Minggu, 28 April 2013

Have You Ever?

Have you ever been in love so deep but he doesn't feel the same?

The worst feeling you get. More than pain, cry for a wrong reason.

But the question is...

"How to control your heart not to fall in love with a wrong person?"

Who can answer? please tell me... since my brain can't work good when I fall in love.

Jumat, 26 April 2013

Gum! [Monolog sayembara Gagas Media 100 kata]

Dua puluh detik lalu, saat mentari senja berbisik, ia menyebut namamu.

"Sudahlah, jangan ingat lagi masa itu." Tapi, senja kali ini hening membawaku padamu.

Sore setelah selasai kuliah, aku melihatmu diseberang dan kau pun melihatku. Kita tersenyum penuh arti. Dibalik pagar fakultas kita masing - masing, kita berlari seolah kau dan aku sudah lama tidak bertemu. Padahal itu baru dua hari yang lalu, bukan?

Kau berseru, "hey! gum!" akupun tak kalah serunya, "Gum!"

Dulu, selalu begitu. Sebelum persahabatan kita berubah menjadi cinta, kemudian merubahnya menjadi sebuah jarak yang lebih jauh. Jarak yang tidak mungkin kita seberangi lagi saat senja berbias, Gum!

Minggu, 14 April 2013

Merah dan Jingga

Warnamu Merah, tetapi sebagian orang kurang teliti menyebutmu Jingga.

Ya, itu bukan kau.

"Bukan"

Kau mengelak, selanjutnya kau hanya diam membiarkan sebutan itu terngiang - ngiang lagi di lorong telingamu. Hingga akhirnya kau kesal dan menjauhinya.

Kembali pada saat Jingga terlupakan. Ledakanmu tercetus halus namun begitu menusuk hingga berlubang ke dalam hatinya.

Mungkin dia tidak mengenal Jingga, namun itulah dendam Merah.

Malam, dengan cahaya merah di ujung jalan pulang.

---

Hari kedua setelah Jingga terlupakan.

Ada sepotong baugette di atas piring putih. Rupanya sedari tadi tuan besar cacing sudah banyak komplain dalam perutmu. Namun, saat kau berdiri di hadapan roti yang kau beli kemarin, kau hanya diam dan mengernyitkan keningmu.

Sekelompok semut sedang merampok jatah makan siangmu. Si tuan cacing enggan berkompromi, ia bukan hanya memaki - maki tetapi juga membuat perutmu perih.

Engkau pun bertindak dan tidak kusangka kau melahap baugette setelah memotong roti tersebut menjadi dua bagian dan mengusir sebagian semut yang tersesat kehilangan arah.

Saat itu, kau menunjukkan sesuatu yang berbeda. Bukan hal bodoh, tetapi kasih sayang pada sekelompok makhluk kecil itu.

Siang itu, merahmu berbentuk menjadi hati.

---

"Selamat malam, Reyna. Kau harus istirahat." Kata Dorothee kemudian mengecup kening Reyna.

Gadis itu hanya diam lalu melambaikan tangannya ketika sahabatnya itu kembali memastikan Reyna menghentikan ketikannya, dan berbalik ke arah pintu kamar Reyna lalu pulang ke rumahnya.

Disibakkannya rambut lurus nan hitam miliknya. Tangan kanannya meraba pipi kiri dan perban yang membalut wajahnya.

Tangisannya dalam hati, ia belum bisa tidur. Sudah pukul 11:59 malam. Kejadian terakhir sebelum ia menjadi penghuni rumah sakit terputar kembali dan berulang - ulang hingga ia membawanya ke dalam mimpi dan terbangun.

---

Matanya melirik jam dinding, 12:02 AM. Ia terbangun karena dering telepon. Matanya setengah terbuka.

Joseph memanggil.

Layar ponselnya berkedip - kedip. "Halo?" suara Reyna dijawabnya singkat, "temui aku di bawah. Lantai 1, di samping tangga darurat." Sambungan telepon terputus.

"Gila! jam berapa ini?" gumamnya setengah ngantuk dan seperempat kesal.

Andai saja bukan Joseph yang meminta, ia tidak akan turun.

"Reyna?" tegur Joseph. Lelaki berdada bidang di samping tangga menghampiri Reyna dan memeluknya. "Jangan katakan pada siapapun aku menemuimu disini." Bisiknya membuat Reyna mengangguk.

Mereka berdua berjalan menuju kamar Reyna.

"Kau merasa kesepian?" tanya Joseph. Reyna menggelengkan kepalanya lagi. Matanya lurus memandang Joseph penuh rindu.

Bibir tipis Joseph merekah. Begitu damai dan manis. "Kau akan baik - baik saja disini. Tidurlah!"

Reyna meraih tangan hangat Joseph. "Kau tetap disini, bukan?" kemudian menunggu jawaban Joseph. "Temani aku." Lanjut Reyna.

Joseph membaringkan Reyna dan dengan lembut merapikan selimutnya. Tidak ada suara selain kecupan dari bibir Joseph, tepat di kening Reyna.

---

Reyna selalu tidak bisa menebak Joseph, ketika matahari memancarkan cahaya pagi, yang terjadi adalah menemukan dirinya sendiri lagi.

"Joseph?"

Tidak ada jawaban. Ponselnya pun sulit dihubungi.

~(˘ε˘~) Bersambung (~˘з˘)~

Kamis, 11 April 2013

Kalau Dia Aku? [Viction Short Story]

Gadis itu bercermin sambil mengutarakan kekecewaannya.

"Aku tahu dia mencintaimu, tapi ingat aku juga begitu."

Air matanya berjatuhan dari sudut - sudut matanya, mata yang kata lelaki itu indah dan membuatnya jatuh cinta. Tapi itu dulu. Sebelum ia mengetahui ada perempuan lain yang menyelipkan surat cinta di dalam agenda Tom saat ia selesai mengajar di sekolah menengah atas, tempatnya bekerja.

"Sungguh, mati itu jauh lebih bahagia daripada hidup menderita."

Kata - kata gadis itu untuk Tom dalam suratnya, menggema di relung hati April. Berulang - ulang hingga ia meringis.

"April, kau tau dia sering menemuiku diam - diam. Lalu mengapa kau masih saja mempertahankannya?"

Sore nan mendung saat seorang remaja belia yang cukup percaya diri seolah menamparnya dengan pertanyaan itu.

"Kalau kau jadi aku, tidakkah kau malu membatalkan undangan pernikahan hanya karena perselingkuhan kalian?" Balas April sedikit menaikkan intonasinya.

Ia menatap lawan bicaranya dengan tatapan penuh dengki, menunggu jawabannya namun yang ia dapat hanya pekikan sinis. Lalu remaja bernama Anti itu meninggalkan April.

---

Lampu redup, air matanya masih mengalir. Ia sama sekali tidak bisa berhenti mengingat kembali perlakuan tunangannya, juga perempuan itu.

"Dimana Tuhan?"

"Mengapa ini terjadi padaku?"

Dadanya semakin sesak. Yang di hadapannya adalah malu dan sakit hati ketika pria yang telah meyakinkannya untuk menikah malah lebih memilih untuk pergi, entah kemana.

---

"Bagaimana aku menghadapi orang tua dan menjawab pertanyaan - pertanyaan rekan kerja, juga sanak famili, apakah harus kusaksikan wajah ayah dan ibu tertunduk karena malu?"

April meluapkan emosinya saat ia menemui tunangannya yang baru saja pulang dari persembunyiannya.

Di ruang tamu, lelaki itu kehilangan kata - kata. Tangannya berkeringat dan hatinya tercabik - cabik melihat April. Rasa kasihan juga menerpanya mengingat Anti sedang mengandung anaknya.

Ia berusaha menjelaskan, dengan suara yang serak nyaris tak terdengar. "Lalu aku harus bagaimana?"

April lemas tak berdaya mendengarnya. Andai saja ia tidak mencintai lelaki di hadapannya itu mungkin rasanya tak sesakit itu. Pilu, bagaikan beling - beling yang tertancap di jantungnya.

"Kau tau apa yang harus kau lakukan, Tom. Tapi kau harus menebus semuanya nanti, suatu saat!"

April meninggalkan rumah Tom dengan isak tangis, ia pun berlari mencari taksi.

"Aku ingin pulang. Kali ini benar - benar pulang."

---

Gadis berambut pendek itu menancapkan kunci dan membuka pintu rumahnya.

Cermin di kamarnya menguraikan kemalangan nasibnya. Pikirannya melayang - layang. Wajah ayah, ibu, kakak, sahabat - sahabat, para tetangga dan kemudian wajah Tom bersama Anti silih berganti.

"Pilih malu atau mati?"

"malu!"
"mati!"
"tidak! malu!"
"mati!"
"malu! malu! malu! malu!"

Pertengkaran dalam batin membakar sumbu khilafnya hingga keubun - ubun.

Ia meneguk racun tikus dan setelah itu melemparnya dengan kesal, diraihnya lagi sebotol obat nyamuk meski dadanya mulai terasa panas dan kepalanya seperti gasing yang diputar - putar. Satu teguk. Perutnya melilit - lilit, dari mulutnya keluar busa dan ia tergeletak.

Entah berapa menit ia tak sadar. Matanya terbuka dan aroma obat nyamuk masih bertebaran. Kepalanya pusing semopoyongan. Ia berusaha bangkit, namun badannya terasa berat. Ia bersikukuh, terus berusaha dan kemudian ia berhasil duduk dan berdiri.

Rasanya dingin dan tiba - tiba tubuhnya ringan seperti melayang di udara. Timbul keinginan untuk berbalik, ia menengok kebelakang dan mendapati dirinya tergeletak kaku.

Matanya membelalak menyaksikan dirinya sendiri. "Kalau gadis itu diriku, lalu aku sedang apa?"

-The End-

#Hidup dan mati itu sudah diatur oleh Tuhan. Seburuk apapun masalah yang kita hadapi, semalu apapun itu, yakinlah... Tuhan selalu adil dalam memperlakukan ummatNya. Katakan "TIDAK" untuk bunuh diri.

Senin, 08 April 2013

The Same Questions Have Gone Part II


"Sudahlah, let me do it." kataku pasrah.

Sikapnya pun aneh, ia terlihat kasar saat bekerja. Suasana kelas yang hening menjadi ribut dengan bunyi gunting yang terbanting, pelubang kertas yang jatuh di lantai. Oh, membuatku terngganggu saat mengisi report book. Tapi aku hanya diam, walau kesal melihat tingkahnya.

---

Hari itupun berlalu. Kulangkahkan kaki ku pagi ini di kelas. "Good morning miss, I've been waiting for you since long time!" Sapaku ingin mencairkan suasana. Ia hanya tersenyum dan berkata, "you know? maybe tomorrow is my last day. I want to resign." Katanya membuatku tercengang.

"Hah? kenapa? Apa ada kerjaan baru, atau miss tidak merasa nyaman dengan saya?" tanyaku.

"No, miss. As I always say to you. You are good, Bagiku miss sangat dewasa dibanding yang lain. Miss, sudah tau kan? saya selalu bilang saya merasa tidak nyaman disini dan tidak bisa berbaur. Saya tidak suka gosip dan making group. Sementara saya lihat dari atas sampai lantai 2, seperti itu."

Aku masih diam tidak percaya ternyata dia betul - betul tidak tahan lagi.

"Lagian ada yang nawarin kerja di luar kota. Awalnya masih ragu sih, tapi kayaknya I wanna quit."

"Oh, miss... I feel sorry. Hm, so have you sent the letter?"

Ia menggeleng dan bertanya bagaimana cara membuatnya? Tapi aku menggelengkan kepala. "I never type that kind of letter."

---

Suasana di kelas berubah. Aku merasa akan kehilangan, walau dulu aku bersikeras ingin  berpisah di term depan. Ia juga terlihat sedih. Kami tidak banyak bicara selain mengajar murid - murid.

"Friends... my lovely kids, do you know miss Ester will move. You will not meet miss Ester anymore." Tiba - tiba lampu padam. Suasana remang - remang. Sedikit cahaya dari balik jendela putih yang berhadapan miss Ester.

Serentak anak - anak heboh karena lampu padam.

"Ssttt... it's Ok, dear! by the way please say to miss Ester 'We will miss you, miss Ester,' and then shake miss Ester's hand, ok?" kataku pada anak - anak.

Meski gedung sekolah sebagian gelap, namun masih bisa melihat mata miss Ester yang berkaca - kaca. Aku tidak ingin hari terakhirnya bersama anak - anak berlangsung haru.

Dengan menyembunyikan rasa sedih aku bercanda pada anak - anak hingga mereka tertawa. Senyum miss Ester merekah. Sorot kelam masih menempel, aku terpukul mengingat kata - katanya dulu bahwa akulah satu - satunya guru yang dekat dengannya. Sementara aku tidak bisa sabar membimbingnya dan sering mengeluh pada JM.

---

Besok report day. Semua sudah rampung. Setelah makan siang, miss Ester memberitahu bahwa ia menunggu kabar dari bawah sebab ia telah memberikan surat pengunduran dirinya.

Entah apa yang telah terjadi, tapi menurut salah satu guru, ada seorang guru yang dipanggil atasan dan menanyakan kinerja miss Ester yang kebetulan mereka satu tim di kelas siang.

Saat itu aku sempat menyesali, mengapa saat kinerjanya sudah mulai baik, ia masih mendapat teguran? apa karena? Ah, aku berhenti berpikiran buruk. Namun bukankah aku telah memberitahu pada koordinator bahwa kinerjanya mulai bagus dan tidak masalah bila ia tetap jadi partnerku?

Apa boleh buat. Aku dan miss Ester masih asyik berbincang dan belum sempat bersalaman atau sekedar berbagi alamar email, telepon dari atasan ditujukan padaku untuk memberi kabar tentang pengunduran diri miss Ester.

Saat aku kembali di kelas, miss Ester telah pulang lebih awal dari biasanya. Ia pergi meninggalkan sejuta tanya untukku dan ia pergi membawa pertanyaan - pertanyaannya jauh. Tidak akan ada lagi pertanyaan yang sama darinya untukku seperti biasa. Juga, tidak ada pula sapaan hangat tiap pagi yang menjadi kebiasaannya...

"Miss... Good morning, I've been waiting for you."

-The End-

The Same Questions Have Gone Part I

Pagi itu aku berjalan santai memasuki kelas. Dalam benak selalu bertanya - tanya bagaimanakah rupa partner kerjaku yang baru.

Sebelum masuk ke kelas, terlihat seseorang perempuan bertubuh tinggi besar dan rambutnya panjang tebal kecokelatan.

"Hi, how do you do?" Sapanya mengulurkan tangan padaku. Ia tersenyum ramah, terlihat jelas kepercayaan dirinya terpancar dari potongan wajahnya yang cantik.

"Ester." Kami berkenalan. Meski sebelumnya aku telah diwanti - wanti oleh kepala sekolah supaya aku tidak boleh diam saja- maksudnya, diam saat seseorang yang agresif lebih mendominasi atau membuatku terlihat lemah.

"Nice to meet you." Kataku dan tersenyum lalu duduk di kursi. Setelah itu aku mulai memperkenalkan diri dan menjelaskan secara singkat tugasnya sebagai asisten guru.

Sebelumnya aku sudah dengar, bahwa ia fasih bercakap bahasa Inggris. Terbukti saat aku mendengarnya sendiri. Senang, akhirnya aku mendapatkan partner yang bisa diandalkan untuk membantuku mengejar target.

---

Seminggu telah berlalu. Entah apa yang sebenarnya terjadi; canggung atau masih bingung karena dia masih baru. Tapi apa iya, ada yang sulit mengenal orang baru?

"I'm sorry because I don't know the teachers' name here. It's difficult to me to recognize them." Akunya padaku setelah makan siang.

"Oh? it's okay. You're new. So, all you need is try to be close with them." Jawabku.

Ester yang ramah dan sopan namun tertutup. Ia sangat rajin, kadang pelupa. Kuanggap itu hal biasa. Karena aku juga pernah menjadi guru baru seperti dia. Yang dibutuhkannya adalah beradaptasi.

---

Selang satu bulan lebih, aku yang sibuk mempersiapkan event besar sangat tidak sabar menghadapi Ester.

"Kenapa?" tanya JM sahabatku.

Lalu kujelaskan bahwa selama ini Ester selalu mempertanyakan hal yang sama berulang - ulang.

"Itu membuatku bosan!" keluhku kemudian menceritakan kronologis kekacauan kelas.

"Aku capek! rasanya aku yang kerja sendiri. Sementara aku harus bersabar dan mengerti posisinya sebagai guru baru." lanjutku panjang lebar.

"Ya sudah, Put... kamu tulis saja tugas - tugasnya di secarik kertas dan tempel di mading kelasmu. Beres."

Ide itu pula yang juga melayang - layang dalam otakku. Kemudian kuketik jadwal belajar kelasku dan beberapa tips.

---

"I heard you keep asking some teachers about our class' projects and schedule." Kataku dengan tenang seperti biasa kalau menghadapinya.

"who said?" tanya Ester. "Some teachers told me." jawabku dan menyimpan proposal dalam rak buku dekat meja kerjaku.

"Tell me who are they?" Ester memburu jawabanku. Tapi aku tidak bermaksud untuk mengadu domba.

"Some of them, and I think so. Because you always ask me what you have asked many times. I'm sorry for saying these, miss. But this is for you. I hope it will help you." Jelasku lalu menyodorkan dua lembar kertas berisi jadwal dan tips.

"Okay. Thank you."

Kulihat wajahnya sedikit kesal bercampur sedih, dengan terpaksa namun tetap sopan ia menerimanya.

Aku memang sering dibuatnya kesal bila ia hanya bengong ketika anak - anak usia 4 tahun di kelas kami tidak terkontrol. Maklumlah, anak pre-school mana ada yang kalem semua? Kalau bukan ada yang lari, pasti bersahut - sahutan sambil bercanda.

Aku kerap menerima komplain dari orang tua. Bahkan yang paling parah saat aku benar - benar sakit kepala dan tidak hadir, terjadi kecelakan ringan. Salah satu murid kami yang kuku kakinya panjang, tanpa sengaja menggores kaki si kecil Joseph.

Dua hari berturut - turut ibunya marah besar. Biasalah, di sekolah kami sangat menomorsatukan kualitas dan kenyamanan orang tua murid. Sehingga pelayanan sekolah harus sangat sempurna pada orang tua murid.

Siang itu, rasanya seperti dicabik - cabik saat mendengar kata - kata ibu Joseph. Bagiku, sebab saat terjadi aku tidak hadir dan kecelakaan kedua anak tampan dan mungil itu terpleset.

"Oh my God! I am really really really sick! kenapa sih, miss Ester tidak mengerti juga kalau menangani kelas Pre-K itu harus cekatan dan punya inisiatif. Kalau tidak peka, bisa - bisa aku tinggal tulang terbungkus kulit!" Kali ini aku mengeluh lagi pada JM.

"Hmmm, mungkin pikirannya sedang tidak konsen atau sulit baginya menyesuaikan diri." Timpal JM.

"Tadi siang, rasanya pengen jewer kupingnya. Tapi dia kan lebih tua dari aku, JM. Pokoknya aku pengen term depan ganti partner. Kalau begini tiap hari bisa gawat. Aku juga rasanya kehilangan kesabaran kalau ditanya berulang - ulang hal - hal yang udah kujelasin."

"Sabar... sabar... berdoa saja semoga next term dapat partner yang lebih baik.Kalaupun tetap dia, semoga dia jauh lebih baik."

---

Dua bulan kemudian, walau masih bertanya meski terlihat sangat segan bertanya, Ester sedikit curhat tentang dirinya.

Sejenak, hatiku berdesir. Rasanya selama ini aku kurang bijaksana menghadapinya. Akupun mulai luluh dan kami sering bercanda. Walau tetap saja, Ester tidak senang membahas masalah pribadinya.

"Do you know miss Ester? you look like Geri Halliwell. Ginger Spice." Kataku sambil memperlihatkan foto - foto Spice Girls.

Ia melihat dan tersipu malu. "Hm, no. I don't think so." kilahnya tersenyum, mata cokelatnya masih melihat - lihat koleksiku. "I only know the blondy one." Ester menunjuk  Baby Spice. "Ow, that's Emma." kataku.

Kami berdua rasanya seperti dua orang guru yang saling menjaga perasaan. Walau mungkin saja dalam hatinya ia juga kesal dengan sikapku yang terkadang dingin bila banyak hal yang harus aku kerjakan sementara suasana kelas berantakan.

---

Hampir tiap malam aku terganggu dan mengeluh dengan kinerja Ester. Hingga suatu hari aku bertanya pada Koordinator guru.

"Kira - kira next term siapa partnerku?"

Awalnya beliau tidak ingin menjawab, tapi akhirnya ia mengisyaratkan bahwa aku masih dipasangkan dengan Ester.

Telingaku bagai mendengar gelegar guntur. Kilat menyambar - nyambar, gelas - gelas kaca berjatuhan.

"Oh, no...!!!"

Kuceritakan pada JM dan bagai orang frustasi aku tidak hentinya berbicara dan menceritakan betapa hatiku serba salah tiap kali ingin marah, tapi harus tetap menjaga perasaannya, agar tidak terkesan mengintimidasi.

"Tapi apa aku harus begini terus?"

JM membisu, kehabisan kata - kata. Kami terdiam dalam ruang obrolan Whatsapp.

---

Setelah menyerah karena hal yang mustahil membujuk koordinator yang sudah angkat tangan sebelum aku minta tolong untuk memberi training pada guru - guru baru.

Sambil menghela nafas, aku berusaha sabar dan tidak memperumit. Setelah makan siang, aku mulai bercanda dengannya dan memberi tips dan cara menjelaskan pelajaran.

Satu per satu guru yang lewat depan kelas kami sempat meledek dengan jenaka. Tapi aku dan Ester tetap serius dalam diskusi kami. Ini demi kenyamanan bersama, khususnya untuk next term.

"I think it's enough, miss." Pinta Ester. "I get headache if I receive too many subjects." Terangnya.

Aku tersenyum dan berdoa untuk kedepannya bisa lebih baik.

---

Seminggu berlalu, untuk kesekian kali ia bertanya bagaimana kinerjanya. Biasanya aku hanya menjawab. "Not bad, because you're still new. You have to be proud. You are smart miss, and beautiful. But sometimes, you look confuse with many things." Kataku.

Pandangannya lurus padaku. Sedikit mengakui kelemahannya, ia berkata bahwa ia masih bingung dan kadang tidak tau harus berbuat apa. Ia juga mengakui bahwa ia pelupa.

Sifatku yang ceplas - ceplos, sedikit tidak menjaga perasaannya. Aku menyarankannya untuk meminum vitamin agar stamina otaknya fit. Karena bagiku dan kebanyakan guru lain, Ester benar - benar pelupa.

"I have bought Chinesse pill for brain." Katanya membuatku kaget dan sedikit menyesal telah menyusahkannya. Mungkin ia berfikir keras agar bisa menguasai medan. Seperti katanya, "I want everthing can go fast."

Aku menatapnya tanpa kata - kata. Sudah kuberi tahu, semua butuh proses dan tidak perlu khawatir berlebihan. Bekerja dengan santai tapi pasti. Pun aku berkata padanya, "Don't worry. You are getting better. You look happy and I feel good to see you have a great job" jelasku membuatnya tersenyum.

Tidak disangka, setelah asyik berdiskusi aku mendapatkan alasan mengapa ia terlihat bahagia. Rupanya sebentar lagi ulang tahunnya. Tanggal 21 Maret.

---

Selang beberapa hari, tepat pada hari ulang tahunnya, aku berniat untuk bercanda. "Hi miss... so how old are you now?"

Namun ia menjawabku dengan singkat dan terkesan dingin. "It's a secret, do not tell anyone about this day." Lalu ia pergi meninggalkan kelas.

"Oh, sungguh tidak bersahabat!" gumamku. Kadang Ester memang sulit ditebak, makanya sebagian besar guru - guru segan bersenda - gurau dengannya. Takut dijawab dengan singkat dan menyisakan tanda tanya, sebab ia sangat tertutup.

---

Akhir term telah tiba, kami sibuk mempersiapkan report day yang tinggal beberapa hari lagi. Seperti biasa, Ester selalu membuatku terdesak untuk melakukan sesuatu saking inginnya ia bergerak cepat. Tapi, sayangnya saat tugas telah dibagi, ia malah kebingungan dan stress sendiri.

"Sudahlah, let me do it."

Sabtu, 06 April 2013

Friendship Tips

God gives us special people to love and special times to let them know how much we do. Meskipun orang bijak mengatakan "Bersosialisasilah pada semua orang," but nggak bisa dipungkiri... tidak semua orang itu punya persepsi yang sama. So, that's why sering banget kita dengar sebuah grup ataupun geng. Nah, kali ini Spice pengen share tips buat adik - adik ABG and friends yang pengen tau apa sih, tips - tips biar geng lebih keren... check them out, friends!

☆ KOMPAK.

Perlu banget cuz ini modal utama kalau mau langgeng.

☆ COCOK.

Satu selera cuz ini yang bisa bikin kompak.

☆ JUJUR.

Jadi nggak perlu terjadi teman makan teman.

☆ NGGAK Sombong & Belagu.

Karena diluar geng kita bisa baur dengan yang lain. Nggak ada seorang pun yang senang dikasarin, kan??

☆ SMART

Dari bergaul bareng kita juga bisa saling tukar info buat tambah wawasan.

☆ SHARING

Sedih senang selalu berbagi. Bantuin yang lagi susah. Take n' give dengan natural.

Friendship Never End (∩_∩) (^_^)ε^)