Terkadang, kita terlalu naif menyimpulkan sesuatu. Apalagi dalam hal menilai seseorang. Perlu ditekankan: Don't judge the book by its cover. Tentu kita sudah sering mendengarnya, bukan?
Kali ini saya ingin menceritakan kisah seorang teman kuliah dulu. Tepatnya di tahun 2005, pertama kali mengenalnya. Dia adalah mahasiswi yang gigih dan ramah. Tapi, waktu itu saya tidak begitu akrab dengannya! Karena penampilannya yang agak aneh.
Aneh? Ya, betul. Teman - teman di sekitarku pun berpendapat demikian. Karena jilbabnya yang hampir menutupi alisnya. Namanya Ivy.
---
Time goes by, kami tidak segrup maupun sekelas. Karena angkatan kami terbagi empat kelas, saya di kelas D dan Ivy di kelas A. Kami bertemu hanya pada mata kuliah umum. Dia termasuk mahasiswi yang cerdas dan ramah.
Pada saat pembagian kelompok PPL 2 secara acak, Ivy ternyata sekelompok denganku. Kami dengan beberapa teman lain sama - sama belajar mengajar di SMK 2 Gorontalo.
Waktu itu saya tidak punya teman dekat, karena mereka berasal dari kelas A dan B. Biasanya di jurusan, dosen selalu menggabung empat kelas menjadi dua. Dan saya berada di kelompok C dan D. Sementara dua teman lagi dari kelas C dan D, juga tidak begitu akrab denganku. Tetapi saya berusaha berbaur. Mereka teman yang ramah dan baik.
---
Selang beberapa hari PPL, terjadi hal - hal yang kurang menyenangkan hati. Hari pertama, kami memang masih canggung. Saat itu saya menemani teman kelas saya yang agak pemalu. Yang membuat saya agak kurang senang adalah, ketika ia mengajar dan ia tahu yang dihadapinya adalah anak - anak SMK yang notabene acuh tak acuh dalam belajar. Ntah apa yang dipikirannya sehingga ia menginstruksikan mereka menyanyikan lagu Up and down and shake, shake, shake...
Bukan masalah lagunya, tapi ia menyuruhku yang menyanyi di depan mereka yang tidak menunjukkan antusias sama sekali sambil bergoyang up and down and shake shake shake. Dan saya terpaksa melakukannya, karena ia memaksa. Sungguh hari yang sial, pikirku saat itu.
Semenjak peristiwa Up and down tersebut, saya tidak marah padanya. Tapi, saya memutuskan untuk tidak menemaninya lagi. Toh pada saat itu kami bertiga di dalam kelas, tapi mengapa yang dipaksa saya sendiri?
Selama kami PPL, banyak hal yang terjadi. Juga sempat, secara tidak langsung ada yang membuat Ivy tidak senang dengan salah satu rekan kami.
Saya dan Ivy bertemu di jembatan kecil di antara kolam ikan. Tidak sengaja, kami saling berkeluh kesah dan menemukan titik persamaan. Saya mulai mengenal Ivy lebih dekat. Selain cerdas, ia juga menyenangkan. Meskipun kadang hal yang lucu menurutnya tidak lucu menurutku. Tetapi saat itu Ivy cukup banyak memotivasi saya yang sangat bosan kuliah.
Setelah PPL, kami jadi lebih akrab. Banyak yang heran di fakultas. Termasuk beberapa teman dekat saya yang selalu nongkrong dulu. Unbelievable! Setelah lama hilang dari peredaran, tiba - tiba saya berteman dengan Ivy?
But, yah... Begitulah hidup! Kadang kita tidak sadar selalu menilai seseorang dari penampilannya saja. Berteman itu karena kita hidup dan membutuhkan teman. Bersahabat, bukan karena materi ataupun kepentingan sosial... Tetapi karena kita merasa nyaman dan percaya dialah orang baik yang bisa menerima kita apa adanya dan ada di situasi apapun.
And you know what?? Sekarang jilbabnya sudah tidak terlalu 'turun' menutupi alisnya lagi.
Thank you for being my best friend, Ivy.