalau selama ini tidak pernah memberi kesempatan untuk melihat dengan hati.” Ungkap miss Sheena. Di kesempatan itu, aku pun menggandeng nama Ave. Tanpa sepengetahuan dan persetujuannya, aku memberitahu miss Sheena bahwa Ave sebenarnya sangat kagum padanya, namun sepertinya miss Sheena hanya fokus pada Fiana, yang kebetulan diterima sebagai guru baru bersama Ave untuk menggantikan beberapa guru yang telah pindah. “Kata Ave, dia sekarang jadi sangat ketakutan bila melihat miss Sheena. Padahal Ave sangat ingin jadi partner miss Sheena loh.” Kataku sambil menahan tawa, mengingat Ave yang ekspresif; kadang terlihat polos dan lugu, selalu membuat kami tertawa. Dan tidak lama kemudian hubungan mereka membaik. Ave sebagai partner miss Sheena di term berikutnya dan merupakan kesayangannya.

***



Jingga menorehkan warnanya di sore itu, Oktober 2011. Agak canggung, aku menemani miss Sheena belanja di MP untuk pertama kali. Kami juga sempat makan kapurung di Food Court. Banyak hal yang kami bincangkan; ada sesuatu yang ingin dikoreknya atau mungkin ia hanya ingin meluruskan konflik antara beberapa guru senior di lantai 3 yang kebetulan aku mulai akrab pada salah satunya. Tidak banyak yang bisa kusampaikan karena sebaik - baiknya teman adalah yang bisa menjaga rahasia dan menjadi penengah memang harus mengetahui inti permasalahan di kedua pihak. Namun yang membuatku semakin lega adalah, saat mengetahui bahwa semua prasangka buruk tentangnya adalah tidak benar. Setiap orang punya karakter, bila kita tidak mengenal karakter orang lain maka hanya prasangka buruk yang akan tercipta.


Friendship is sweet like Chocolate
Sampailah kami pada tempat parkiran motor. Miss Sheena mengeluarkan sebuah coklat dari plastik belanjaannya tadi. “For you.” Singkatnya sembari mengatrek motor. Sedikit malu menerimanya, kuucapkan terima kasih dan tersenyum senang. Disitulah awal dimana kami mulai akran dan saling mengenal. Miss Sheena kerap memintaku untuk menemaninya belanja atau makan bila punya waktu luang. Sebab ia tahu betul aku adalah salah satu guru yang punya sense of shopping, kedekatan kami juga didasari oleh perdagangan. Miss Sheena yang berjiwa dagang sangat senang karena aku adalah jalur dagang yang membuat jualannya laris manis, orderan kerjinan tangan milik kerabatnya meningkat dan aku tidak membutuhkan keuntungan materi di dalamnya karena sejak dulu sudah terbiasa mempromosikan dagangan orang lain dengan ikhlas.

Kedekatan kami pun berlabuh pada sebuah novel tua berjudul “Surat Cinta Saiful Malook.” Saat makan siang kami makan bersama guru lainnya. Dan miss Sheena meminjamkan buku tersebut. Setelah membacanya, sungguh... kisahnya menyentuh dan mengingatkanku pada seorang teman dekat yang berada di Pakistan. Naluri kolektor novel yang kumiliki mendayu - dayu. “Pengen beli juga, dimana tempat jual novel tua yah? Pasti di Gramed sudah tidak ada.” Tanyaku pada miss Sheena dalam pesan singkat. “kamu bisa memilikinya dengan syarat, jaga baik - baik buku itu karena buku itu juga punya kenangan tersendiri.” Ujarnya membuatku terkejut, tapi mendengar kalimat terakhir rasanya tidak pantas bagiku ingin memiliki barang orang lain yang berharga. 

Novel: Surat Cinta Saiful Malook



Esok hari, aku mengembalikannya. Tapi miss Sheena menolak dan menyuruhku untuk menjaga buku itu dengan baik. Novel yang pernah membuat miss Maya menangis setelah membacanya. Meskipun aku sendiri tidak sampai menangis, tapi aku mengakui mutu buku tersebut, buku yang akhirnya terjejer di antara novel lain di rak buku kamarku. Dan kali ini kusampaikan bahwa ‘dingin’ merupakan senyawa yang bila disentuh maka akan terasa sampai kedalam lapisan kulit hingga ke tulang, “dingin mempunyai perasaan yang dalam yang rasanya selalu dikenang.”

***


7 tahun berkarir, kedisplinan dan inovasi yang membuat kualitas sekolah semakin cemerlang dan menjadikannya sebagai kepala sekolah sebab miss Cinta diangkat sebagai kepala sekolah divisi SD.  Karirnya semakin berkilau. Tidak hanya karirnya yang berkilau namun juga cintanya yang akhirnya membawa miss Sheena dan kekasihnya ke KUA. Tepat di bulan kelahiranku, September tanggal 4 tahun 2012 aku bolos kerja karena miss Rianti yang telah mengumpulkan uang teman - teman guru lantai 2 yang berencana memberikan hadiah cincin emas. Aku ditemani ibu, keliling mencari cincin yang berkualitas dan modelnya bagus juga harganya sesuai dengan uang yang terkumpul. Meskipun sayangnya ternyata cincin itu longgar. Miss Sheena terlihat bahagia di hari pernikahannya. Saat foto bersama aku berdiri disamping kanannya menggeser posisi miss Rianti dan tangan miss Sheena merangkul dari belakang sambil tersenyum melihat kamera. Doanya, “semoga cepat menyusul.” Kami semua turut bahagia malam itu. Rasa syukur padaNya yang melimpahkan kebahagiaan dan kasih sayang, membuka pintu jodoh miss Sheena juga beberapa guru lainnya. 
Left to Right: Rati, Poetry, Pengantin, Yuni, Mira



***
 


Meski selama miss Sheena menduduki jabatannya kami para guru makin sibuk dan beberapa guru mengeluh, kami tetap punya waktu luang jalan – jalan. Entah itu shopping bersama guru lain, makan kapurung atau karaokean. Setelah jam kerja, miss Sheena meminta untuk ditemani belanja. Kami hunting barang pecah - belah. Sudah beberapa hari aku diteraktirnya, meskipun rasanya tidak enak tapi rejeki tidak boleh ditolak kata Elnina. Hari berikutnya kami memulai dengan makan coto, lalu membeli pernak - pernik untuk keponakannya, kita lanjut makan pisang ijo “Kenneth” kemudian jelang maghrib kami menyeberang ke salah satu toko aksesoris terunik di Makassar dan yang mengejutkanku adalah setelah membayar belanjaannya ia menemukan kaleng kecil berwarna merah, putih, biru bendera Perancis dengan gambar seorang gadis cantik memegang kamera dengan caption “Voyage, I love Paris in the Spring Time.” Miss Sheena tahu benar aku sangat menyukai segala sesuatu berbau Paris dan ia mengambil kaleng kotak mungil itu lalu membelikannya untukku. Sungguh, aku tidak bisa menolak. “Merci beaucoup, miss Sheena.”


***

I Love Paris :)
Jumat, 7 Februari 2013 miss Sheena memanggilku pada jam 02:40 siang. “Miss Emma...!” terkejut, aku lalu bergegas. Pikirku mengarah pada laporan bulanan yang baru saja direvisi mungkin ada kekeliruan. Di depan pintunya aku mengintip dan ia keluar sembari memberiku sebuah buku catatan kecil dengan gambar menara Eiffel, “for you.” Kuraih buku itu, “Oh my God, it’s pretty cute. Thank you.” Kataku sambil menatapnya tersenyum penuh rahasia. Akupun tersenyum tapi kali ini senyumanku tidak seperti biasanya. Kabar yang beberapa hari terngiang di telingaku membuatku berjalan lesu ke kelas. Sepertinya ini bukan pemberian seperti biasanya, ini merupakan kenang - kenangan yang punya arti lain. Aku sudah banyak ditinggalkan sahabat di sekolah ini; mulai dari Arni, Jane dan beberapa sahabat lain yang tidak bisa disebut satu per satu. Pikiranku semakin menjurus pada saat yang tidak kuharapkan: perpisahan. Nafas semakin berat, angkutan umum berjalan selayaknya siput. Semakin lama rasanya leherku mulai tercekat menahan kesedihan. Apa pada bulan Juni 2013 nanti aku harus mempersembahkan tulisan perpisahan lagi di Blog pribadiku seperti yang sudah - sudah? 


Rabu, 12 Februari 2013 mengingatkanku pada hari Rabu di tahun 2011 tanggal 9 Februari silam dimana pertama kali aku mengerutkan kening saat melihat tatapannya. Rabu kali ini membuatku mengerutkan kening dalam rapat, tercium sesuatu yang tidak kuinginkan. Apa benar yang dikatakan Dwayne semalam? Betulkah itu? I see there’s something in her eyes that far too revealing. Kerutan di keningku bukan soal komplain seorang kepala sekolah kepada guru - gurunya. Tetapi kabar yang akan disampaikannya.


“Kalau saya punya utang atau janji yang belum ditepati, tolong disampaikan.” Katanya menerawangi kami dan menunggu jawaban. Nadanya kian pekat tercekat membuat kami pilu, “because today is my last day here.” Tangisannya pecah sembari meminta maaf satu - persatu. Semua terharu, juga Elnina dan bagian yang tersulit untukku ketika suara tangis Aveline pecah, si cengeng itu memeluk tak menyangka hari ini miss Sheena mengakhiri karirnya. Sebelum sampai padaku, aku lekas keluar ruangan dan masuk di toilet – menangis. Bukan karena tidak ingin dilihat menangis oleh yang lainnya, tetapi karena perpisahan adalah hal menyedihkan yang sering kualami tapi tidak ada tempat menghindar lagi. Kami berpapasan di antara ruang makan dan ruang serbaguna. “Maafkan kalau selama ini banyak salah, kamu baik sekali selama ini, Emma.” Aku hanya diam. Ingin kubertanya; mengapa harus hari ini? Mengapa tidak menunggu sampai bulan Juni? Mengapa harus bertepatan dengan perginya lelaki yang baru saja mencuri hatiku? Patah hati kalah rasa sedihnya dibanding hari ini, hari dimana ditinggalkan oleh sahabat. Bukan untuk selamanya, tapi tidak bersama lagi tiap hari. “Not coz of you, not coz of me. It’s all for love.” Bukankah teman yang baik selalu mengantarkan temannya pada BONHEUR: kebahagiaan. Semoga cinta selalu menyertaimu, May Allah bless miss Sheena all the way.  

“Because friendship is shining just like a diamond. Your shine is like a diamond”

Imlek, The last day of her in February 2013


 (# ̄▽ ̄#) Based on true story, dedicated for my best friend...

Lunch bareng

















Thanks for the gifts
Nasi goreng udang tempura


 
 

Setiap melewatinya, selalu terkesan seperti ada yang hilang...


   
♫♪♫♪

Why she had to go I don't know she wouldn't say.
I said something wrong, now I long for yesterday.

Yesterday, love was such an easy game to play.
Now I need a place to hide away.
Oh, I believe in yesterday.

♫♪ The Beatles ~ Yesterday