Rabu, 26 Desember 2012

By Saying Something Stupid Like "I Love You"

Tidak ada yang salah dengan jatuh cinta. Namun, malukah aku bila cintaku di.. t o l a k?

Pagi selalu indah. Semangat tidak pernah patah. Akulah si tampan berkulit putih. Siapa yang tidak kenal denganku di fakultas?

Dan... ramai saja pagi itu, begitulah jurusan bahasa Inggris kalau sudah ada kelas C dan D. Beberapa bulan kami kuliah- Maria dan Mahmud memang selalu ribut bercanda bersama kawan - kawan yang lain.

Menoleh kesamping kanan, ada lagi yang juga gemar menarik pendengaran dengan tawa yang mungkin lucu. Mereka Welly, Nur, DJ dan yang lainnya.

Ntah ingin gabung dikelompok mana. Rasanya membosankan apalagi kalau sudah di dekat gadis dari Makassar yang ceritanya juga tidak pernah selesai tapi bang Radius Lukito dan si Riza tidak terlihat jenuh.

Aku pun duduk sendiri sambil menunggu dosen. Diantara mereka, ada satu gadis mungil yang memancarkan keindahan ditengah rasa bosan ini. Aku selalu memperhatikannya sembunyi - sembunyi walaupun harus bersaing dengan Mahdin anak jurusan bahasa Indonesia yang giat mencari belahan jiwa di jurusan bahasa Inggris.

Gelisah lalu menyusup dan memburu ditiap langkahku. Sebelum aksi Mahdin menimbulkan reaksi dari gadis kelas D yang manis dan baik itu... aku harus mengungkapkannya. Bukankah cinta itu butuh perjuangan?

Selama dosen Speaking menjelaskan, pikiranku bercampur aduk. Siang malam hatiku kurang tenang; ingin sekali selalu dekat dengannya, takut dia direbut orang dan sumpah... dia benar - benar membuatku nekad.

Selepas kuliah, aku pulang ke kos. Memilih kaos terbaik, setelah mandi dan memandang cermin sambil merangkai kata.

"Riri, sebenarnya... aku... hmmm... aku... hmmm... Riri... kamu mau, hah... susah juga merangkai kata."

Akhirnya aku melanjutkan perjuanganku. Bentor telah melaju kerumahnya. Setiap pembelokan hatiku berdesir. Roda bentor yang berputar kencang sama kencangnya dengan detakan jantungku.

"stop... om bentor... di depan pagar putih."

Turunlah aku, ini baru langkah awal dan berlanjut sampai depan pintu rumah. Setelah memanggilnya, ia pun keluar.

"Ri'..." kataku.

Sorotnya menjadi tajam. Aku jadi kaku. Tiba - tiba Riri berkata "Maaf, kalau benar itu maksudmu kesini, lebih baik kamu pulang saja. Saya tidak bisa, Den."

***

Sore  dan kisah terlupakan terbayang lagi ketika peristiwa merah merona itu mendayu - dayu dalam suara si gadis Makassar teman kelas Riri. Sungguh gawat.

"eh... hehehe kamu jangan asal. Aku nggak merasa tuh!" kilahku.

"hehehe... Deni, suatu saat aku bikinkan cerpen yah?"

"ah... jangan.. jangan... nanti yang lain tau bisa gawat."

"biar semua tau, bahwa kamu itu pejuang sejati."

"Put....! jangan lari... awas kamu yaaah??"

-Selesai-

Special for my funny and handsome friend, sometimes we have to say it even though it was unsaid.

Let's sing together... all English Department 2005...

"and then I go to spoil it all by saying something stupid like I love you... I love you..."

Selasa, 18 Desember 2012

Preparing for Holiday

Hi guys.... Assalamualaikum...

This is my second post about my holiday planning. 2 months ago in a post "We'll Go to Jogja" I have shared about how interesting if we have holiday with our best friends.

In the beginning of December, Eka treated us J.co and Ice tea at MP... we disscussed about this plan. thank you for the donnuts (*¯︶¯*)

Well, especially for me, it's very difficult to saving money for this holiday. So many obstacles and I keep on going ahead... (nekad)

What to say, we have bought tickets. So, it's too late to say "cancel"

InsyaAllah I'll find the way. The first time I was so steressed by this plan and about money money money... (╥╯﹏╰╥) but alhamdulillah suddenly I got side-job that I had to teach my old student who has moved to Jakarta... He was in Makassar for holiday and his mum asked me to teach him reading and writing just for 8 days.

I excited, but... I didn't teach him 8 days, it was only 3 days... (ˇ_ˇ'!l) he went to Jakarta earlier than the schedule.

it means that the less money I'll get (it hasn't been transfered yet ╭(╯ε╰)╮ but it's ok)

Now, the plan has been changed. After Surabaya we'll go to Kediri... plan to visit Gumul again (for me) and lucky for Eka and JM who desire to try the train cuz we'll be there by train, we'll go to Jogja...

Moreover, my uncle has given permission to sleep to his "pavilliun" (hehehe is it correct??!)

I am glad to know 8 days more to go to Jogja but so wozzy to remember that I haven't got money to prepare... I do need much money.

انشـــــاء الله  Allah will help me... Aamiin. Send me money ya Allah... only You can help me

( ~ _ ~ )
  (")(")    

Spice up your life,
Poetry.



Sabtu, 15 Desember 2012

Unforgetable Birthday

Gorontalo, 2 September 2005. Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Merah Marun mengadakan Bakti Sosial atau Baksos dan Pengukuhan Mahasiswa Baru 2005 – 2006. Pagi – pagi buta aku sudah siap. Rencananya kami
akan menginap tiga hari di desa Pone, kabupaten Limboto Barat. Tidak ada ponsel dan tidak ada
capan selamat ulang tahun untukku hari ini.

***

Tibalah aku pada sebuah kampus Merah Marun yang teduh dan bersih. Sudah tersedia beberapa alat
transportasi. Dileherku
tergantung sebuah pita kecil berwarna ungu dengan karton putih berbentuk persegi panjang dengan tulisan EXOTIC.

Salah satu panitia yang bernama Semon membacanya dan tersenyum kecut, “heh… emangnya kamu exotic?!” dengan air wajahnya seolah memandang enteng. Aku hanya diam dan
memperhatikannya, seorang senior yang caranya menatap dan pertanyaannya membuatku tersinggung, baru kali ini aku menemukan ada orang yang dengan gaya yang tidak up-to-date juga wajah yang pas – pasan menghina orang lain. Tapi sudahlah, kelihatannya dia cuma cari sensasi.

***

Beberapa lama kemudian, kami memasuki desa Pone, Limboto Barat. Ternyata Pone sangat dekat dengan kota. Suasananya juga tidak seperti dugaanku. Pone adalah desa makmur, terlihat dari bangunan – bangunan rumah yang asri dan sama seperti rumah – rumah di kota pada
umumnya. Sepanjang perjalanan, aku sering menemukan bunga kertas atau Bougainville dimana – mana, hampir disetiap halaman rumah penduduk baik di kota maupun desa. Mungkin bunga itu sudah
menjadi ciri khas Gorontalo.

***

Kami duduk diatas rumput hijau, taman bunga yang cukup luas untuk menampung kami yang berkisar 124 orang. Di depan kami ada salah seorang senior yang paling rapi. Rambutnya pun rapi belah tengah dan terlihat lembab oleh minyak rambut. Terlihat dari kulitnya yang putih dan bersih, ia pasti rajin merawat diri.Setidaknya enak dipandang dan bahasanya juga santun. “kak Joey, kita kan udah digodok bulan lalu. Kok masih ada penggodokan sih?” Tanya Mexy kritis pada senior paling rapi tersebut. “adik – adik yang saya hormati, sekali lagi saya sampaikan pada kalian bahwa kegiatan bakti sosial dan pengukuhan ini adalah kegiatan puncak kalian. Soal penggodokan, kami tidak akan menyiksa kalian, kami hanya melatih kalian agar otot – otot yang mulai kendor selama kalian berlama – lama di rumah
menunggu momen menjadi mahasiswa bisa kencang
kembali dan kalian bisa lebih semangat untuk kuliah.” Jelas Joey. “tapi kak, saya pikir kegiatan
bulan lalu cukup menguras tenaga kami, buktinya berat badan saya udah turun. Nih… celana saya sedikit longgar.” Protes Maria asal Luwuk yang badannya agak bundar, istilahnya Poco – poco. Joey mengangguk – angguk. “kalian tidak usah banyak protes, justru kalian harus menikmati momen ini, ini adalah
ajang bina akrab. Jika
terdapat kekerasan kalian diperbolehkan melapor ke kantor pusat kampus. Lagian, hari terakhir kita akan mengadakan hari pembalasan. Jadi kalian bisa balas dendam
pada kami. Yang jelas kami tidak jahat – jahat amat kok.” Semua mahasiswa baru berseru dan mengeluh. Sementara ketua panitia baru saja selesai rapat bersama
ketua Senfak dan panitia lainnya.

***

“assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu dan selamat siang adik – adik, siang ini kita istirahat sejenak.Kalau ada yang ingin bertanya seputar pengukuhan, saya
persilahkan.” Sambut Kak Baim, ketua panitia yang selalu berusaha bijak dan ramah pada kami. Tidak seperti panitia lain yang diatur untuk menjadi panitia yang galak dan
tegas.

“kak Baim, masa sih hak asasi manusia kami harus dicabut selama tiga hari?” suara Mexy kurang senang. “itulah peraturannya. Hak asasi manusia kalian dicabut itu hanya istilah saja. Kalian harus taat pada peraturan, meskipun banyak yang bilang
peraturan ada untuk
dilanggar. Kalian jangan coba – coba melanggar peraturan sebab kalian akan mendapat hukuman.” Mexy cemberut dan
terpaksa menerima
pencabutan hak asasi manusia kami.

“oh ya, mana yang namanya Putri Rachmaniar?” Tanya si
ketua Panitia. Aku
mengacungkan tangan
kananku pelan – pelan. Kaget, heran dan tiba – tiba menjadi pusat perhatian. Aku menatap penuh tanya pada Ibrahim alias Baim yang duduk dihadapan kami.
“Putri, silahkan maju
kedepan.” Perintahnya dengan senyum tipis. Masih ragu, aku terus memandang lelaki
berambut lurus itu dengan sejuta tanya. Aku tidak akan rela kalau – kalau sang ketua panitia itu memerintahi aku menjadi kambing, seperti yang dilakukan Joey pada Maria dan Mexy.

Sang panitia mulai mengeluarkan sebuah kalimat mengejutkan. “untuk semua mahasiswa baru jurusan bahasa inggris, saya minta kalian menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk saudari Putri Rachmaniar yang
berulang tahun hari ini.
Nyanyikan semeriah mungkin sambil menepuk tangan!” perintah Baim membuat mataku melotot dan wajahku merah merona sekejap. “hari ini Putri berulang tahun kan?” Baim memastikan dan aku
mengangguk sambil tersenyum.

Happy birthday to you… happy birthday to you… happy birthday… dear Putri, happy birthday to you… happy birthday prisil…. Happy birthday happy birthday, happy birthday to you

Lagu dan acara salam –
salaman selesai. Baim kemudian memberi informasi seputar
acara pembukaan malam ini pada jam tujuh. “kalian harus memakai jas almamater, kemeja putih. Bagi perempuan rok hitam dan laki – laki celana hitam tentunya!” tegas Joey sambil melipat kedua tangannya.

“satu hal yang tidak boleh kalian lupakan, sebelum memakai jas almamater kalian yang berwarna merah marun itu, kalian harus memakainya terbalik. Bagian dalam dijadikan bagian luar dan bagian luar jadikan bagian dalam, mengerti??”

“kenapa harus terbalik?” Tanya Elvis. Mendengar namanya mengingatkan aku pada salah satu penyanyi legendaris. “kalian harus tampil beda.” Jawab Joey sangat serius.
Semua tampak kebingungan, tapi apa daya, selama beberapa hari hak asasi manusia kami dicabut oleh panitia. Kami cukup mendengar dan mengerjakan perintah
mereka.

***

“yang terlambat merangkak sampai
ke lapangan !” lanjut panitia dengan kejam malam itu. “lima menit lagi, ayo… percepat langkah !” Nune tampak garang,
padahal laki – laki ceking itu biasanya bersikap konyol dan humoris. Aku berlari bersama yang lain, akhirnya kami sampai pada wilayah jurusan bahasa Inggris tepat jam 7 malam. Semua lengkap, untunglah
tidak ada yang kena hukuman. Tapi tiba – tiba ketua Senfak datang dengan raut wajah kurang senang. Ia berdiri menolak pinggang.

“apa – apaan kalian?” Tanya Jefri marah. Kami ketakutan, was – was akan mendapat hukuman. “kalian ini mahasiswa atau bukan?” Tanya Jefri lagi. Aku menyadari jas terbalik
yang kami kenakan.

“sebelumnya saya sudah memberi tahu kalian, malam pembukaan kalian harus mengenakan busana muslim. Apa kalian menantang saya?” jelasnya sedikit berteriak. “maaf kak, kami hanya mengikuti instruksi dari panitia – panitia jurusan bahasa Inggris.” Maria
berusaha membela diri.

“saya pemegang hak tertinggi disini, saya yang menentukan kalian kan sudah diberitahu, kalian ini
membuat saya sangat
kecewa.”

Baru kali ini aku melihatnya semarah itu, Ketua Senfak yang sedang kurang sehat meninggalkan kami dengan kekesalan.

Acara berlangsung sangat – sangat membosankan. Jurusan bahasa Inggris berada di tengah – tengah lapangan. Sebelah kanan kami adalah jurusan bahasa Indonesia. Sangat dekat dariku seorang
teman sejurusan denganku sedang bercerita dengan Ceci, dari jurusan bahasa Indonesia. Ceci yang terisak – isak
menceritakan kisah siang tadi. Mereka diperintahkan
berguling – guling ditanah yang banyak kotoran ayamnya.

“di dekat kandang ayam?”.

“iya, bisa dibayangkan bau dan
kotornya kan?” mata Ceci
berkaca – kaca, aku menyimak pembicaraan mereka dari jauh.

Ternyata menjadi
pasukan kambing tidak begitu parah ketimbang harus berguling – guling di tanah dekat kandang ayam yang banyak kotorannya.

Ebid, panitia yang baik hati asal Ternate menghampiri kami. “Siap – siap jurusan
bahasa Inggris, siapa yang suaranya bagus?” Tanya Ebid pada kami. Beberapa
peserta menunjuk Awin.

Selepas tembang Karena Cinta, dari jurusan bahasa Indonesia, jurusan kami dipanggil.

“Assalamualaikum dan selamat malam, terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan. Well, saya Awin mewakili jurusan bahasa Inggris ingin mempersembahkan sebuah lagu khususnya buat saudari kita Putri Rachmaniar yang
berulang tahun hari ini. Semoga lagu ini bisa menghibur.”

Slamat ulang tahun ku
ucapkan… sambutlah hari indah bahagia…
Slamat ulang tahun untuk kamu… panjang umur didalam hidupmu…
Trimalah kado kecil dariku… yang kupersembahkan lewat
laguku ini…

Akhirnya senyumku kembali
merekah. Aku tidak sedih lagi
dan lebih santai menghadapi Baksos dan Pengukuhan pada
awal September 2005 ini. Sungguh ini merupakan kado yang paling mengesankan
selama aku hidup di dunia.

***

<3 Thanks for all my Englisih Department friends 2005 & all my seniors :)

Minggu, 09 Desember 2012

Mengalah Untukku

Sudah lama aku berdiri di tengah deretan kata

M-E-N-G-A-L-A-H.

Alasanku di tiap bait selalu sama: ingin menjadi yang terbaik.

Namun pada tinta terakhir, yang kudapatkan selalu sama dengan cinta kemarin: Kecewa.

Tahun berputar dua kali menemani kesendirianku. Saat aku mulai menulis lagi dengan pena baru, tidak ada sepenggal katapun yang tertulis. Kuhindari setiap kata "mengalah", kuhapus jauh dari ide pokok tulisanku "penghianatan dan air mata."

Tidak, tidak ada seseorangpun atau mungkin belum ada yang mampu berfotosintetis menjadi seseorang yang kunantikan.

Mereka tahu aku sendiri, tanpa cinta. Tak jarang mereka datang dengan bungkusan do'a untukku. Namun apalah arti semua itu tanpa usaha, bukan?

Aku pun mulai berusaha. Aku berani menggadai gengsi, menghangatkan suaraku yang dingin juga membuka ruang untuk saling mengenal.

Tapi, ruang itu hanya untuk seseorang yang bisa menghibahkan kepiawaiannya dalam mengalah. Karena sudah lama aku fakir dengan kata mengalah.

Ketika telah kuputuskan ingin bahagia tanpa kata mengalah. Lampu berangsur - angsur meredup. Dan pintu terbuka lebar, silahkan pergi...

Hitam

Hapus saja asamu.
Pelangi yang kau nantikan tidak akan muncul dipelataran udara.

Sebab langit akan selalu menghitam sepanjang Desember.

Sabtu, 08 Desember 2012

Di Ujung Setapak

Hari selasa di ujung setapak terakhir kali aku melihatnya. Gumpalan darah yang tertempel di tubuhnya, menjadikan ratusan kata tak terucap.

Aku selalu mengikuti tiap episodenya. Mau tidak mau aku harus mendengarnya dan bukan karena terpaksa aku menyimak, tapi karena dia sahabatku.

Setahun sudah ia pergi. Kuping jalan setapak yang telah penuh keluh kesahnya pun merindukannya.

Sepertinya aku bingung membedakan perasaanku yang bersalah dan rasa yang tiba - tiba iba.

Tapi apakah setiap sepi selalu merangkai bait rindu?

Apakah setiap kesalahan selalu ada alasan? Lalu mengapa harus menyakiti hati lain? Bahagia buatnya adalah kesenangan diatas kepuasan. Dan rasanya tidak adil bila aku harus membelanya dan aku tau dia bersalah.

Saat itu, aku membiarkannya pergi mengikuti arah yang dipilihnya.

Lukisan Hati

Suara busuk tentangmu selalu saja harum. Tidak semenitpun mataku melihat cela di dirimu.

Setiap saat penantianku merah merona
Melukis pulau bahagia denganmu hingga gerbang pagi menutup malam.

Namun kau ibarat peluru yang tenggelam di dasar laut. Kau telah jatuh dalam dekapan samudera, lenyap.

Dan remah - remah kenangan pun dibawa pergi semut.

Tidak ada lagi merah yang merona. keheningan pagi berselimut kabut terbang ke ujung dunia.

Kudengar suara lain memanggil namaku, suara yang bersemayam dalam kuas baru. 

Selasa, 30 Oktober 2012

Life VS Heart

Life is beautiful: A sentence from heart and mind when you face a problem then you can solve happily and correctly.

Hidup selalu ada rintangan, bukan?

Namun, kadang beberapa orang atau... seperti saya, selalu berfikir keras pada sebuah masalah. Padahal, segala sesuatu jika dilakukan dengan tenang then everything will be OK or even easier than what we've seen for the first time.

Rasa panik dan keinginan kuat untuk menikmati hidup bisa melumpuhkan kesabaran. Jelas sudah mengapa dikatakan "orang sabar disayang Tuhan." karena ternyata orang sabar mempunyai kelebihan tersendiri dalam mengendalikan perasaan. Dan perasaan berpengaruh besar pada kinerja otak.

Kita bisa bekerja dengan baik, bila suasana hati dan pikiran tenang.

Semoga Tuhan selalu bersama kita. InsyaAllah...


Jumat, 26 Oktober 2012

Mr. Bean

Humor in my Pre-K class.

Setelah circle time, saya mulai beratraksi di depan murid - murid saya. Peran kocak, peran nenek sihir, Sponge Bob dan sebagainya membuat saya senang bisa mengendalikan emosi murid saya yang lucu - lucu.

Pada dasarnya mereka pintar - pintar, hanya saja bosan selalu melanda. Begitupun saya sewaktu dulu duduk di bangku sekolah. Makanya mereka membutuhkan humor dan pujian di sela - sela mengajar. Khususnya pada saat mengerjakan lembar project

Saya mulai dengan mengaduk humor dalam keakraban.

"well... in this class I have some heroes and also princess' hehehe" kata saya sambil duduk di antara mereka yang sedang berusaha mengerjakan project dengan benar dan serapi mungkin. Karena mereka akan saya beri Sticker kalau projectnya benar dan tulisan serta coloringnya bagus. Dan mereka adalah pemburu sticker. hehehe

"Whitney is the Snow White, Delon is the Spiderman, Marvell is the Ben 10, Claudia is... Cinderella, Bruce is the Superman..."

Setiap saya menyebutkan nama, mereka kegirangan tapi tetap mengerjakan project mereka. Saya melanjutkan...

"Trisha is the... Sleeping Beauty, Krishie? hmm Krishie is the Batman...." dan mereka semua bersorak, "horay...!"

Tiba - tiba diantara tawa dan kesibukan mengerjakan tugas, dan sebelum saya melanjutkan, Krishie mengeluarkan suaranya...

"miss... I am Mr. Bean"

Mata saya melongo sambil tersenyum melihat keseriusan bocah berusia 4 tahun dengan senyum merekah  di bibir Krishie dan seketika kelas ramai dengan tawa. All you want is Mr.Bean, Krishie.


Kamis, 25 Oktober 2012

We'll go to JOGJA

Hal yang paling menyenangkan di dunia ini adalah ketika kita bisa berbagi. Dan hal yang paling indah adalah, ketika kita bermimpi lalu berusaha untuk mewujudkannya.

Liburan akhir tahun 2012 kali ini tidak lagi datar seperti tahun - tahun lalu. We'll go to Jogja :)

Awalnya saya bersama 2 rekan kerja saya yaitu JM dan MJ alias Marieta January, sangat ingin travelling bareng. Berbulan - bulan berandai - andai, membahasnya di jejaring sosial dan akhirnya kami nekad booking tiket untuk 4 orang; Saya, JM, Marie dan juga Ekha Jayadi yang merupakan kekasih Marie.

Bagi kami yang bukan anak pejabat, tentunya tidak gampang mengumpulkan uang. Meskipun masing - masing sudah punya penghasilan, kami juga harus menabung. Dan saya orang keempat terlemah dalam hal menabung. Tapi tenang saja... Ada JM dan Marie yang menjadi polisi dompet saya. (meskipun kadang saya nekad shopping tanpa sepengetahuan mereka)

Setiap keinginan selalu ada usaha, bukan?

Salah satu upaya kami adalah mencari tiket murah. Kami juga sering merundingkannya di ruang ngobrol Whatsapp. Yah, kami serius, sangat serius dengan rencana kami. Juga saat membeli tiket pergi, dan mencari tiket pulang.

Melihat keseriusan kami, rasanya petualangan nekad ini akan menjadi hal yang seru. Dan kalian tahu betapa serunya berlibur bersama sahabat.

Not to forget, plan is only plan but God has the power to make it happen.

Here we are Fantastic 4: Me, JM, Marie and Ekha Jayadi. We were trying to make it happen.

Akankah liburan kami benar - benar fantastic? Nantikan kisah selanjutnya, insyaAllah I'll post on here...

By Grace of Allah,
Poetry.






21 Morning

Ketika memori melompat pada episode bertahun - tahun lalu, penuh kerinduan.

Suatu pagi yang sejuk kala itu, gadis kecil menikmati keramahan dedaunan hijau tertiup angin. Seorang nenek tua berambut dan berkulit putih dengan mata sipitnya berjalan pulang dengan aroma khasnya, juga baju bunga - bunga pink kesukaannya. Selalu ramah melintasi depan rumah gadis kecil itu, lalu ia menyapa akrab pada bapak tua berkumis tebal yang selalu berdiri di belakang pagar rumahnya.

Tidak lupa, seorang ibu bertubuh kecil dengan tumpukan pakaian yang harus dicucinya. Si gadis kecil selalu mengamati setiap kejadian yang menjadi kebiasaan. Juga, motor berwarna putih yang ributnya minta ampun dan pengendaranya berkaca mata hitam:  Police glasses yang trend masa itu.

Hehehe, di sela - sela pagi itu pun nenek yang baik hati sedang membersihkan tanamannya. Aroma melati yang tak terlupakan, juga suara bidikan panah kayu buatan suaminya dari dalam rumah.

Mereka yang tiada lagi memeriahkan indahnya pagi dan keramahannya semoga Tuhan selalu bersama kalian.

Poetry. 21 Morning.
Memory of almarhumah Grandma Alimah, almarhum Grandpa Suyono and some neighbors who had passed away.

Setelah menulis 21 Morning, datang berita duka bahwa sahabat almarhumah Grandma Alimah yang tadinya ingin saya masukkan dalam tulisan do atas baru saja meninggal dunia. Rupanya memori ini ingin memberi petunjuk.

Dan...

Nothing last forever, but true friends are ever lasting memories... Rest in Peaceful sleep

Sabtu, 06 Oktober 2012

Mari Duduk Bersamaku.


Mari duduk di atas bukit bersamaku.

Pagi ini birunya langit secerah harapan kita. Kau tahu bukan, daun - daun hijau meneduhkan dan bunga - bunga sedang bernyanyi.

Mari kita duduk; mendengar harmoni pagi ini, menikmati cahaya hangat mentari, di bawah pohon damar yang teduh, berbagi sepotong roti selai nenas dan sebotol es limau kesukaanku.

Mari, duduk bersamaku.

Kamis, 04 Oktober 2012

KITA

Kita berdiri diantara panah api dan semak belukar; tertusuk duri beracun. Tangan kita tetap berpegang erat.

Kita, iya... kita.

Kau tak lagi tersenyum. Cukuplah itu, membuat kita tak berbahagia.

Kita pantas bahagia.

Dan mengapa kau hanya diam membisu?

Pandanglah sekali lagi, di sana... di depan kita masih panjang dan ini bukan akhir dari segalanya.

"Semua akan baik - baik saja."

Ingatlah selalu kalimat itu sahabat - sahabatku. Tersenyumlah, esok kita harus tetap tersenyum.

-Party, Gathering, Harmony-

Rabu, 26 September 2012

She is Needha.

Lihatlah langit, begitu biru dan awannya putih cerah.

Cerah...

Ya, secerah matanya.

Apakah kalian pernah mendaki gunung tertinggi di dunia?

Pernah lihat, tapi kali ini kita tidak sedang mengukur seberapa tinggi gunung Bawakaraeng atau gunung Alpen. Tapi badannya yang cukup tinggi.

Sudahlah... Beri tahu siapa dia.

She is Needha. My best friend yang walaupun terkesan kejam, tapi sebenarnya hatinya lembut.

Dia... yang selalu bawa tentengan dan sempat membuat saya ingin menyembunyikan tentengannya itu. Sebab tiada hari tanpa tentengan. Hehehehe...

Hmmm, dia... Suaranya lembut... Sekali mengeluarkan kata - kata, orang yang tidak cerdas mungkin tidak akan mengerti maksudnya. Isi kalimatnya selalu berisi (seperti isi tentengannya, hehehe... Peace)

Kalau kata hati Marie, "mudah - mudahan ada biskuit di dalamnya."

Kataku, "tentengan obat - obatan."

Minggu depan kami yang tersisa akan merindukan sebuah tentengan dan si jangkung yang bermata tajam. Tak seorang pun bisa merebut tentengannya, hehehehe...

"prriiiiip... Prriiiiiip...!" sempritan ketua PGH.

"Stop stop stop... Kita tidak sedang memperebutkan sebuah tentengan kan?" kata JM sambil mengeluarkan Note.

JM dan Gita akan menjemputnya...

Saya hanya bisa diam. Siang itu... saya menahannya di lantai 1, sebab saya masih menunggu satu orang murid pulang. Katanya, "hari ini terakhir saya mengajar."

Lalu?

Saya tetap ingin ditemani, tapi matanya berkaca - kaca mengenang murid - murid dan para sahabatnya. Sebelum air matanya jatuh, saya menyuruhnya naik ke lantai 2.

"sana, pergi..."

Dia dan Cenning pun kembali ke kelas. Saya tidak ingin berbalik karena saat itu saya sedang menahan kesedihanku. Lalu tetap tersenyum dihadapan muridku.

Pada saat makan bersama pun tidak ada yang membahas tentang esok hari, kami hanya membahas tentang film horor jaman dulu. Setelah itu selesai, ke kelas masing - masing dan pulang.

Di angkutan umum, saya tidak sedang cemberut karena masalah yang menimpaku beberapa hari ini. Hal itu tidak penting. Yang membuatku tiba - tiba sesak adalah sebuah kenangan.

Saat saya menyadari; besok - besok tidak akan bertemu dengannya tiap hari. Tidak mendengar nasehat singkatnya setiap ada masalah menerpa.

Sudahlah, hari ini sungguh cerah... Bulan depan dia menikah, itulah kebahagiaan yang dinantikannya. Sahabat yang baik selalu menginginkan yang terbaik untuk sahabatnya, bukan?

And the Princess will get married soon. Insya Allah :)

-Happy End-


The Carey, I Always Remember.

I always remember…

Dari tahun ke tahun,
waktu terasa cepat namun kadang begitu lambat.

Kehebatan waktu adalah kita dipertemukan dalam canda yang mungkin menyakitkan dan mungkin juga menyelipkan kerinduan; ketika kita telah berjalan pada jalur kita masing – masing, dan kita pasti akan mengingat saat – saat bersama yang
biasa saja, sederhana tapi we will always remember.

Masih terekam jelas, sang waktu mengantarku di
bulan Februari 2011. Pukul 07.10 pagi, masih sunyi. Aku duduk di antara beberapa guru. Salahsatunya dia; seorang guru yang tenang dan ramah. Kami sudah berkenalan kemarin namanya Ratna.

Aku juga tidak lupa dengan sebungkus keripik yang ditawarkannya. Mungkin dia gemar makan keripik, sebab sudah 2 hari dia menawarkan.

Perbincangan berlanjut pada latar belakang pendidikan kami. Jarang bagiku mudah akrab dengan orang baru, kecuali ada kesamaan dan kata kuncinya adalah: Perancis.

Sarjana Sastra Perancis jebolan UNHAS bertemu dengan diriku yang tergila – gila dengan kesenian dan keindahan Perancis. Bukan hanya itu, perbincangan kami berlanjut pada ‘kenal ini- kenal itu’ dan singkatnya kamipun akrab.

Kami juga sering pulang bersama, karena sejalur angkutan umum dan kemudian banyak kisah – kisah yang dibincangkan di dalam angkutan umum berkode E tersebut. Mulai dari kisah cinta dan banyak hal.

Ms. Carey, begitulah panggilan akrabku padanya. Tidak ada
yang menyangka bahwa gadis lembut dan pendiam sepertinya bisa gila juga. Seumpama Isaac Newton sang penemu teorema binomial, diriku adalah penemu sisi lain
dari Ms. Ratna yang
sebelumnya belum diketahui guru – guru lain.

Beberapa tahun menyendiri dan diam dalam abu – abu, gadis kelahiran tahun 1984 yang mempunyai cirikhas rambut belah tengah dan kuncir ekor kuda dan tak pernah sekalipun menguraikan rambutnya kemudian terurai di suatu ketika.

Hari itu, kami ditraktir karaoke dan satu lagu yang
entah mengapa tiba – tiba membuat Ms. Ratna bergairah lalu ia berdiri dengan semangat bernyanyi dan tentunya suaranya powerful bak Mariah Carey. Satu hal yang
mencengangkan dan membuatku tertawa terbahak – bahak adalah saat ia melepaskan ikat rambutnya lalu menyibak rambut yang tidak pernah sekalipun diurainya didepan teman – teman lain sambil bernyanyi. Sejak saat itu perubahan menghiasi tiap kelas, dengan senyum dan candanya bersamaku dan beberapa teman lain seperti Marie, JM, Sita, Gita, Cenning, Needha, Mira, Yuni dan Dedew.

Ada satu alasan dari semua perubahan di atas. Penjelasan mengenai perubahan itu, selain penemuanku bahwa ia adalah seorang teman yang murah hati dan tidak mudah percaya pada orang dan telah menemukan sahabat yang belum ia dapatkan di tempat itu; sahabat yang
mempersatukannya dengan sahabat lain yang tak kalah baik dan gila. Sahabat yang sering berulah dan unik yaitu Poetry Spice ^^

Karena masa – masa indah dan suram itu tak terlupakan, so I always remember. Juga ketika ia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Tempat dimana kita bertemu dan membuat karya – karya yang terpajang beberapa waktu lalu terganti dengan karya lain. Namun dalam karya tersebut; ada potongan – potongan kebersamaan.

Terima kasih atas kebaikan yang selama ini terjalin, bantuan – bantuan yang belum bisa terbalaskan dan maafku atas candaan yang menggores hati.

Don’t forget our class “Casablanca” and remember I’ll hide your shoe anytime, because I like it ;’)

Au Revoir Mademoiselle Carey,

Poetry Spice


Selasa, 25 September 2012

Tempat Itu.

Hidup juga sebuah perjalanan. Kita akan terus berjalan, atau singgah pada suatu tempat kemudian melanjutkan perjalanan kita.

Di tempat itu; mungkin bagi mereka ataupun saya hanyalah sebuah persinggahan. Bila nyaman, kita akan bertahan lama.

Tapi bagi cinta tempat itu bukan sekedar persinggahan. Kita belajar bijak di tempat itu; memilih dengki atau kebaikan. Belajar mencintai yang tidak kita suka. Kita belajar mencintai di tempat itu. Juga belajar mengenal kerasnya kehidupan nyata. Bahwa sebuah perjuangan itu akan menghasilkan cinta.

Cinta yang universal; saat bersinggungan dan bercerai. Mengenal dan melupakan. Tertawa dan menangis. Jatuh kemudian bangun. Bertemu dan berpisah lalu berjanji bertemu kembali. Ada manis dan pahit, seperti coklat. Itulah cinta, universal.

Kelak, kita akan berpisah... Somehow, perpisahan bukanlah akhir. I just want you to remember that we have ever felt the happines freak laugh and sad moment together.

Karena tujuan sebuah perjalanan adalah Cinta. Sebelum kita berpulang pada Sang Pemilik Cinta.

And time is fast but short sometimes. Tempat itu penuh cinta bagi para pecinta. kita pergi dengan bekal cinta dari tempat itu.

Terima kasih cinta...




Minggu, 23 September 2012

Too Late to Say I'm Sorry

Tentang provider yang sering bermasalah.

Semenjak bekerja terlalu fokus, dia sudah jarang menerima panggilan masuk maupun membaca sms. Berkali - kali kerabat menghubunginya, tidak dihiraukannya.

Di suatu Sabtu pagi, langit gelap dan udara sangat sejuk. Gadis yang bernama Darni tertidur lelap namun tiba - tiba rasa lapar membangunkannya. Tepat pada saat ia bangun, ada sebuah pesan masuk di ponselnya.

Hai Dar, hri ini kmu sibuk nggak? Aku btuh bntuanmu, kalau bs kta ktmuan jam 10 pagi di cafe langganan kita dlu.

Yana.

Rasa lapar membuat Darni hanya membaca isi pesan tadi.

Di dapur yang kotor dan berantakan Darni berdiri sendiri menggoreng telur mata sapi. Lalu membuka kulkas dan meracik sambal kecap kegemarannya.

Setelah makan, ia kembali tidur. Begitulah kebiasaannya tiap hari Sabtu.

Hingga siang pun menyapa, tapi kali ini siang tak bersama mentari. Aroma tanah basah berkelindan di udara. Listrik padam, siang itu pesan singkat yang sama dari Yana terkirim lagi dan masih diabaikan.

Sudah jam 04:00 sore, hujan semakin lebat. Darni terbangun untuk buang air kecil. Saat ia melintasi meja kecil yang penuh dengan tumpukan buku, tanpa sengaja ia menyambar buku - buku tersebut dan sebuah buku agenda tua menghalangi langkahnya.

Bukankah itu buku Yana yang pernah kupinjam?

Tanya Darni dalam hati dan bergegas ke toilet.

---

Dua hari kemudian, Darni pulang larut malam. Udara terasa sangat panas. Listrik padam dan ia tidak bisa tidur. Satu - satunya elektronik yang menemaninya hanya ponsel biru kesayangannya.

Sambil dengar musik, ia membuka galeri foto lalu ia membuka kotak masuk pesan.

Yana

Yana adalah teman lama yang sempat dekat dengannya, dulu. Sebelum Yana memergoki Darni bermesraan dengan kekasihnya waktu itu.

Meskipun tidak satupun dari mereka melanjutkan hubungan dengan Gusti, pertemanan mereka tidak seharmonis dulu lagi.

Air mata Darni menetes bersama riuh hujan yang mulai turun. Malam itu, kenangan mereka bersama terputar kembali. Bagai sebuah film di bioskop; layarnya besar dan suaranya menggelegar. Ia menyesali yang telah terjadi.

Yana, sblmnya dri dlu sy ingin minta maaf...mslh gusti. Bknx sllu ingin mnghindar, tpi kau tau...sy sbg tmnmu mrsa malu tlh mrebut kksihmu :'(
Yan, I'm so sorry....

Pesan Darni telah dikirimnya namun masih tertunda karena jaringan yang bermasalah.

Masih dalam keadaan sedih, ia tertidur pulas. Bantalnya basah oleh air mata penyesalannya.

---

Pagi kembali mendung, di bulan Februari yang seharusnya ceria nampak suram. Langit yang gelap dan dingin yang mencekam. Ada suara pintu pagar yang terbuka, Darni menuju ke arah ruang tamu.

Matanya merah dan bulu kuduknya merinding. Tidak ada siapa - siapa. Ia pun berbalik ke kamarnya dan mencium bau parfum yang mengingatkannya pada sosok Yana.

Diraihnya ponsel yang berada di atas tempat tidur dan menelfon Yana. Panggilan pertama dan kedua terabaikan, ia mencoba memeriksa pesan yang dikirimnya semalam namun belum juga terkirim.

Hingga sepuluh kali ia mencoba tetap tidak dijawab Yana.

Penasaran, Darni lalu bersiap ke rumah Yana meski hujan lebat meramaikan kota Daeng.

---

Ditengah perjalanan, motor Darni mogok dan terpaksa ia harus berhenti disebuah warung kecil untuk berteduh.

Sambil menunggu hujan dan motornya yang diperbaiki montir, ia kembali menghubungi Yana. Dan panggilannya dijawab.

"hai Yan, kamu lagi dimana sekarang??"

Tidak ada suara diseberang sana, entah jaringan yang mempermainkannya atau derasnya hujan membuat Darni tidak mendengar suara Yana. Ia menghubungi Yana lagi.

"halo... Halo... Yan, kamu bisa dengar?"

Terputus.

"shitt...!!"

---

Sore begitu cepat menghampiri. Hujan reda dan Darni yang sempat pulang ganti baju bersiap - siap ke rumah Yana.

Sesampainya di rumah Yana, tak terlihat tanda - tanda keramaian. Lorong yang berkelok - kelok terlihat sepi, hanya Adzan Maghrib dari Mushollah yang terdengar. Darni mengetuk - ngetuk pintu rumah Yana. Tapi tidak ada suara atau jawaban.

Ia mengintip di jendela, matanya mengintai ruang tamu. Tidak ada siapa - siapa. Kemudian ia mengetuk lagi, lebih keras.

"Yan, Yana... Ini saya, Darni. Kamu ada di dalam?"

Tidak bosan ia mengintip lagi, sekilas ada seorang gadis berkerudung putih melintas dari depan kamar Yana menuju ruang lainnya.

Itu seperti Yana, apa Yana tidak mau bertemu denganku? Tanya Darni dalam hati.

Putus asa, Darni pulang dengan kecewa. Sepanjang perjalanan ia tidak habis pikir, mengapa Yana tidak ingin membukakan pintu? Lalu apa maksud dan tujuan Yana ingin bertemu dengannya?

---

Darni yang tinggal sendiri di rumah kontrakannya duduk termenung di ruang tamu. Angin bertiup kencang lalu disusul oleh guntur dan hujan. Suara hujan menggantikan suara tangis yang tertahan.

"I wish I could turn back the time and I'd prefer my friendship" curahan hati Darni di akun Facebooknya.

Beberapa menit kemudian ia tertidur.

Malam yang sunyi dan hujan deras, Yana dengan kerudung putihnya membuka pagar Darni. Wajah Yana tidak seperti biasanya, ia tampak lelah dan matanya tersimpan berjuta duka. Diketuknya pintu rumah Darni.

Kaget, Darni segera membuka pintu dan terpaku melihat Yana. Kejadian setahun lalu terasa seperti baru terjadi kemarin. Mata sembab yang dipandang Darni, memancarkan kata - kata yang tak terucap.

"Yana, I am sorry..." Darni terisak, dadanya sesak. Kemudian tak mampu berkata - kata lagi.

Darni tak mampu menahan tangisnya, ia juga hanya bisa melihat Yana beranjak pergi tanpa kalimat sedikitpun. Darni terus menatap Yana yang semakin jauh.

"Yana...!" suara Darni melemah, keringatnya bercucuran dan ia terbangun.

Matanya terpaku pada sebuah pintu yang masih tertutup. Hanya mimpi.

"apa itu hanya mimpi?"

Darni menyibak rambut panjangnya lalu menghapus keringatnya. Ponselnya bergetar. Ada pemberitahuan dari akun facebooknya.

Mala Sari mengomentari status anda.

"kesempatan kadang tidak datang dua kali. Besok ada takziah di rumah kakek Yana."

"Kakeknya Yana meninggal dunia?"

"oh, brarti kamu blm tau yah?"

"apa itu? Beberapa hari ini saya belum online."

"Maaf, Darni... Yana sudah meninggal 3 hari yang lalu, saya pikir kamu sudah tau." jawab Mala Sari membuat Darni merinding.

"3 hari yang lalu? Perasaan, hari sabtu lalu Yana masih sempat sms sy deh..."

"iya, dia meninggal 3 hri yang lalu kecelakaan. Hri sabtu malam, malam minggu itu hujan keras ada supir truk dgn kcepatan tinggi menyambar Yana." lanjut Mala Sari membalas komentar Darni.

Kemudian salah seorang teman SMA mereka mengomentari status tersebut.

"kata kakek Yana, pagi itu almarhumah rencana menemui temannya, ia membawa sebuah kado yang ikut tergilas dengan beliau. Sungguh tragis. Saya sempat melayat malam itu, dia pakai jilbab pemberianmu Darni :'( saya msih shock ingat kejadian itu."

Wajah Darni berubah pucat pasi, tangannya gemetar setelah membaca komentar - komentar temannya. Dan dibalik pagar ada seseorang berkerudung putih berdiri sambil membawa bingkisan kado.

-The End-

*Cerita ini hanya fiktif belaka. This is my first fiction story. Request dari seorang teman. Penulis mempersilahkan kritik dan saran. Semoga terhibur... ^^v Remember tidak ada yang perlu ditakuti selain Tuhan, Allah selalu melindungi ummatNya. Dan... Sayangilah sahabatmu karena sahabat adalah teman terbaik anda.

Spice Up Your Life,
Poetry Spice


Sabtu, 22 September 2012

I Want to Know What Love Is

♫♪♫♪

I gotta take a little time
A little time to think things
over
I better read between the
lines
In case I need it when I'm
colder

In my life there's been
heartache and pain
I don't know if I can face it
again
Cant stop now, I've traveled so far
To change this lonely life

I wanna know what love is
I want you to show me
I wanna feel what love is
I know you can show me

I'm gonna take a little time
A little time to look around
me
Ive got nowhere left to hide
It looks like love has finally
found me

In my life! there's been
heartache and pain
I don't know if I can face it again
I cant stop now, I've traveled so far
To change this lonely life...

I wanna know what love is
I want you to show me
I wanna feel what love is
I know you can show me
I wanna know what love is
I want you to show me

And I wanna feel, I want to
feel what love is
And I know, I know you can show me

show me

I wanna know what love is,
lets talk about love
I want you to show me, I
wanna feel it too
I wanna feel what love is, I
want to feel it too
And I know and I know, I know
you can show me
Show me love is real, yeah
I wanna know what love is...

♫♪

Mariah Carey


Jumat, 21 September 2012

Bonheur

Segala sesuatu berawal dari mimpi.

Akankah suatu saat nanti mimpi itu kan tercapai? Ntahlah, mungkin.

Suatu saat nanti aku akan duduk pada sebuah taman dalam impianku, duduk bersama orang yang kucintai. Ntah siapa dia namun aku selalu ingin kesana; menikmati udaranya, memandang sebuah menara eksotik, berbagi kisah sederhana dan merencanakan berbagai target.

Impossible berawal dari kata: I'm-possible, menurut banyak orang.

Semoga Tuhan mengiyakan, alam semesta berpihak padaku. Dan segala sesuatu selalu kuserahkan padaNya.

Suatu saat nanti di kota Paris

や♡έ╫яγ



Carilah Aku.


Waktu akan selalu berdetik, bergeser dari menit ke menit.

Tahukah kau saat terindah dimana aku menangis dan kau membuatku tertawa?

Tapi...
Bukankah cinta tidak perlu diungkapkan?
Cinta akan menemukan jalannya.

Tepat disampingmu, disitulah tempatku. Kau hanya perlu sedikit mengejarku dan mencari tempat persembunyianku.

Bila saja ada jalan pasti untuk kita bertemu, entah kapan. Tuhan masih ingin merahasiakannya.

Carilah aku,

-Poetry Spice-


Rabu, 19 September 2012

Red is Love


I remember when I was a little girl... I saw the red bow hairclips and I loved them so much. My mum didn't like red and almost didn't give me money to buy them then I begged as always.

I felt happy when I bought even if my mum said the bows were old-fashion.

Long time ago, I used to buy red t-shirt. I was 14 years old, my mum told me that red is satan's colour, she was still hate red.

But my mum and daddy love me so much, they always try to make me happy.

Then I like another colour: black. But I couldn't help my self everytime I saw some red clothes, stuff, and many more...

Now... I am 25 and I feel free to buy what I want. But still I wanna thank to my lovely parents... they are my love, who always give me  beautiful colours in my life and set me on my path.

With a million Love,

ρ♥έτяγ



The Summary of July to September 2012

Joie De Vivre... Nikmati hidup senikmat mungkin.

Especially for this term, I am glad to have a very wonderful life.

Menjadi guru pre-school, suka duka terlukis indah. Banyak kejadian lucu yang tidak bisa dipaparkan satu per satu. Tapi bekerja dengan hati, kita akan selalu bahagia :)

Pada term kali ini, rasa bosan menghampiri saat saya tahu akan mendapat kelas Beginner. Why?? Rindu suasana Toddler class. Mengingat kembali masa training saya dulu bersama toddler yang lucu - lucu. Dan... thanks God, Head Master meng-iyakan.

July 2012 saya kembali memegang 3 Toddler. Jessica Aurel, si blasteran German & Indonesia yang ibunya sangat ramah, dermawan dan baik hati. Hmm, namanya Bunda Raiza.  Awalnya senang, Aurel si bule mempunyai wajah cantik. Matanya yang tajam, bibir merah dan kami sangat dekat. Tapi... untuk mengajar Aurel; saya harus memutar otak, mencari cara mengatasi sifatnya yang pembosan. I started from zero to teach her, and the result... Now she can recognize some shapes, letters, numbers, colours,etc. She'll move to Beginner class :')

The next is Kimberly. She's a cute little student who likes to say "mau makan... mau minum... mau e'e..." dengan logat khasnya :)

Kimmy, awalnya sangat pemalu dan nyaris tidak mengeluarkan suara. Butuh 3 minggu beradaptasi, mulai dengan senyum... You'd hard to see her smile. But she did some improvements. Kimmy yang sekarang, sudah agak ceria dan mau beradaptasi dengan teman - teman juga Mbak Ciya CS di pantry (khusus untuk washing hands+pee+poo). Term depan yang tinggal dihitung jari, Kimmy akan stay di Toddler memperlancar lagi hafalannya :)

The 3rd Toddler is my handsome student Muhammad Ataya Beckham. Surprised to hear his nick name "Beckham"... but I know why did Ms. Dina and Ms.Hana trust me to teach him cuz I LOVE all the things about SPICE GIRLS and ofcourse Victoria Beckham.

Mulanya saya sangat tidak menduga... Beckham sangat aktif dan tampaknya belum menemukan chemistry. Setiap datang kesekolah Beckham harus menangis dulu. Tapi, sebulan berikutnya Aurel membantu saya menenangkan Beckham. Seperti kata receptionist, "Beckham senang dengan yang cantik - cantik." hmmm untung saja, kata pengasuhnya... Menurut Beckham Miss Poetry itu cantik xixixixixixi... (jadi malu...) Dan Next term, Beckham masih harus berlatih untuk menjadi murid yang tidak cengeng lagi. Luv u Beckh :)

Di kelas pagi juga tidak kalah menyenangkan dan bonus beberapa kali komplain. Pertama, mizzundastood. About Cheryl's mum yang salah paham, kenapa anaknya selalu menangis. Padahal di kelas Cheryl sangat diistimewakan. But now it's better and normal. Yang kedua si Ayumi's mum... Can't tell but I wish next term she'll get the best class (without me) and hope she'll not regret to let my wonderful class xixixixixi...

From the beginning... Bad news, missundastood are not an obstacle for me to be a good teacher. Cuz the real happen will always be fun and smart.


Minggu, 16 September 2012

My Colourful 25th Birthday

I'd like to tell my colourful birthday :)

Saya lahir di Malang, tepat pada tanggal 2 September 1987. Tahun ini saya berusia 25.

Sebelumnya, tidak pernah membayangkan pada hari ulang tahun saya akan penuh dengan warna. Kecuali tradisi sahabat - sahabat saya di Sekolah (PGH), mereka dan saya sudah berencana untuk menggabung acara ulang tahun saya dengan Miss Ratna. Seperti biasa, setelah mengajar kami paling senang karaokean atau makan bersama, khususnya sesudah terima gaji :)

Sebelum tanggal 2 tiba, terjadi sedikit kesalahpahaman antara saya dan Evhy. Kami sama - sama tersinggung dengan masalah kecil. Pada saat itu saya sedang sensitive, tetapi awalnya hanya pura - pura marah saat Evhy menyebutku "Nenek Sihir" dan ditanggapi serius oleh Evhy.

Evhy, yang sangat mudah ciut dan cepat mengambil kesimpulan mengeluh di akun Facebooknya lalu memperkeruh keadaan. Jadilah kami tidak saling berbicara.

Pukul 00:20 tanggal 2 September hingga subuh tiba ucapan selamat memenuhi dinding akun, ponsel dan lain - lain. Sementara saya sibuk mempersiapkan diri untuk menghadiri akad nikah Ani. Salah satu anggota The Freak, karena diselenggarakan tepat pada hari ulang tahunku.

The Freak: Uyha, Wana, Listy, Masyita dan Saya harus rela melewati jalur daerah Camba ke Soppeng dengan mobil yang telah disiapkan oleh Wana. Cukup melelahkan dan membuat Listy mabuk karena supirnya ugal - ugalan.

Sesampainya disana, kami bertemu kembali dengan sahabat kami Ani setelah setahun lamanya tidak berjumpa. Suasana yang sepi dan panas di Soppeng tidak membuat kami bosan. Uyha selalu menghibur kami.

Selepas ijab kabul dan kedua mempelai duduk di pelaminan, kami foto bareng. Lalu saat pengantin melakukan sesi foto, kami naik ke atas  (rumah panggung yang terbuat dari kayu jati, tradisional Makassar.red) untuk menunggu Ani.

Beberapa ibu menghidangkan kue - kue tradisional, kami menyebutnya kue pengantin yang dipercaya bahwa bagi para bujang dan gadis yang belum menikah jika memakan kue pengantin maka akan segera menyusul alias bertemu jodoh dan meskipun hanya mitos kami selalu antusias untuk memakannya. Begitupun Uyha, walau sudah menikah di tahun 2011, Uyha yang paling tidak sabar.

Dan, para kerabat dekat keluarga Ani pun dijamu oleh tuan rumah. Sementara kami yang duduk di sudut ruang tamu sejenak dilupakan.

"wah... Kenapa kita tidak dipanggil?" tanya Uyha sambil memandang kue - kue lezat yang digemarinya.

Kerabat dan tuan rumah tak sedikitpun menoleh kebelakang mereka: kami. Hingga Uyha yang sedari tadi menunggu dan melirik kue dengan gayanya yang kocak, tak mampu bersabar lagi...

Ia mengambil sebuah guci yang terbuat dari anyaman bambu dan terbungkus kain merah berbentuk seperti gendang. Uyha pun memulai kegilaannya. Ia merogoh isi guci yang kosong dan berperan sebagai bapak yang menghitung jumlah amplop.

"haji Salihi lima puluh, haji Sahada' sepuluh... Aji Suleha sepuluh. Nda mau ja saya sisa - sisa" (kue.red)

Lalu bernyanyi sambil memukul gendang.

"teaja - teaja sisa... Bella na ma' nu tau... Bella bella na mamo... Bella na bella na tonja datang, Seratus ribu poeng di solo'... Don't forget to take away... Don't forget take away... Cucur... Egg... Takkallong... Takkallong laloi..."

Kami pun tertawa terbahak - bahak. Dan pada saat pulang, kami berencana singgah ke MJ alias Mas Joko. Penjual bakso lezat dekat sekolah kami SMAN 5 Makassar.

Dan jam 7:30 malam kami sampai di Makassar lalu menyantap bakso urat paling enak di Makassar versi The Freak.

---

Jam 8:30 malam saya sampai di rumah yang gelap karena lampu sedang padam. Pegal dan tulang seperti remuk.

Belum puas meluruskan badan di tempat tidurku, tiba - tiba datang seorang tetangga yang tampan, yang sudah seperti adik dan muridku. Ia membawa sebuah kue cake dengan lilin. Keluarga dan tetangga memberikan kejutan manis.

###

Beberapa hari setelah tanggal 2 September.

Suasana sekolah sepi. Desas - desus rencana yang simpang - siur makin terdengar ditelingaku. Keadaan semakin keruh setelah Evhy berkata, "tidak akan kubagi lagi candaku denganmu."

Saya memutuskan untuk tidak ikut. Miss Ratna sebagai yang dituakan, bolak - balik mengunjungi kelas saya. Tapi tidak sempat menyampaikan tujuannya, kemudian disusul oleh Mira, Sita dan Nida. Mereka hendak membujuk saya agar berubah pikiran dan bertanya apakah saya ingin join atau tidak?

Saya belum bisa menjawab, dan sedikit marah menyindir Evhy bahwa dia yang harus datang kekelas saya, bukan saya yang kesana. Tapi setelah dipanggil, Evhy tidak mau.

Dan akhirnya saya menjawab, "No... I won't."

Rasa sedih menggerogoti hari dan hati saya saat itu. Ketika melihat kesunyian; sendiri di kelas bersama guru baru, Marie yang paling dekat pun lebih memilih pergi ke Terong daripada menemaniku membeli cincin emas hadiah patungan guru - guru lantai 2 untuk kepala sekolah yang akan menikah.

I felt lonely, like I didn't have anyone to trust and be with me that day.

Sepulang sekolah, saya tidak sejengkalpun bersama PGH. Saat itu, Evhy duduk bersama yang lain dan diriku gigih menjaga gengsi dan berlalu pulang.

Di kamar, dengan penuh kekesalan dan kesedihan... Saya menghubungi JM, si pendengar setia. Mungkin pada saat seperti itu, dialah yang selalu berfikiran jernih dan memandang sebuah masalah dengan bijak.

"Jangan meluapkan emosi pada semuanya kalau yang bermasalah padamu cuma satu orang."

Dan saya setuju dengan penegasannya. Tapi selalu ada bisikan tidak terima. Rasa egois telah menjalar disetiap sudut otak saya.

"kalau memang tidak bisa, itu hak kamu, tapi jangan menutup diri dengan yang lain yang tidak bersalah, sendiri dikelas... That's just not you. Mungkin karena kau orang yang heboh dan penuh keceriaan, sementara Evhy tidak tau bahwa kau kadang suka jahil dan marah tapi tidak benar - benar marah, sebab itu dia tersinggung dan dia sangat perasa." panjang lebar JM.

"iya, iya... Sudah berapa kali kau tegaskan dia perasa, meskipun kalian mungkin lebih ingin menjaga perasaan Evhy. Tapi saya juga punya perasaan. Oke, baiklah..." jawabku kala itu.

"begini, kami pastinya tidak membela siapapun disini karena kita semua sahabat. Tapi, karena kami menganggap kau lebih kuat daripada Evhy, makanya mereka berharap dirimu yang mengalah. Bukan karena salah, karena lebih kuat." Tegas JM.

"atau, kalau memang sudah tidak bisa ditolerir, jangan biarkan teman - teman yang lain lebih memilih Evhy karena pastinya kau akan merasa sendiri. Tunjukkan pada mereka bahwa dirimu lebih pantas dipertahankan."

2 Jam bertukar pikiran, akhirnya saya sudah merasa tenang kembali.

Hari - hari berikutnya, saya mengikuti nasehat JM. Saya tidak sendiri lagi, saya mengambil alih keramaian. Sementara Evhy hanya duduk sendiri dan wajahnya tampak lusuh dan menyedihkan.

"puas?"

---

Namun, pada tengah malam saat terbangun... Tiba - tiba ada keinginan menyalakan laptop. Tanpa sengaja saya membuka kembali kenangan - kenangan PGH. Video - video kami, foto - foto kebersamaan dan memori sekejap meruntuhkan ego dan amarah.

Rasa rindu menari - nari. Seharusnya kita tidak boleh kekanak - kanakan. Apalagi usiaku kini 25 tahun dan usianya masih 24. Seharusnya saya yang mengalah.

Mulailah tanganku bermain, mengedit foto dan mengunggahnya di jejaring sosial Facebook.

---

Respon mereka sangat baik. Tapi Evhy belum online beberapa hari itu.

Sebelum mengedit foto saya membaca postingan Nida di Grup PGH:

"dikabarkan PGH akan bubar, is that true?"

Dijawab oleh Miss Ratna, "tidak benar. Semua akan baik - baik saja."

Lalu saya mengirimkan pesan pada Evhy. Bertanya tentang postingan Nida. Dan akhirnya kami berbaikan. Seperti anak - anak. Kami memang paling heboh dan kekanak - kanakan. Bahkan kejadian ini lebih heboh dibandingkan saat Nida marah pada Evhy... "what is friend for?"

Apapun itu, jawabannya adalah...

Friend is for sharing. We share love and kindness.

###

Pada sebuah rumah bernyanyi terbagus di Makassar, kami merayakan ulang tahun miss Ratna yang ditunda sejak bulan lalu dan juga ulang tahunku.

Sebuah kejutan dari PGH yaitu Birthday cake yang lilinnya susah ditiup... What a fun cake. Juga kado - kado dari mereka. Betul yang dikatakan Sita, "Don't do that anymore because we are friends."

Setelah bernyanyi dan makan kue, kami melanjutkan sesi foto - foto dan makan malam. Menu kesukaan saya, Ayam goreng lalapan.

###

Esoknya, meskipun kurang ramai, saya melanjutkan acara yang tertunda bersama guru - guru lantai 3. Sebagai ucapan terima kasih juga take and give atas kebaikan mereka padaku :)

###

Belum berakhir...

Tidak kalah spesialnya, adalah pada bulan ini seorang sahabat baik telah kembali ke Makassar. Sahabat semasa SMP.

Kami bertiga @-Wewe' yang masih lajang bertemu di salah satu Mall, makan lalu lanjut karaokean dan ke toko buku.

Bahagia, Alhamdulillah... Allah telah melimpahkan rezki dan kesehatan. Semoga di tahun ini saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan semoga kebaikan menyertaiku juga orang - orang yang menyayangiku.

I love you all.


Kamis, 13 September 2012

Special Gift is PGH

........
Speechless.

When the sky was gray then the whole world cold in the rain, I used to think that we're forever friends.

Setiap pertemanan pasti akan selalu ada perbedaan. Marah, adalah salah satu bumbunya. Ketika kita saling berjauhan; saat canda tawa tertunda sebentar oleh ego, atau... mungkin ada kecemburuan tipis, iri yang menusuk - nusuk dan segala sesuatu terlihat buruk...

"What is friend for?"
"tega..."
"Tak ada kecocokan"
"kau bukan temanku"
"dia sangat menyebalkan"
"betapa egoisnya dia"
"sungguh tidak sopan"
"off-side"
"penggosip..."
"nenek sihir"
"siluman jerawat abadi"
"tak akan kubagi lagi candaku padamu"
"I don't want..."

Itulah hujan badai beserta kilat dengan gunturnya, menggelegar menyeruak dan dingin yang menusuk.

Like a novel with its chapters. We always have our stories.

Biarkan hujan membasahi kobaran api.

"semua akan baik - baik saja."

Karena pelangi akan datang

"Don't do that anymore, we are friends" kata seorang teman.


Minggu, 09 September 2012

Chocolate

You can make your lonely day full of the special things with a Chocolate. Because a special starts with a simple thing.

Berkah kecil penuh kebahagiaan, the sweetest thing: Chocolate.


Someone

"would you like to give your heart?"

...

"I'll take care for it and I wanna give you my heart if you mind"

...

"Let me be yours, give me a chance to be your love."

...

"I will not beg you to feel the same, but let me try to catch your attention."

...

"You don't have to say anything, because I can see into your eyes... The true love has been sparkling."

...

"I guess you say 'yes' and please lend me your warm hand to know that you love me too."

And the woman that He loves hold his hand, she has found someone who loves her.

Love is a feeling, you can say what you feel but the true love is only a feeling that can't be explained why it does.

-Happy End-

Sabtu, 08 September 2012

LARI

Saat aku kecil, aku suka berlari...

Aku senang bisa berlari sekencang mungkin. Meskipun lutut berdarah, jatuh bagiku hal biasa.

Darah adalah warna kesukaanku, meskipun sakit tapi merah itu selalu menarik perhatianku.

Hingga suatu saat aku menyadari lariku tidak sekencang dulu, fisik mungkin melemah tapi aku selalu merindukan saat - saat aku bebas berlari. Dimana aku merasa tertantang dengan rasa takut akan keterlambatan, aku tetap berlari sampai ke titik akhir. Itulah aku, dulu.

Saat indah itu terekam lagi: berlari; pada saat hujan deras, pada saat anjing mengejar, lari dari serangan teman - teman jahil atau... saat aku terlambat.

Namun, kini aku tidak menyukainya lagi. Tidak, sungguh tidak suka. Lari bagiku kini sangat menyiksa diri. Jantung terasa sesak dan aku tidak sekuat dulu.

Mungkin, aku membutuhkan seseorang yang membuatku ingin lari bersamanya, berlari pada sebuah kota kecil yang penuh lampu pada saat malam menyelimuti bumi.

Tahukah kau?
Menemukan seseorang yang bersedia menemanimu lari dan menangkapmu pada saat jatuh adalah cinta yang paling indah, seperti saat kau baru belajar berlari dan orang tuamu dengan penuh kasih menangkapmu.

Karena itulah cinta sejati, cinta dari Tuhan.

Rindu

Aku tidak pernah tahu
Juga enggan mencari

Kau...

Aku, tidak pernah mengerti
Tentang keinginan
Mengenai kita
Juga merahnya cinta
Aku tidak pernah tahu
Tidak ingin tahu

Atau mungkin,
Sekedar pura - pura tidak tahu
Tentang aku yang tidak tahu

Mengapa aku harus merindukanmu?

-About Nothing; No One, Hasn't found yet-

Kamis, 19 Juli 2012

JM

Kebiasaan buruk yang
tertempel dan melekat padaku
adalah sering terlambat ke
Sekolah. Kemudian berlanjut
pada saat kuliah dan kerja.
Setiap jam 7.50 pagi, aku
sering berlarian untuk
menempelkan jempolku pada
finger-print di sekolah
tempatku bekerja. Suatu
keberuntungan bila tepat
pada jam 7.50 dan bila tidak…
aku masih punya teman yang
sering terlambat karena jarak
rumahnya yang jauh. Biasanya
kami sering bertemu di ruang
kecil untuk mengganti baju.
Kami menyebutnya: changing-
room.

“kamu terlambat berapa
menit?” tanya JM
“sebenarnya tujuh lima puluh
but pas pencet finger print
jadinya tujuh lima satu!”
jawabku dengan ekspresif.

Begitulah perbincangan kami
kurang lebih. Atau biasanya
juga aku yang duluan datang
dan ada rasa aman
tersembunyi bila aku yang
duluan datang, hmm… seperti
selamat dari bencana alam
hehehehe…

Kadang, bila tidak perlu
mengganti baju, aku langsung
mendatangi kelasnya untuk
mengecek kedatangannya:
terlambat atau tidak. Kalau
sudah datang duluan, aku
sering melanjutkan
perbincangan kami. Maklum
kami berdua punya banyak
kesamaan; mulai dari hobby,
makanan, kesan sangar, musik,
idola dan… kami sama – sama
mendapatkan hadiah mug atas
‘ehem’ prestasi
keberuntungan kami di English
meeting 2011 dan kami juga
masih mencari the right man
(^^,)

Ada satu kebiasaan JM yang
menjadi ciri khasnya, kalau lagi
malas… dia paling senang bolos
lebih dari sehari. Bisa 2 atau 3
hari. “sesak nafas” yayaya…
kerap kali bila ada guru lain
yang bertanya, “kenapa miss
JM tidak datang?” dan
kemudian ada yang menjawab,
“kasihan, dia sakit sesak
nafas.” Saat itu, selain merasa
sepi ada juga si setan yang
membisikkan prasangka buruk,
“paling – paling juga lagi malas.”
Hehehe… prasangka yang
kadang benar.

Mengecek keberadaannya
seperti mencarinya di kelas,
membuka changing-room atau
menengok rak sepatu
changing-room kadang secara
otomatis menjadi kebiasaan,
istilahnya sudah jadi “simple
present tense” buatku. Mimik
bahagia bila melihat sendal
yang berada di atas rak
sepatu yang tandanya JM
belum datang ataupun
sebaliknya, mimik kecewa bila
yang berada di rak adalah
sepatunya. Juga mengambilkan
kotak makan siangnya. Namun
ada hal yang selalu kulakukan
pada teman – teman guru lain
namun belum pernah kulakukan
padanya adalah…
menyembunyikan sepatunya.

Tiap pertemuan akan selalu
ada perpisahan.

We can meet
anytime but I know I’ll not see
you everyday again.

Satu hal yang lebay adalah
mengakui bahwa rasa
kehilangan itu ada. Suatu
kegiatan yang sudah menjadi
kebiasaan dan kemudian tiba –
tiba kita tidak melakukannya
lagi.

JM & MJ adalah sahabat
pertamaku di sekolah itu. Kami
bertiga dengan karakter yang
berbeda tapi punya beberapa
kesamaan juga punya
beberapa sahabat lainnya. Seperti Sita, Cenning, Carey, Nida, Mira dan Yuni.
Bukan berarti mereka tidak
spesial, but intensitas yang
menjadi ukuran kedekatan
kami. Kadang aku juga
mengakui sebagai sahabat,
aku kurang bisa adil.

Bagi kami
bertiga, coklat dan sejenisnya
adalah sebuah harta karun.
Selalu ada 3 coklat, selalu ada
jatah tetap untuk kami
bertiga secara sembunyi –
sembunyi sekecil apapun itu.
Dan itu juga kebiasaan kami
yang tak terlupakan.
Ada pun private moment,
istilahnya si MJ “Girls Day Out”
untuk kami bertiga yang sering
dikawal oleh kekasih MJ.
Sebenarnya tidak asyik kalau
Girls Day Out dibuntuti
kekasihnya MJ, tapi karena
kami bertiga juga selalu ingin
eksis… so, Aku menyebutnya si
tukang foto dan seksi
transportasi. Jadi ada yang
rela memotret kami bertiga
meskipun gilirannya untuk
difoto kadang terlupakan.
Makanya kami satu paket.

Thus, yes… we can meet again
sometimes. Sebagai sahabat
yang baik kita harus saling
mendukung kesuksesan satu
sama lain.

Teman bukan berarti
memiliki seutuhnya, sahabat
itu bukan milik kita yang bisa
kita tuntut untuk selalu
bersama kita dan juga tidak
untuk cemburu kalau jalan
dengan teman yang lainnya.

Temanku itu… yang selalu jadi
pendengar keluh kesahku,
yang selalu meredam emosiku
dengan nasehatnya, yang
wajahnya memerah ketika
suhu udara yang terlalu dingin,
yang tidak suka makanan
pedas, yang lebih suka menulis
notes kalau lagi marah, yang
tenang menghadapi masalah,
yang suaranya imut – imut
meskipun kalau diam wajahnya
garang, yang senang meminjam
buku selama berbulan – bulan,
yang lebih memilih coklat
ketimbang tas, yang tidak
suka pakai lipstick, yang sama
– sama punya cita – cita jadi
penulis (she’s a good writer)
dan dia… yang mengetahui isi
pikiranku saat yang lain salah
mengartikan sikapku. Itulah
dia, sahabatku, si pecinta
coklat: JM.

“you may imagine, the first day
you work there, I’ll check the
shoe rack though I’ve known I
can’t predict the thing that I
always do.”

The day I heard she’ll resign.
July 6th 2012
Luv, Poetry De Spice.



Rabu, 18 Juli 2012

A Chapter for Bonheur

Suara angin hendak menembus jendela. Aku mengintip Biru yang diselimuti kabut tua, tegas menyembunyikan bulan. Mengapa lampu - lampu Saint Etienne bersinar kelam malam ini?


Minggu, 24 Juni 2012

The Horse is Maria

The funniest Moment with Maria Nida Bidja in 2005.

Maria, nama yang indah dan bersejarah.
Begitupun sore itu, selesai berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan di Gorontalo.
Gue masih nimbrung bareng teman - teman 'cuz takut kesasar.
Sementara sibuk dengan tentengan masing - masing, Maria temen gue yang paling heboh and subur jadi pemimpin pasukan.

"Maria... Maria... Maria !!"

Spontan mata kami mencari - cari sumber suara tersebut, termasuk si Maria. Merasa tenar, Maria dengan percaya diri tingkat tinggi menghampiri lelaki paruh baya yang memanggil - manggil namanya.

"ada apa panggil - panggil?" tanya Maria dengan wajah bingung. Pak kusir yang ditanya Maria juga tidak kalah bingungnya, "panggil situ??" masih bingung bak bayi yang tak berdosa. Sambil memperbaiki lipatan jilbabnya, Maria menjelaskan, "tadi bapak panggil - panggil Maria kan?" lalu menoleh ke arah kami yang setia menanti dibelakang Maria.

Dengan cambuk di tangannya, pak kusir tersebut tertawa. "Oh, Maria nama kuda saya !"
Wajah Maria merah merona dan tawa kami meledak. "Maria... Maria... Maria !!!" seru pak kusir pada kudanya yang lagi rewel. Ckckckck... Maria... Maria...

written in September 9th, 2011

IKA...

Ponsel berdering, NO NAME. Ogah – ogahan setengah ngantuk gue dengar suara cewek,

“hai put...? apa kabar say?”
“bae... ni sapa??”
“loh masa lupa sih?”
“iya lupa, siapa?”
Samar – samar terdengar, “iika...!”
“haa?? Ika?”
“iya... kok lupa sih?”
“oh... maaf maaf... abis ganti – ganti nomer sih?!” Ngelles plus ngarang hehehe.

Sumpah, temen gue yang namanya Ika banyak banget. Sekian banyak temen yang namanya Ika, ini Ika yang mana yah?? Tapi yang paling sering ganti nomer and tiba – tiba nelfon ntah itu buang gratisan, atau kangen tak terbendungi lagi or maybe lagi bete trus butuh penghibur, cuma Vica.

“nggak kok, nomornya masih yang lama...”
“ooh kirain dulu nomernya ada buntut dua dua??” sambil geleng – geleng bayangin wajah herannya Vica.
“ahh... jadi yang dulu pake nelp kamu nomor apa??”
“ooh... iya, maaf deh soalnya nggak tersave.”

Ngomong – ngomong kok tumben yah si Vica yang logat Bolmongnya kental banget udah berubah jadi logat jawa campur aduk Gorontalo and Makassar? Hmm...

“abisnya suara lo juga udah berubah ampe gue nggak kenal lagi vica!!!”
“hihihihi.. masa sih? Nggak kok biasa aja tuh... berubah gimana??”
“iyaa... berubah, sampe nggak kenal.” Masih berusaha membela diri takut dicap sombong ama Vica soalnya udah lama nggak sms or nelfon Vica.
“ooh... itu gara – gara aku krisis logat disini...” nah tuh pantesan si Vica logatnya berubah.
“hehehehehe... pindah tugas yah?”
“iya... belakangan ini aku gaulnya ama anak – anak Makassar, beberapa minggu lalu aku nemenin teman aku dari Makassar juga,  jadi parah banget nih logatku.”
“ooh.. gitu yah??”
“iya... kamu tau nggak lembaga pendidikan bahasa Inggris di Makassar?”
“oh, disini banyak banget, saking banyaknya nggak bisa disebut.”

Dalam hati gue bilang, gue belum sempat survei lembaga pendidikan di Makassar. Hehehe... dari pada ngomong nggak jelas, mending singgung soal mantannya si Febriansyah Thalib yang udah lulus CPNS di Kotamobagu.

“eh, si ebi udah lulus di Kotamobagu yah?”
“ebi??”
“iya... ebi udah lulus CPNS di Kotamobagu, tapi sayang yah?? Dia terlambat... nanti Vica udah merid baru dia lulus disana.”
Yang disebrang nadanya datar aja, nggak seperti biasanya. Apa karena udah merid jadi nggak tertarik lagi ngomongin si Ebi Geboy yah??
“itu aku nggak tau.”
“aduh, masa nggak tau?? Iyah benner dia udah lulus loh... gue dah ledekin dia tuh, terlambat sudah kau datang...kasih.” sambil nyanyiin potongan lagu lawas.
“hehehehe...”

Hmmm aneh, kok udah nggak ada chemistry lagi nih ngomong ama Vica?? Cepat – cepat gue nyari topik lain buat ngobrol.

“udah ada baby blom vic??”
“apa??”
“baby BABY...”
“baby???”
“iya... baby... YOUR BABY, MOMONGAN...  udah ada tanda – tanda blom??”
“hah... ngomong apa sih kamu?? Nikah aja belum udah punya baby?!”

Haa??? So, who are you?? Dari tadi asyik ngobrol ternyata yang diseberang bukan Vica?? Lalu siapakah dirinya??

“wait... wait... ini Vica kan?”
“ya ampun... jadi kamu pikir aku Vica??”
“iya, kamu siapa?”
“Rika... Rika... Erika, wkwkwkwkwkwkwkwkwkwk...... put put...!!”

Lipstick and Me

my lipsticks ^^

Masih lekat di ingatanku saat berumur 3 tahun; berdiri di depan cermin lemari bermain bersama lipstick  ibu sambil  berlenggak – lenggok bak peragawati atau mengajak teman untuk bermain sinetron  dan aku berperanse bagai guru yang cantik sedangkan temanku adalah murid yang baik hati. Sejak kecil aku memang dilahirkan menjadi seorang anak pesolek. Kadang, ketika orang – orang dewasa disekitarku sedang sibuk dengan rutinitas mereka, aku sangat senang bersembunyi di dalam kamar dan memakai baju dan sepatu milik ibu.

Masa kecilku selalu menanti datangnya hari dimana aku bisa menggunakan lipstick tanpa mendengar protes dari teman maupun ibu. Beranjak SMP, ibu membelikanku pelembab bibir beraroma buah dan tidak jarang bila ada kerabat atau pun tetangga mengadakan pesta, 

Jadi pagar ayu. Baju Bodo modern.
aku sering ikut andil meskipun hanya menjadi pagar ayu. Rasanya senang karena itu berarti aku akan dirias. Sayang sekali semasa kecil aku kurang tertarik mengikuti fashion show dan semacamnya. Meskipun aku senang melihat segala sesuatu yang berbau fashion dan mode.

Visiting my aunty at Sahid Hotel, 2007

Padatahun 2005 aku lulus di salah satu universitas negeri di Gorontalo.Namun, langkahku pun terhenti saat melihat salah satu mahasiswa yang berpenampilan wah di kampus. Kelopak yang berwarna – warni, bulumata yang lentik dan tebal, perona pipi dan lipstick. Meskipun mencintai keindahan lipstick, bukan berarti harus berdandan menor disegala suasana.Syukurlah, semasa kuliah aku masih percaya bahwa kecantikan itu bukan bersumber dari polesan kosmetik tapi bagaimana kita berpenampilan dan tentunya dari dalam hati.

Setelah itu, aku bergabung pada salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa yaitu Teater.

Road show for Global Warming 2008

Disana aku bisa mengeksplorasi kegemaranku dengan tepat dalam menata rias. Bahkan bukan hanya merias untuk menjadi cantik, tapi juga merias pemain teater yang muda menjadi tua dan yang cantik bisa menjadi konyol. Banyak kenangan tentang tata rias di Teater Peneti Gorontalo. Hingga waktu mempertemukanku pada gelar sarjana. Momen terpenting bagi para mahasiswi adalah tampil cantik pada saat mengenakan toga. Aku bersama salah satu angkatanku rela bangun jam 4 subuh untuk mempersiapkan diri ke salon kecantikan. Kami dirias dan juga mencoba kreasi jilbab agar penampilan kami lebih menunjang.

Graduation ceremony, 2010
Waktu terus berjalan, hidup berputar dan berproses. Dunia nyata tentunya setelah kita sarjana. Aku melamar pada salah satu yayasan pendidikan di Makassar. Di tempat aku bekerja tersebut yang notabene guru – gurunya adalah seorang perempuan, aku menemukan tempat seperti dahulu kala sewaktu aku berperan sebagai guru dan juga aku bisa berias namun tidak berlebihan.  

Bambini School Graduation, 2011

Dan satu hal yang menarik adalah beberapa guru ada yang berbisnis kosmetik, hehehe. Namun langkahku tidak terhenti sampai disitu, masih banyak cita – cita yang belum tercapai.

Me and my workmate: Ms. Aisyah Amir
Kecantikan adalah anugerah Tuhan yang patut kita jaga dan syukuri. Bagiku, tidak ada perempuan di dunia ini yang diciptakan buruk oleh-Nya terkecuali anda sendiri yang menjadikan diri anda buruk.

Because the ugly truth is the way you hurt another by doing the cruel things. Be beauty just like the lipstick which gives some pretty colors to your smile.


Rabu, 18 Januari 2012

The Way to Square Mile




Bila cinta butuh pengorbanan, mengapa aku harus memilih antara Kau dan Tuhan?

Bulir – bulir gerimis membasahi The Big Smoke. Disana berjalan seseorang bermantel hitam, nafasnya berembun dan pandangannya tajam. Dia bukanlah siapa – siapa di Britania Raya, siapa dia sebenarnya tak banyak yang tahu. Begitupun gadis – gadis yang pernah dikencaninya, hingga ia bertemu gadis itu.

***

Pertengahan tahun 2011 yang lalu.

“kau suka London?”
“banyak tempat indah disana. Someday I wish I can be there.”
“percaya padaku, tidak ada hal menarik disini.”
“kenapa?”
“kau harus tau, selain mahal… tempat – tempat disini membosankan dan dingin.”
“aku tetap suka London dan semoga suatu saat kita berjumpa disana.”
“tentu saja, kita akan menikmati indahnya langit ketika senja. Aku akan disampingmu, bersamamu, Canim.”

Berbincang dengan gadis itu membuatnya selalu bahagia. Matahari seakan tetap menebarkan sinarnya dicuaca buruk sekalipun. Bersama kicau burung dan tarian pelangi. Sebab gadis tersebut mampu menyembuhkan lara hatinya. Dia, Prisilya. Suaranya yang lembut terus bergema di detak – detak jantung lelaki berusia 27 tahun itu. Tidak akan pernah bisa hidup tenang sebelum bertemu dengannya.

***

Minggu sore di Inggris Raya.

London Tower berdiri kokoh dan anggun, Raffael Yumuk lelaki yang berasal dari Turkey itu bersantai sejenak selepas beribadah Minggu. Menikmati pemandangan sungai Thames. Tepat dihadapannya London Tower yang ramai oleh turis dan pejalan kaki. Raffael begitu bercahaya, senyumannya terus merekah dan kedua matanya yang kecoklatan sedang kagum memperhatikan sepasang kakek dan nenek yang sedang  dipotret bersama cucu dan seekor anjing kecil. Mereka terlihat bahagia.

“Canim…” gumamnya. Canim adalah panggilan sayang dari Raffael untuk Prisilya yang merupakan bahasa Turkey, sesuai dengan artinya: sayang. Gadis berdarah Minangkabau itu terus menyita waktunya dengan rasa rindu dan sayangnya yang teramat dalam. Rambutnya yang hitam dan matanya yang sendu sesekali terlihat tajam begitu menawan.

Dikeluarkannya sebuah ponsel hitam dari sakunya. Berkilau logo Apel dan beberapa detik kemudian dimasukkannya kembali.

Matahari pun mulai beranjak dari singgasananya. Sinar Sang Maha Besar berkilauan bersama rindu. Raffael lalu mendongak dan memejamkan matanya. Rambutnya yang cepak disapa sinar keemasan Sang mentari.

Suatu ketika, kita akan bersama dan aku akan menggenggam tanganmu sambil menyaksikan indahnya lukisan langit dikala matahari terbenam. Suatu saat nanti, Canim.

***

Hujan dan November adalah sahabat lama. Mereka selalu bertemu diwaktu yang sama. Rindu terus menyelimuti London dan awan berderai dengan gelapnya. Tetapi cintanya tak terhapus oleh air hujan. Ia selalu berjalan mengikuti cahaya cinta dan janji yang mereka rangkai bersama. Dan malam itu...

“happiness doesn’t depend on outward things. But on the way we see, Canim.”

Malam itu mereka sedang memperdebatkan sesuatu yang rumit untuk hubungan mereka.

“kita bisa bahagia bila bersama.” Tampik Prisilya.
“oh, kau pikir kita tidak mungkin bahagia bersama suatu saat nanti?”
“ya, tentu saja bagimu semua mudah, tapi tidak bagiku, agamaku.”
“kau selalu membawa agama diantara kita.”
“kita berdua lupa, tidak… aku yang lupa, agama itu cahaya hidup. Kita tidak akan bahagia bila hanya saling memiliki namun rohani kita hampa, kosong. I think I am not happy.”
“tell me what do you want?”
“you know what I want!”

Pembicaraan mereka terhenti selama satu jam. Yahoo Messenger membisu. Tak satupun dari mereka saling berbalas.

Di Indonesia, tepatnya di pulau Sumatra, matahari mulai tinggi dan hati gadis berusia 24 tahun itu mulai tak karuan. Ada rasa yang begitu kuat. Tak ingin kehilangan seseorang yang selama ini menyayanginya, menghargainya dan menemaninya meski jarak antara mereka begitu jauh. Raffael bukan hanya tampan, hatinya pun baik ia selalu tulus mencintai dan menolong Prisilya kapanpun ia membutuhkan pertolongan. Akan tetapi cinta Prisilya sedikit demi sedikit pudar karena rasanya pada Tuhan lebih besar, walau dalam lubuk hatinya ia tidak mampu melepaskan Raffael.

“my dear, Raffael… aku memberimu kesempatan untuk berfikir. Kita bisa bersama, hidup bahagia asal kau mau berubah pikiran.”
“sayangku, Canim… tidak aka nada yang berubah. Kau tidak akan bisa merubah seseorang dengan keinginanmu dan kepentinganmu. Sadarkah kau cinta itu bagaimana kita bisa menerima pasangan kita apa adanya?”
“……” Prisilya terdiam dan dadanya mulai pilu.
“tidakkah kau merasa aku sangat mencintaimu dan menghormatimu Canim… aku bisa menerima baik dan burukmu, aku bersungguh – sungguh.” Lanjut Raffael meyakinkan.
“ya, aku tau itu sayang… I love you too, Seni seviyorum! Tapi mengertilah, agamaku tidak mengizinkan pernikahan beda agama dan kau tau aku tidak bisa.”
“kau bahkan tidak memberi kesempatan untuk kita bertemu.”
“untuk apa kita bertemu bila suatu saat kita pun akan berpisah?”
“jangan memulai drama sedihmu Canim, sayangku… kau memperumit keadaan, kita seharusnya berusaha agar tetap bersama. Kelak kita akan mempunyai anak – anak yang lucu dan mereka akan mengerti dengan perbedaan kita. We love each other, don’t we?”
“Sayang, kau tetap tidak mengerti keadaanku, orang tuaku tidak akan merestui. Sungguh, aku menginginkanmu juga tapi aku akan memilih jalan menuju Tuhanku. Kita tidak akan bisa bergandengan bila jalan kita berbeda.”
“Birsey deyil… I mean, it’s ok… aku paham kau tidak akan mau meneruskan hubungan ini.”
“maafkan aku, cintaku… ketahuilah, kau begitu tampan dan mapan. Kau juga loyal, baik hati dan menyenangkan. Akan ada banyak gadis datang padamu. Tak mudah bagiku mengatakan ini. It’s not easy to leave you”
“ No, I am not. Apalah artinya semua itu? Tampan? Loyal… baik hati…jika aku tidak bisa memiliki gadis yang kucintai?”
“I’m sorry.”

Langit seakan runtuh, Raffael tidak pernah menyangka rasanya akan sesakit itu. Sungguh, ia tidak akan mampu membiarkannya pergi. Cintanya telah terpatri dihatinya. Harapan terbang satu per satu melayang bersama angin dan hujan lebat.

“tunggu, Canim… katakan padaku apakah kau benar – benar akan meninggalkanku?”
“bila berbuat dosa itu seindah cinta kita, terangkan padaku adakah tempat di Neraka yang indah?”

Suasana hening, air mata lelaki berdada bidang itu tak terbendung lagi. Begitupun dengan Prisilya, tak tahan lalu gadis bertubuh sintal itu menghentikan percakapan.

Offline.

***

Dinginnya hujan menusuk sampai ke tulang. Dikencangkannya tali mantel hitam berbahan kulit yang membungkus tubuhnya yang tinggi. Matanya berkaca – kaca mengenang kembali cinta yang telah pergi. Cinta yang berakhir atas nama Tuhan. The Big Smoke benar – benar berkabut.
Ia terus melangkahkan kakinya menuju London Underground, lalu berdiri sendiri menunggu kereta bawah tanah yang belakangan mulai terlihat penurunan pelayanan; seperti kepadatan dan keterlambatan kereta yang mungkin kekurangan investasi.

Suara – suara orang berbincang dan bunyi kereta membuyarkan lamunannya. Raffael tidak ingin larut dalam kesedihan. Ia berangkat kesebuah wilayah kecil di London Raya, The City. Sebuah kota tua dimana ia dibesarkan, mereka menyebutnya Square Mile.
Di kota bersejarah itu, kota asli London, Raffael kembali pulang. Membuang kenangannya dan memeluk hangat seorang ibu yang tidak pernah berhenti mencintainya.

Fin