Minggu, 22 September 2013

Rika is Ivy

Terkadang, kita terlalu naif menyimpulkan sesuatu. Apalagi dalam hal menilai seseorang. Perlu ditekankan: Don't judge the book by its cover. Tentu kita sudah sering mendengarnya, bukan?

Kali ini saya ingin menceritakan kisah seorang teman kuliah dulu. Tepatnya di tahun 2005, pertama kali mengenalnya. Dia adalah mahasiswi yang gigih dan ramah. Tapi, waktu itu saya tidak begitu akrab dengannya! Karena penampilannya yang agak aneh.

Aneh? Ya, betul. Teman - teman di sekitarku pun berpendapat demikian. Karena jilbabnya yang hampir menutupi alisnya. Namanya Ivy.

---

Time goes by, kami tidak segrup maupun sekelas. Karena angkatan kami terbagi empat kelas, saya di kelas D dan Ivy di kelas A. Kami bertemu hanya pada mata kuliah umum. Dia termasuk mahasiswi yang cerdas dan ramah.

Pada saat pembagian kelompok PPL 2 secara acak, Ivy ternyata sekelompok denganku. Kami dengan beberapa teman lain sama - sama belajar mengajar di SMK 2 Gorontalo.

Waktu itu saya tidak punya teman dekat, karena mereka berasal dari kelas A dan B. Biasanya di jurusan, dosen selalu menggabung empat kelas menjadi dua. Dan saya berada di kelompok C dan D. Sementara dua teman lagi dari kelas C dan D, juga tidak begitu akrab denganku. Tetapi saya berusaha berbaur. Mereka teman yang ramah dan baik.

---

Selang beberapa hari PPL, terjadi hal - hal yang kurang menyenangkan hati. Hari pertama, kami memang masih canggung. Saat itu saya menemani teman kelas saya yang agak pemalu. Yang membuat saya agak kurang senang adalah, ketika ia mengajar dan ia tahu yang dihadapinya adalah anak - anak SMK yang notabene acuh tak acuh dalam belajar. Ntah apa yang dipikirannya sehingga ia menginstruksikan mereka menyanyikan lagu Up and down and shake, shake, shake...

Bukan masalah lagunya, tapi ia menyuruhku yang menyanyi di depan mereka yang tidak menunjukkan antusias sama sekali sambil bergoyang up and down and shake shake shake. Dan saya terpaksa melakukannya, karena ia memaksa. Sungguh hari yang sial, pikirku saat itu.

Semenjak peristiwa Up and down tersebut, saya tidak marah padanya. Tapi, saya memutuskan untuk tidak menemaninya lagi. Toh pada saat itu kami bertiga di dalam kelas, tapi mengapa yang dipaksa saya sendiri?

Selama kami PPL, banyak hal yang terjadi. Juga sempat, secara tidak langsung ada yang membuat Ivy tidak senang dengan salah satu rekan kami.

Saya dan Ivy bertemu di jembatan kecil di antara kolam ikan. Tidak sengaja, kami saling berkeluh kesah dan menemukan titik persamaan. Saya mulai mengenal Ivy lebih dekat. Selain cerdas, ia juga menyenangkan. Meskipun kadang hal yang lucu menurutnya tidak lucu menurutku. Tetapi saat itu Ivy cukup banyak memotivasi saya yang sangat bosan kuliah.

Setelah PPL, kami jadi lebih akrab. Banyak yang heran di fakultas. Termasuk beberapa teman dekat saya yang selalu nongkrong dulu. Unbelievable! Setelah lama hilang dari peredaran, tiba - tiba saya berteman dengan Ivy?

But, yah... Begitulah hidup! Kadang kita tidak sadar selalu menilai seseorang dari penampilannya saja. Berteman itu karena kita hidup dan membutuhkan teman. Bersahabat, bukan karena materi ataupun kepentingan sosial... Tetapi karena kita merasa nyaman dan percaya dialah orang baik yang bisa menerima kita apa adanya dan ada di situasi apapun.

And you know what?? Sekarang jilbabnya sudah tidak terlalu 'turun' menutupi alisnya lagi.

Thank you for being my best friend, Ivy.

Adelia Returns

September 2013.

Malam itu aku membuka album Facebook salah satu guru di sekolah tempatku mengajar. Yang ingin kulihat hanya foto - foto murid saja. Tiba - tiba aku menemukan foto seorang anak yang sudah lama tidak nampak, ia duduk bersama teman - temannya di kelas Beginner, seangkatan dengan Jessica Jordyn, Vincent and friends.

Sungguh, foto lama yang akhirnya membuatku bertanya, kemanakah anak ini berada? Sudah lama tidak nampak di sekolah.

Keesokan harinya berjalan seperti biasa. Tidak pernah sempat bertanya pada mantan gurunya. Hingga suatu pagi, aku berjalan menuju kelas Ms. Sita, tujuanku adalah mencari correction pen.

Beberapa murid tiba di kelas, Chloe dan Aurelia. Aku pun meninggalkan kelas setelah menyapa mereka yang disambut oleh Ms.Nina. Tujuanku adalah ke changing room.

Beberapa langkah meninggalkan kelas Ms. Masita, keningku tiba - tiba berkerut.

Bukannya anak ini yang sudah lama tidak kulihat? Ternyata dia masih ada? Tapi di kelasnya siapa?

Anak itu bermata besar, cantik dan imut - imut. Dia berjalan menuju ke? Kelas Ms. Masita?? Aku terus berjalan dengan tergesa - gesa karena harus stand-by di kelas. Setelah mengganti celana jeans, aku berencana untuk memberi tahu Ms. Masita, perihal yang kulihat tadi.

"Sita, kemana anak yang tadi menuju kesini?" tanyaku penasaran sambil mengecek absen yang tertempel di mading kelasnya.

"anak yang mana?" tanya Ms. Masita
"iya, dari tadi tidak ada anak yang masuk selain Chloe dan Aurelia." tukas Ms. Nina.

Aku sibuk menjelaskan pada Ms. Masita, siapa yang kumaksud.

"Masa sih kamu lupa muridmu dulu waktu Beginner?" desakku.
"Iya, lupa. Oh...! Iya iya iya, namanya Adel!" seru Ms. Masita.

Ms. Nina ikut penasaran, "tapi benar, disini tidak ada yang masuk selain tadi."

Aku menceritakan kembali kronologisnya. "Sumpah! Aku liat sendiri dia jalan menuju kesini sambil tenteng homework case!"

Ms. Masita dan Ms. Nina memandangku dengan serius bercampur paranoid. Maklum saja, cerita horor di sekolah bukan hal baru.

"Apa iya, arwahnya yang datang?" tanya Ms. Nina. Disambut heboh oleh Ms. Masita. "ih... Mungkin ada sesuatu yang terjadi dengan anak itu yah?" tambah Ms. Masita.

"Ntahlah, yang jelas, sudah lama nggak kedengaran kabarnya, kok tiba - tiba muncul?" kataku.

"Wah, kamu tau nggak anak itu punya kisah mengharukan. Tapi dia pintar banget! Mungkin ada sesuatu yang terjadi sampai dia muncul disini. Eww... Merinding!" ungkap Ms. Masita.

"ih, bulu kuduk jadi berdiri semua." ujar Ms. Nina.

---

Setelah heboh di kelas Ms. Masita, aku kembali ke kelasku. Sebelumnya aku juga sudah keliling di beberapa kelas tapi tidak menemukan anak itu. Di dalam daftar murid Pre-School juga tidak ada namanya. Kabar pun tidak ada, jadi apa benar?

Tiba - tiba Ms. Masita datang dengan tawa khasnya. Tertawa terbahak - bahak. Aku sedikit bingung tapi ikut tertawa melihatnya membawa seorang anak bermata indah dan kini sudah mulai besar.

Tidak ada kata - kata yang bisa menjelaskan kronologisnya. Tapi, kali ini memang aku sudah dibuat sakit perut karena tertawa mengingat kembali kata - kata Ms. Masita, "Mungkin arwahnya yang datang!"

Aku memeluk anak itu, rindu beberapa hari lalu terungkap sudah. Adelia telah kembali sekolah setelah setahun lamanya tidak hadir.

"Ternyata, kemarin Adel masuk sekolah lagi dan sekarang jadi muridnya Ms. Nurul." Terang Ms. Masita sambil tertawa.

Sabtu, 14 September 2013

The Story Behind My Eiffel Collection

First of all I'd like to say:

MERCI BEAUCOUP buat keluarga, kerabat, sahabat dan semua yang udah bantu ngumpulin my collection!

Well, starting from 2008 saya udah mulai suka bahasa Prancis. Sampai - sampai waktu itu dibelikan kamus sama 'teman'  ~(˘ε˘~)(~˘з˘)~ selain itu saya juga diwariskan kamus ama temen geng @Wewe' semasa SMP dulu. Latihan juga didukung karena dulu pernah dekat dengan someone from Mulhouse, France.

Belum kepikiran koleksi sih... But barang pertama yang saya punya itu gantungan kunci Eiffel from K'Nining Cono. Kisah lucunya adalah... Suatu hari beliau berjalan dari kos ke kampus. Ditengah jalan, beliau nemu gantungan kunci Eiffel. Semenjak tau saya sedang demam Prancis, dia pamerin gantungannya itu sampai akhirnya terpaksa beliau tukar dengan gantungan kunci Malaysia pemberian 'teman'ku hehehehe... Sayangnya, gantungan kunci Eiffel bersejarahnya udah patah.

Setelah graduation, akhir 2010 saya balik ke Makassar dan mulai bekerja di salah satu sekolah swasta. Disana saya ketemu guru - guru yang tau banget saya lagi demam all about Paris. Mereka juga membantu banget, loh!

Kalau 2008 saya baru mulai belajar sedikit bahasa, musik, dan cari tahu tentang sejarah dan life style Perancis... Di pertengahan tahun 2012 saya mulai niat koleksi. Meskipun jarang kepikiran karena sibuk, xixixixi...  Dan sampai hari ini koleksi saya masih sedikit. Nggak harus buru - buru juga, kapan ada kesempatan and mood baru hunting lagi.

Sekian dulu cerita saya hari ini. Next time I'll share again. Je t'aime, bonque...!

( ˘˘ﻬ(∩_∩)

-Poetry Spice-

Rindu yang Tak Lagi Merah Muda

Ntah kapan mulanya. Tapi kebersamaan yang dulunya selalu menjadi kerinduan merah muda yang bermekaran saat kita lama tak bertemu, kini buram sudah.

Layu, sebentar lagi berguguran. Mungkin rasa sayang masih tertanam di akarnya. Namun, peristiwa tusuk menusuk sungguh tak tertahankan lagi.

Lalu buat apa kita memutuskan menjadi satu, bila kesatuan itu tidak menyenangkan lagi?

Sebenarnya ada apa?
Apa yang salah?
Dimanakah solidaritas yang dulu kuat? Mengapa tak kutemukan lagi, ntah di benak maupun di otakku ini.

Bara api memang menyala - nyala sekarang, ntah nanti. Terlalu banyak ego, bukan ini yang kucari selama ini. Bukanlah persahabatan yang seperti ini.

"I don't like!!"
"Then why if I don't like?"
"Is there a problem officer??"

Bukankah berteman itu saling berbagi? Bukan ingin diakui "ter and ter" kemudian menjatuhkan yang lain. Menceritakan keburukan di belakang lalu menyindir. Lalu buat apa kita bersama bila yang terjadi seperti demikian?

Memperlihatkan sikap tidak tertarik, tidak antusias sama halnya dengan tidak menghargai. Atau mungkin ada dendam lama yang melatarbelakangi?? Sehingga caci dibalas caci. Sentimental dan keegoisan memetik habis bunga - bunga segar. Kebersamaan kita yang merah muda.

Apa untungnya kita berkumpul dalam satu taman bila dalam hati ada gejolak yang berbau busuk menari - nari, berserakan di ujung jenuh.

Sepertinya memang sudah tidak semerah dulu. Rindu yang tak lagi merah muda.