Rabu, 26 Desember 2012

By Saying Something Stupid Like "I Love You"

Tidak ada yang salah dengan jatuh cinta. Namun, malukah aku bila cintaku di.. t o l a k?

Pagi selalu indah. Semangat tidak pernah patah. Akulah si tampan berkulit putih. Siapa yang tidak kenal denganku di fakultas?

Dan... ramai saja pagi itu, begitulah jurusan bahasa Inggris kalau sudah ada kelas C dan D. Beberapa bulan kami kuliah- Maria dan Mahmud memang selalu ribut bercanda bersama kawan - kawan yang lain.

Menoleh kesamping kanan, ada lagi yang juga gemar menarik pendengaran dengan tawa yang mungkin lucu. Mereka Welly, Nur, DJ dan yang lainnya.

Ntah ingin gabung dikelompok mana. Rasanya membosankan apalagi kalau sudah di dekat gadis dari Makassar yang ceritanya juga tidak pernah selesai tapi bang Radius Lukito dan si Riza tidak terlihat jenuh.

Aku pun duduk sendiri sambil menunggu dosen. Diantara mereka, ada satu gadis mungil yang memancarkan keindahan ditengah rasa bosan ini. Aku selalu memperhatikannya sembunyi - sembunyi walaupun harus bersaing dengan Mahdin anak jurusan bahasa Indonesia yang giat mencari belahan jiwa di jurusan bahasa Inggris.

Gelisah lalu menyusup dan memburu ditiap langkahku. Sebelum aksi Mahdin menimbulkan reaksi dari gadis kelas D yang manis dan baik itu... aku harus mengungkapkannya. Bukankah cinta itu butuh perjuangan?

Selama dosen Speaking menjelaskan, pikiranku bercampur aduk. Siang malam hatiku kurang tenang; ingin sekali selalu dekat dengannya, takut dia direbut orang dan sumpah... dia benar - benar membuatku nekad.

Selepas kuliah, aku pulang ke kos. Memilih kaos terbaik, setelah mandi dan memandang cermin sambil merangkai kata.

"Riri, sebenarnya... aku... hmmm... aku... hmmm... Riri... kamu mau, hah... susah juga merangkai kata."

Akhirnya aku melanjutkan perjuanganku. Bentor telah melaju kerumahnya. Setiap pembelokan hatiku berdesir. Roda bentor yang berputar kencang sama kencangnya dengan detakan jantungku.

"stop... om bentor... di depan pagar putih."

Turunlah aku, ini baru langkah awal dan berlanjut sampai depan pintu rumah. Setelah memanggilnya, ia pun keluar.

"Ri'..." kataku.

Sorotnya menjadi tajam. Aku jadi kaku. Tiba - tiba Riri berkata "Maaf, kalau benar itu maksudmu kesini, lebih baik kamu pulang saja. Saya tidak bisa, Den."

***

Sore  dan kisah terlupakan terbayang lagi ketika peristiwa merah merona itu mendayu - dayu dalam suara si gadis Makassar teman kelas Riri. Sungguh gawat.

"eh... hehehe kamu jangan asal. Aku nggak merasa tuh!" kilahku.

"hehehe... Deni, suatu saat aku bikinkan cerpen yah?"

"ah... jangan.. jangan... nanti yang lain tau bisa gawat."

"biar semua tau, bahwa kamu itu pejuang sejati."

"Put....! jangan lari... awas kamu yaaah??"

-Selesai-

Special for my funny and handsome friend, sometimes we have to say it even though it was unsaid.

Let's sing together... all English Department 2005...

"and then I go to spoil it all by saying something stupid like I love you... I love you..."

Selasa, 18 Desember 2012

Preparing for Holiday

Hi guys.... Assalamualaikum...

This is my second post about my holiday planning. 2 months ago in a post "We'll Go to Jogja" I have shared about how interesting if we have holiday with our best friends.

In the beginning of December, Eka treated us J.co and Ice tea at MP... we disscussed about this plan. thank you for the donnuts (*¯︶¯*)

Well, especially for me, it's very difficult to saving money for this holiday. So many obstacles and I keep on going ahead... (nekad)

What to say, we have bought tickets. So, it's too late to say "cancel"

InsyaAllah I'll find the way. The first time I was so steressed by this plan and about money money money... (╥╯﹏╰╥) but alhamdulillah suddenly I got side-job that I had to teach my old student who has moved to Jakarta... He was in Makassar for holiday and his mum asked me to teach him reading and writing just for 8 days.

I excited, but... I didn't teach him 8 days, it was only 3 days... (ˇ_ˇ'!l) he went to Jakarta earlier than the schedule.

it means that the less money I'll get (it hasn't been transfered yet ╭(╯ε╰)╮ but it's ok)

Now, the plan has been changed. After Surabaya we'll go to Kediri... plan to visit Gumul again (for me) and lucky for Eka and JM who desire to try the train cuz we'll be there by train, we'll go to Jogja...

Moreover, my uncle has given permission to sleep to his "pavilliun" (hehehe is it correct??!)

I am glad to know 8 days more to go to Jogja but so wozzy to remember that I haven't got money to prepare... I do need much money.

انشـــــاء الله  Allah will help me... Aamiin. Send me money ya Allah... only You can help me

( ~ _ ~ )
  (")(")    

Spice up your life,
Poetry.



Sabtu, 15 Desember 2012

Unforgetable Birthday

Gorontalo, 2 September 2005. Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Merah Marun mengadakan Bakti Sosial atau Baksos dan Pengukuhan Mahasiswa Baru 2005 – 2006. Pagi – pagi buta aku sudah siap. Rencananya kami
akan menginap tiga hari di desa Pone, kabupaten Limboto Barat. Tidak ada ponsel dan tidak ada
capan selamat ulang tahun untukku hari ini.

***

Tibalah aku pada sebuah kampus Merah Marun yang teduh dan bersih. Sudah tersedia beberapa alat
transportasi. Dileherku
tergantung sebuah pita kecil berwarna ungu dengan karton putih berbentuk persegi panjang dengan tulisan EXOTIC.

Salah satu panitia yang bernama Semon membacanya dan tersenyum kecut, “heh… emangnya kamu exotic?!” dengan air wajahnya seolah memandang enteng. Aku hanya diam dan
memperhatikannya, seorang senior yang caranya menatap dan pertanyaannya membuatku tersinggung, baru kali ini aku menemukan ada orang yang dengan gaya yang tidak up-to-date juga wajah yang pas – pasan menghina orang lain. Tapi sudahlah, kelihatannya dia cuma cari sensasi.

***

Beberapa lama kemudian, kami memasuki desa Pone, Limboto Barat. Ternyata Pone sangat dekat dengan kota. Suasananya juga tidak seperti dugaanku. Pone adalah desa makmur, terlihat dari bangunan – bangunan rumah yang asri dan sama seperti rumah – rumah di kota pada
umumnya. Sepanjang perjalanan, aku sering menemukan bunga kertas atau Bougainville dimana – mana, hampir disetiap halaman rumah penduduk baik di kota maupun desa. Mungkin bunga itu sudah
menjadi ciri khas Gorontalo.

***

Kami duduk diatas rumput hijau, taman bunga yang cukup luas untuk menampung kami yang berkisar 124 orang. Di depan kami ada salah seorang senior yang paling rapi. Rambutnya pun rapi belah tengah dan terlihat lembab oleh minyak rambut. Terlihat dari kulitnya yang putih dan bersih, ia pasti rajin merawat diri.Setidaknya enak dipandang dan bahasanya juga santun. “kak Joey, kita kan udah digodok bulan lalu. Kok masih ada penggodokan sih?” Tanya Mexy kritis pada senior paling rapi tersebut. “adik – adik yang saya hormati, sekali lagi saya sampaikan pada kalian bahwa kegiatan bakti sosial dan pengukuhan ini adalah kegiatan puncak kalian. Soal penggodokan, kami tidak akan menyiksa kalian, kami hanya melatih kalian agar otot – otot yang mulai kendor selama kalian berlama – lama di rumah
menunggu momen menjadi mahasiswa bisa kencang
kembali dan kalian bisa lebih semangat untuk kuliah.” Jelas Joey. “tapi kak, saya pikir kegiatan
bulan lalu cukup menguras tenaga kami, buktinya berat badan saya udah turun. Nih… celana saya sedikit longgar.” Protes Maria asal Luwuk yang badannya agak bundar, istilahnya Poco – poco. Joey mengangguk – angguk. “kalian tidak usah banyak protes, justru kalian harus menikmati momen ini, ini adalah
ajang bina akrab. Jika
terdapat kekerasan kalian diperbolehkan melapor ke kantor pusat kampus. Lagian, hari terakhir kita akan mengadakan hari pembalasan. Jadi kalian bisa balas dendam
pada kami. Yang jelas kami tidak jahat – jahat amat kok.” Semua mahasiswa baru berseru dan mengeluh. Sementara ketua panitia baru saja selesai rapat bersama
ketua Senfak dan panitia lainnya.

***

“assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu dan selamat siang adik – adik, siang ini kita istirahat sejenak.Kalau ada yang ingin bertanya seputar pengukuhan, saya
persilahkan.” Sambut Kak Baim, ketua panitia yang selalu berusaha bijak dan ramah pada kami. Tidak seperti panitia lain yang diatur untuk menjadi panitia yang galak dan
tegas.

“kak Baim, masa sih hak asasi manusia kami harus dicabut selama tiga hari?” suara Mexy kurang senang. “itulah peraturannya. Hak asasi manusia kalian dicabut itu hanya istilah saja. Kalian harus taat pada peraturan, meskipun banyak yang bilang
peraturan ada untuk
dilanggar. Kalian jangan coba – coba melanggar peraturan sebab kalian akan mendapat hukuman.” Mexy cemberut dan
terpaksa menerima
pencabutan hak asasi manusia kami.

“oh ya, mana yang namanya Putri Rachmaniar?” Tanya si
ketua Panitia. Aku
mengacungkan tangan
kananku pelan – pelan. Kaget, heran dan tiba – tiba menjadi pusat perhatian. Aku menatap penuh tanya pada Ibrahim alias Baim yang duduk dihadapan kami.
“Putri, silahkan maju
kedepan.” Perintahnya dengan senyum tipis. Masih ragu, aku terus memandang lelaki
berambut lurus itu dengan sejuta tanya. Aku tidak akan rela kalau – kalau sang ketua panitia itu memerintahi aku menjadi kambing, seperti yang dilakukan Joey pada Maria dan Mexy.

Sang panitia mulai mengeluarkan sebuah kalimat mengejutkan. “untuk semua mahasiswa baru jurusan bahasa inggris, saya minta kalian menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk saudari Putri Rachmaniar yang
berulang tahun hari ini.
Nyanyikan semeriah mungkin sambil menepuk tangan!” perintah Baim membuat mataku melotot dan wajahku merah merona sekejap. “hari ini Putri berulang tahun kan?” Baim memastikan dan aku
mengangguk sambil tersenyum.

Happy birthday to you… happy birthday to you… happy birthday… dear Putri, happy birthday to you… happy birthday prisil…. Happy birthday happy birthday, happy birthday to you

Lagu dan acara salam –
salaman selesai. Baim kemudian memberi informasi seputar
acara pembukaan malam ini pada jam tujuh. “kalian harus memakai jas almamater, kemeja putih. Bagi perempuan rok hitam dan laki – laki celana hitam tentunya!” tegas Joey sambil melipat kedua tangannya.

“satu hal yang tidak boleh kalian lupakan, sebelum memakai jas almamater kalian yang berwarna merah marun itu, kalian harus memakainya terbalik. Bagian dalam dijadikan bagian luar dan bagian luar jadikan bagian dalam, mengerti??”

“kenapa harus terbalik?” Tanya Elvis. Mendengar namanya mengingatkan aku pada salah satu penyanyi legendaris. “kalian harus tampil beda.” Jawab Joey sangat serius.
Semua tampak kebingungan, tapi apa daya, selama beberapa hari hak asasi manusia kami dicabut oleh panitia. Kami cukup mendengar dan mengerjakan perintah
mereka.

***

“yang terlambat merangkak sampai
ke lapangan !” lanjut panitia dengan kejam malam itu. “lima menit lagi, ayo… percepat langkah !” Nune tampak garang,
padahal laki – laki ceking itu biasanya bersikap konyol dan humoris. Aku berlari bersama yang lain, akhirnya kami sampai pada wilayah jurusan bahasa Inggris tepat jam 7 malam. Semua lengkap, untunglah
tidak ada yang kena hukuman. Tapi tiba – tiba ketua Senfak datang dengan raut wajah kurang senang. Ia berdiri menolak pinggang.

“apa – apaan kalian?” Tanya Jefri marah. Kami ketakutan, was – was akan mendapat hukuman. “kalian ini mahasiswa atau bukan?” Tanya Jefri lagi. Aku menyadari jas terbalik
yang kami kenakan.

“sebelumnya saya sudah memberi tahu kalian, malam pembukaan kalian harus mengenakan busana muslim. Apa kalian menantang saya?” jelasnya sedikit berteriak. “maaf kak, kami hanya mengikuti instruksi dari panitia – panitia jurusan bahasa Inggris.” Maria
berusaha membela diri.

“saya pemegang hak tertinggi disini, saya yang menentukan kalian kan sudah diberitahu, kalian ini
membuat saya sangat
kecewa.”

Baru kali ini aku melihatnya semarah itu, Ketua Senfak yang sedang kurang sehat meninggalkan kami dengan kekesalan.

Acara berlangsung sangat – sangat membosankan. Jurusan bahasa Inggris berada di tengah – tengah lapangan. Sebelah kanan kami adalah jurusan bahasa Indonesia. Sangat dekat dariku seorang
teman sejurusan denganku sedang bercerita dengan Ceci, dari jurusan bahasa Indonesia. Ceci yang terisak – isak
menceritakan kisah siang tadi. Mereka diperintahkan
berguling – guling ditanah yang banyak kotoran ayamnya.

“di dekat kandang ayam?”.

“iya, bisa dibayangkan bau dan
kotornya kan?” mata Ceci
berkaca – kaca, aku menyimak pembicaraan mereka dari jauh.

Ternyata menjadi
pasukan kambing tidak begitu parah ketimbang harus berguling – guling di tanah dekat kandang ayam yang banyak kotorannya.

Ebid, panitia yang baik hati asal Ternate menghampiri kami. “Siap – siap jurusan
bahasa Inggris, siapa yang suaranya bagus?” Tanya Ebid pada kami. Beberapa
peserta menunjuk Awin.

Selepas tembang Karena Cinta, dari jurusan bahasa Indonesia, jurusan kami dipanggil.

“Assalamualaikum dan selamat malam, terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan. Well, saya Awin mewakili jurusan bahasa Inggris ingin mempersembahkan sebuah lagu khususnya buat saudari kita Putri Rachmaniar yang
berulang tahun hari ini. Semoga lagu ini bisa menghibur.”

Slamat ulang tahun ku
ucapkan… sambutlah hari indah bahagia…
Slamat ulang tahun untuk kamu… panjang umur didalam hidupmu…
Trimalah kado kecil dariku… yang kupersembahkan lewat
laguku ini…

Akhirnya senyumku kembali
merekah. Aku tidak sedih lagi
dan lebih santai menghadapi Baksos dan Pengukuhan pada
awal September 2005 ini. Sungguh ini merupakan kado yang paling mengesankan
selama aku hidup di dunia.

***

<3 Thanks for all my Englisih Department friends 2005 & all my seniors :)

Minggu, 09 Desember 2012

Mengalah Untukku

Sudah lama aku berdiri di tengah deretan kata

M-E-N-G-A-L-A-H.

Alasanku di tiap bait selalu sama: ingin menjadi yang terbaik.

Namun pada tinta terakhir, yang kudapatkan selalu sama dengan cinta kemarin: Kecewa.

Tahun berputar dua kali menemani kesendirianku. Saat aku mulai menulis lagi dengan pena baru, tidak ada sepenggal katapun yang tertulis. Kuhindari setiap kata "mengalah", kuhapus jauh dari ide pokok tulisanku "penghianatan dan air mata."

Tidak, tidak ada seseorangpun atau mungkin belum ada yang mampu berfotosintetis menjadi seseorang yang kunantikan.

Mereka tahu aku sendiri, tanpa cinta. Tak jarang mereka datang dengan bungkusan do'a untukku. Namun apalah arti semua itu tanpa usaha, bukan?

Aku pun mulai berusaha. Aku berani menggadai gengsi, menghangatkan suaraku yang dingin juga membuka ruang untuk saling mengenal.

Tapi, ruang itu hanya untuk seseorang yang bisa menghibahkan kepiawaiannya dalam mengalah. Karena sudah lama aku fakir dengan kata mengalah.

Ketika telah kuputuskan ingin bahagia tanpa kata mengalah. Lampu berangsur - angsur meredup. Dan pintu terbuka lebar, silahkan pergi...

Hitam

Hapus saja asamu.
Pelangi yang kau nantikan tidak akan muncul dipelataran udara.

Sebab langit akan selalu menghitam sepanjang Desember.

Sabtu, 08 Desember 2012

Di Ujung Setapak

Hari selasa di ujung setapak terakhir kali aku melihatnya. Gumpalan darah yang tertempel di tubuhnya, menjadikan ratusan kata tak terucap.

Aku selalu mengikuti tiap episodenya. Mau tidak mau aku harus mendengarnya dan bukan karena terpaksa aku menyimak, tapi karena dia sahabatku.

Setahun sudah ia pergi. Kuping jalan setapak yang telah penuh keluh kesahnya pun merindukannya.

Sepertinya aku bingung membedakan perasaanku yang bersalah dan rasa yang tiba - tiba iba.

Tapi apakah setiap sepi selalu merangkai bait rindu?

Apakah setiap kesalahan selalu ada alasan? Lalu mengapa harus menyakiti hati lain? Bahagia buatnya adalah kesenangan diatas kepuasan. Dan rasanya tidak adil bila aku harus membelanya dan aku tau dia bersalah.

Saat itu, aku membiarkannya pergi mengikuti arah yang dipilihnya.

Lukisan Hati

Suara busuk tentangmu selalu saja harum. Tidak semenitpun mataku melihat cela di dirimu.

Setiap saat penantianku merah merona
Melukis pulau bahagia denganmu hingga gerbang pagi menutup malam.

Namun kau ibarat peluru yang tenggelam di dasar laut. Kau telah jatuh dalam dekapan samudera, lenyap.

Dan remah - remah kenangan pun dibawa pergi semut.

Tidak ada lagi merah yang merona. keheningan pagi berselimut kabut terbang ke ujung dunia.

Kudengar suara lain memanggil namaku, suara yang bersemayam dalam kuas baru.