Minggu, 17 Februari 2013

Shine Like a Diamond



Sorot matanya tampak sinis kala itu. Kata seorang teman, “tidak mudah mendapatkan hatinya.” Ia adalah seorang Koordinator guru. Rabu, 9 Februari 2011 aku membenarkan informasi seorang teman yang pernah mengajar di sekolah itu. Aku sendiri lebih banyak diam, semua sibuk dengan kegiatan harian mereka dan untuk pertama kali aku melihat mereka tapi sebagian besar dari mereka yang namanya tidak asing lagi bagiku, ada beberapa yang harus kuhindari dan aku harus waspada, katanya: DANGEROUS.

Salah satunya adalah sang Koordinator yang bernama Sheena. Tubuhnya kurus, tinggi badannya sekitar 164cm. Selain disiplin, ia juga terkenal teliti dan disegani banyak guru karena kedisplinannya dan sifatnya perfectionist

“Miss Emma, disini asisten guru biasa dipanggil partner, harus membantu guru senior atau biasa disebut Leader. Setelah makan, pekerjaan inti seorang partner adalah penyerut pensil, membundel lembar kerja siswa atau project, merapikan mainan di kelas, atau membantu guru lain yang mempersiapkan hasta karya atau kami menyebutnya Art and Craft.” Jelas seorang guru yang masa kerjanya masih seumur jagung di sekolah itu. Namanya Arni.

Namun sayangnya aku terpksa harus gigit jari karena masih dalam tahap percobaan dan karena baru saja masuk di pertengahanTerm, sehingga untuk sementara aku hanya bertugas sebagai guru pengganti dan sialnya aku ditempatkan di kelas Miss Sheena. Ia ditemani Miss Rianti, yang  ramah namun tidak ingin diganggu pekerjaannya. Ia tampak cekatan dan tidak ingin terlihat lalai dalam menjalankan tugas dihadapan Miss Sheena. Aku, hanya kebagian tugas menyerut 6 set pensil warna. Aku menyerut sambil bergabung dengan beberapa guru baru sembari mendengar cerita - cerita mereka. Dan, selesai juga tugasku. Segera kukembalikan di tempatnya semula.

***



Pagi yang masih dengan suasana baru bagiku. Tidak bisa dipungkiri suasana hatiku masih kurang baik sejak penghujung tahun 2010 lalu, aku baru saja dikhianati oleh seseorang. Aku adalah lulusan pendidikan bahasa Inggris yang masih fresh graduated, namun wajahku tidak sesegar gelar sarjanaku. Masih diselimuti kesedihan dan sedikit kebencian pada si penghianat tersebut.

Aku hendak memasuki kelas untuk mengambil sesuatu dan... memergoki Miss Sheena menyerut kembali pensil warna yang kemarin sudah kukerjakan. Kuperhatikan wajahnya kurang senang, tidak ada suara terdengar dari bibirnya namun hatiku mendengar dengan jelas betapa ia kurang puas dengan hasil kerjaku. Apa boleh buat, aku berusaha tetap berfikiran positif. Resiko menjadi partner seseorang yang perfectionist. Tak jarang aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal saking bingungnya dan mungkin saja ia mengira aku punya peternakan kutu. 

“Tuhan, kapan situasi kurang menyenangkan ini bisa berhasil kulewati?”

Aku kerap berfikir dan berdoa sebelum tidur. Dalam kamus perjuanganku, tidak ada istilah menyerah. Aku bisa saja kabur dari sekolah yang suasananya seperti itu. Tapi, bukankah setiap lingkungan perlu adaptasi?
Oh, yah... dia hanya belum mengenalku. Hiburku dalam hati, lalu memejamkan mata yang sudah berat. Merebahkan otot - otot yang pegal setelah menggendong murid Toddler berusia 2 tahun lebih yang tidak berhenti menangis tadi siang.

***

Siang hari di kelas Toddler, suasana makin memanas. Aku selalu berusaha tersenyum dan berperang melawan perasaan ciut saat melihat sang koordinator yang tak kunjung ramah. Namun kali ini, aku selamat dari tanduknya. Retina mataku tertuju pada teman seperjuangan yang juga guru baru. 

“Miss Elnina... I am talking to you!! Close the door!” Tegas miss Sheena. Matanya berapi - api, nada yang tinggi membuat suasana hening. Ini adalah mimpi buruk di siang bolong. Miss Sheena mungkin betul - betul tidak menyukai diriku dan Elnina. Aku mendesah lagi, sambil mengajar muridku, menarik nafas dalam - dalam dan mulai merasa tidak nyaman dengan keadaan ini.

“Aku tau, aku guru baru. Tapi aku nggak tahan banget diperlakukan seperti itu. Dipandang sebelah mata, sedih banget dibentak dan arrgghh...! sepertinya aku udah nggak tahan lagi.” Keluh Elnina sambil menatap makan siangnya. Aku hanya bisa mendengarkan. Tapi tidak menampik bahwa semangatku juga nyaris pudar.


“Sabar, bertahanlah. Ini kan masa percobaan, kita harus tunjukkan pada mereka kalau kita itu tidak pantas dipandang sebelah mata. Okelah, kalau kinerja kita memang kurang bagus, toh kita kan masih baru, kita belum menguasai medan perang.” Arni berusaha menenangkan Elnina. Namun Elnina masih terlihat sedih dan tidak bersemangat. Aku, Arrie, dan Jane tidak banyak bicara. Tapi saat itu, dan sejak saat itu kami merasa ada ikatan batin yang bru saja terjalin diantara kami berlima.

***

Beberapa hari kemudian...

Miss Cinta, sang kepala sekolah yang ramah dan bijaksana, mengadakan rapat kecil dengan kami para guru baru. Ia memaparkan beberapa komplain dan wejangan dari pemimpin yayasan. Aku, Arrie, Jane, Elnino dan Arni hanya bisa menelan ludah dan menganggukan kepala saat miss Cinta berkata, “tidak perlu merasa sungkan untuk berkonsultasi dengan miss yang satu ini.”  

Tangan kanannya merangkul miss Sheena dan sang koordinator tersenyum penuh arti pada miss Cinta. Mataku berusaha menangkap sisi positif dari pertemuan ini. 

Kepekaan miss Cinta akan suasana lantai 2 antara guru baru dan Koordinator mungkin tercium jelas. Tapi ada satu hal yang membuatku menjadi lebih lega, ketika miss Cinta memberitahukan– “beliau ini, punya banyak ilmu yang bermanfaat bagi kita, tidak ada pengecualian. Sebagai kepala sekolah juga selalu sharing dan memetik banyak pelajaran, jangan liat dari sisi lain. Kenali dulu lebih dekat. Mungkin tak kenal maka tak sayang.”

Selepas rapat, kami berlima kembali berunding di changing room. Sedikit berbisik - bisik, takut ada yang mendengar dan melaporkan kami lagi. “Kenali dulu lebih dekat? Bukannya mereka juga perlu mengenal kita lebih dekat?” Jane yang pendiam namun kritis terdengar kurang setuju. “Sabar, yang penting itu kita tunjukkan kinerja kita tidak kalah dengan guru senior lainnya.” Timpal Arrie. “Aku tetap pengen resign, malas banget dimarahin terus ama miss Sheena.” Elnina kembali menunjukkan rasa pesimisnya. “Tunggu sampai seminggu, kalau suasananya masih tidak menyenangkan, baru kau get out from here.” Bujuk Arni. Sementara aku dan Elnino saling bertatapan, layaknya sepasang tokoh kartun Magic Girls yang mampu bertelepati. 

Dan dalam doaku hari ini setelah mendengar nasehat miss Cinta, aku berharap agar seseorang tadi dibukakan pintu jodoh dan dilimpahi kebahagiaan dan kasih sayang agar hatinya luluh pada kami. Tujuanku bekerja di sekolah itu bukan mengutamakan nafkah, tetapi lebih pada pengalaman kerja dan untuk menyembuhkan hatiku yang sempat retak, bukan untuk membuatnya bertambah retak dengan suasana seperti ini.

***

Selasa, 16 Agustus 2011 setelah melewati kerikil tajam, akhirnya perjuangan kami sampai di atas kertas putih dan materai 6000. Tersusun dengan tinta hitam– kontrak kerja selama satu tahun. Namun sayangnya, kami tinggal berempat. Jumat, 17 Juni 2011 yang lalu air mata tak terbendung lagi saat membaca pesan singkat Arni yang didepak dari sekolah karena bermasalah dengan leadernya dan banyak hal, yang membuatku miris adalah: ia dipecat pada saat hubungan mereka sudah membaik.

Tinggallah kami berempat, bunga – bunga kecil diantara pepohonan yang rindang. Satu telah gugur dan entah sampai kapan kami menghiasai pekarangan ini. 

Suasana pun kian membaik. Tidak seperti hal wajar yang keakrabannya ada karena telah terbiasa, tetapi sesuatu itu ada karena Tuhan Maha Mendengar dan Mengijabah doa seseorang yang berusaha. Setelah rapat tempo hari, aku berusaha mengambil hati miss Sheena. Tidak perduli dengan kata – kata senior lain yang menjelek – jelekkannya dari belakang, dan bukan karena ingin menjilat, tapi karena ilmunya dan yang kutahu dengan jelas pribadi seseorang yang dingin itu sebenarnya jauh lebih bisa dipercaya juga penyanyang dibandingkan pribadi yang ramah dan supel sekalipun. Seseorang yang sulit ditaklukkan lebih menantang dan dibalik semua sikap dinginnya aku yakin ada benda lunak yang tersimpan di dalam jantungnya: hati. Meski tak jarang aku juga berkesah pada Jane bila melihat tatapan khas miss Sheena bila mendengar satu volume kesalahan. Masa itu telah lewat, kini yang menggantikanku adalah guru mungil yang selalu kelabakan dan sangat sensitive bila berhadapan dengan miss Sheena. Aveline si pecinta kuning itu menjulukinya miss Perfect. Kadang aku tersenyum geli diatas kegundahannya, sebab akupun pernah merasakannya. 


Hingga di suatu hari, terjadi hal yang tidak mengenakkan di sekolah. Ada beberapa guru dari divisi SD yang bermasalah dengan pihak yayasan. Aku tidak ingin ikut campur, namun dengan kejadian itu ada perubahan besar, khususnya pada hubungan antara aku dan miss Sheena.

“Maaf, kalau selama ini tidak pernah memberi kesempatan untuk melihat dengan hati.” Ungkap miss Sheena. Di kesempatan itu, aku pun menggandeng nama Ave. Tanpa sepengetahuan dan persetujuannya, aku memberitahu miss Sheena bahwa Ave sebenarnya sangat kagum padanya, namun sepertinya miss Sheena hanya fokus pada Fiana, yang kebetulan diterima sebagai guru baru bersama Ave untuk menggantikan beberapa guru yang telah pindah. “Kata Ave, dia sekarang jadi sangat ketakutan bila melihat miss Sheena. Padahal Ave sangat ingin jadi partner miss Sheena loh.” Kataku sambil menahan tawa, mengingat Ave yang ekspresif; kadang terlihat polos dan lugu, selalu membuat kami tertawa. Dan tidak lama kemudian hubungan mereka membaik. Ave sebagai partner miss Sheena di term berikutnya dan merupakan kesayangannya.

***



Jingga menorehkan warnanya di sore itu, Oktober 2011. Agak canggung, aku menemani miss Sheena belanja di MP untuk pertama kali. Kami juga sempat makan kapurung di Food Court. Banyak hal yang kami bincangkan; ada sesuatu yang ingin dikoreknya atau mungkin ia hanya ingin meluruskan konflik antara beberapa guru senior di lantai 3 yang kebetulan aku mulai akrab pada salah satunya. Tidak banyak yang bisa kusampaikan karena sebaik - baiknya teman adalah yang bisa menjaga rahasia dan menjadi penengah memang harus mengetahui inti permasalahan di kedua pihak. Namun yang membuatku semakin lega adalah, saat mengetahui bahwa semua prasangka buruk tentangnya adalah tidak benar. Setiap orang punya karakter, bila kita tidak mengenal karakter orang lain maka hanya prasangka buruk yang akan tercipta.


Friendship is sweet like Chocolate
Sampailah kami pada tempat parkiran motor. Miss Sheena mengeluarkan sebuah coklat dari plastik belanjaannya tadi. “For you.” Singkatnya sembari mengatrek motor. Sedikit malu menerimanya, kuucapkan terima kasih dan tersenyum senang. Disitulah awal dimana kami mulai akran dan saling mengenal. Miss Sheena kerap memintaku untuk menemaninya belanja atau makan bila punya waktu luang. Sebab ia tahu betul aku adalah salah satu guru yang punya sense of shopping, kedekatan kami juga didasari oleh perdagangan. Miss Sheena yang berjiwa dagang sangat senang karena aku adalah jalur dagang yang membuat jualannya laris manis, orderan kerjinan tangan milik kerabatnya meningkat dan aku tidak membutuhkan keuntungan materi di dalamnya karena sejak dulu sudah terbiasa mempromosikan dagangan orang lain dengan ikhlas.

Kedekatan kami pun berlabuh pada sebuah novel tua berjudul “Surat Cinta Saiful Malook.” Saat makan siang kami makan bersama guru lainnya. Dan miss Sheena meminjamkan buku tersebut. Setelah membacanya, sungguh... kisahnya menyentuh dan mengingatkanku pada seorang teman dekat yang berada di Pakistan. Naluri kolektor novel yang kumiliki mendayu - dayu. “Pengen beli juga, dimana tempat jual novel tua yah? Pasti di Gramed sudah tidak ada.” Tanyaku pada miss Sheena dalam pesan singkat. “kamu bisa memilikinya dengan syarat, jaga baik - baik buku itu karena buku itu juga punya kenangan tersendiri.” Ujarnya membuatku terkejut, tapi mendengar kalimat terakhir rasanya tidak pantas bagiku ingin memiliki barang orang lain yang berharga. 

Novel: Surat Cinta Saiful Malook



Esok hari, aku mengembalikannya. Tapi miss Sheena menolak dan menyuruhku untuk menjaga buku itu dengan baik. Novel yang pernah membuat miss Maya menangis setelah membacanya. Meskipun aku sendiri tidak sampai menangis, tapi aku mengakui mutu buku tersebut, buku yang akhirnya terjejer di antara novel lain di rak buku kamarku. Dan kali ini kusampaikan bahwa ‘dingin’ merupakan senyawa yang bila disentuh maka akan terasa sampai kedalam lapisan kulit hingga ke tulang, “dingin mempunyai perasaan yang dalam yang rasanya selalu dikenang.”

***


7 tahun berkarir, kedisplinan dan inovasi yang membuat kualitas sekolah semakin cemerlang dan menjadikannya sebagai kepala sekolah sebab miss Cinta diangkat sebagai kepala sekolah divisi SD.  Karirnya semakin berkilau. Tidak hanya karirnya yang berkilau namun juga cintanya yang akhirnya membawa miss Sheena dan kekasihnya ke KUA. Tepat di bulan kelahiranku, September tanggal 4 tahun 2012 aku bolos kerja karena miss Rianti yang telah mengumpulkan uang teman - teman guru lantai 2 yang berencana memberikan hadiah cincin emas. Aku ditemani ibu, keliling mencari cincin yang berkualitas dan modelnya bagus juga harganya sesuai dengan uang yang terkumpul. Meskipun sayangnya ternyata cincin itu longgar. Miss Sheena terlihat bahagia di hari pernikahannya. Saat foto bersama aku berdiri disamping kanannya menggeser posisi miss Rianti dan tangan miss Sheena merangkul dari belakang sambil tersenyum melihat kamera. Doanya, “semoga cepat menyusul.” Kami semua turut bahagia malam itu. Rasa syukur padaNya yang melimpahkan kebahagiaan dan kasih sayang, membuka pintu jodoh miss Sheena juga beberapa guru lainnya. 
Left to Right: Rati, Poetry, Pengantin, Yuni, Mira



***
 


Meski selama miss Sheena menduduki jabatannya kami para guru makin sibuk dan beberapa guru mengeluh, kami tetap punya waktu luang jalan – jalan. Entah itu shopping bersama guru lain, makan kapurung atau karaokean. Setelah jam kerja, miss Sheena meminta untuk ditemani belanja. Kami hunting barang pecah - belah. Sudah beberapa hari aku diteraktirnya, meskipun rasanya tidak enak tapi rejeki tidak boleh ditolak kata Elnina. Hari berikutnya kami memulai dengan makan coto, lalu membeli pernak - pernik untuk keponakannya, kita lanjut makan pisang ijo “Kenneth” kemudian jelang maghrib kami menyeberang ke salah satu toko aksesoris terunik di Makassar dan yang mengejutkanku adalah setelah membayar belanjaannya ia menemukan kaleng kecil berwarna merah, putih, biru bendera Perancis dengan gambar seorang gadis cantik memegang kamera dengan caption “Voyage, I love Paris in the Spring Time.” Miss Sheena tahu benar aku sangat menyukai segala sesuatu berbau Paris dan ia mengambil kaleng kotak mungil itu lalu membelikannya untukku. Sungguh, aku tidak bisa menolak. “Merci beaucoup, miss Sheena.”


***

I Love Paris :)
Jumat, 7 Februari 2013 miss Sheena memanggilku pada jam 02:40 siang. “Miss Emma...!” terkejut, aku lalu bergegas. Pikirku mengarah pada laporan bulanan yang baru saja direvisi mungkin ada kekeliruan. Di depan pintunya aku mengintip dan ia keluar sembari memberiku sebuah buku catatan kecil dengan gambar menara Eiffel, “for you.” Kuraih buku itu, “Oh my God, it’s pretty cute. Thank you.” Kataku sambil menatapnya tersenyum penuh rahasia. Akupun tersenyum tapi kali ini senyumanku tidak seperti biasanya. Kabar yang beberapa hari terngiang di telingaku membuatku berjalan lesu ke kelas. Sepertinya ini bukan pemberian seperti biasanya, ini merupakan kenang - kenangan yang punya arti lain. Aku sudah banyak ditinggalkan sahabat di sekolah ini; mulai dari Arni, Jane dan beberapa sahabat lain yang tidak bisa disebut satu per satu. Pikiranku semakin menjurus pada saat yang tidak kuharapkan: perpisahan. Nafas semakin berat, angkutan umum berjalan selayaknya siput. Semakin lama rasanya leherku mulai tercekat menahan kesedihan. Apa pada bulan Juni 2013 nanti aku harus mempersembahkan tulisan perpisahan lagi di Blog pribadiku seperti yang sudah - sudah? 


Rabu, 12 Februari 2013 mengingatkanku pada hari Rabu di tahun 2011 tanggal 9 Februari silam dimana pertama kali aku mengerutkan kening saat melihat tatapannya. Rabu kali ini membuatku mengerutkan kening dalam rapat, tercium sesuatu yang tidak kuinginkan. Apa benar yang dikatakan Dwayne semalam? Betulkah itu? I see there’s something in her eyes that far too revealing. Kerutan di keningku bukan soal komplain seorang kepala sekolah kepada guru - gurunya. Tetapi kabar yang akan disampaikannya.


“Kalau saya punya utang atau janji yang belum ditepati, tolong disampaikan.” Katanya menerawangi kami dan menunggu jawaban. Nadanya kian pekat tercekat membuat kami pilu, “because today is my last day here.” Tangisannya pecah sembari meminta maaf satu - persatu. Semua terharu, juga Elnina dan bagian yang tersulit untukku ketika suara tangis Aveline pecah, si cengeng itu memeluk tak menyangka hari ini miss Sheena mengakhiri karirnya. Sebelum sampai padaku, aku lekas keluar ruangan dan masuk di toilet – menangis. Bukan karena tidak ingin dilihat menangis oleh yang lainnya, tetapi karena perpisahan adalah hal menyedihkan yang sering kualami tapi tidak ada tempat menghindar lagi. Kami berpapasan di antara ruang makan dan ruang serbaguna. “Maafkan kalau selama ini banyak salah, kamu baik sekali selama ini, Emma.” Aku hanya diam. Ingin kubertanya; mengapa harus hari ini? Mengapa tidak menunggu sampai bulan Juni? Mengapa harus bertepatan dengan perginya lelaki yang baru saja mencuri hatiku? Patah hati kalah rasa sedihnya dibanding hari ini, hari dimana ditinggalkan oleh sahabat. Bukan untuk selamanya, tapi tidak bersama lagi tiap hari. “Not coz of you, not coz of me. It’s all for love.” Bukankah teman yang baik selalu mengantarkan temannya pada BONHEUR: kebahagiaan. Semoga cinta selalu menyertaimu, May Allah bless miss Sheena all the way.  

“Because friendship is shining just like a diamond. Your shine is like a diamond”

Imlek, The last day of her in February 2013


 (# ̄▽ ̄#) Based on true story, dedicated for my best friend...

Lunch bareng

















Thanks for the gifts
Nasi goreng udang tempura


 
 

Setiap melewatinya, selalu terkesan seperti ada yang hilang...


   
♫♪♫♪

Why she had to go I don't know she wouldn't say.
I said something wrong, now I long for yesterday.

Yesterday, love was such an easy game to play.
Now I need a place to hide away.
Oh, I believe in yesterday.

♫♪ The Beatles ~ Yesterday

Tidak ada komentar:

Posting Komentar