 |
| my lipsticks ^^ |
Masih lekat
di ingatanku saat berumur 3 tahun; berdiri di depan cermin lemari bermain bersama
lipstick ibu sambil berlenggak – lenggok bak peragawati atau mengajak teman untuk bermain sinetron dan aku berperanse bagai
guru yang cantik sedangkan temanku adalah murid yang baik hati. Sejak kecil aku memang dilahirkan menjadi seorang anak pesolek. Kadang,
ketika orang – orang dewasa disekitarku sedang sibuk dengan rutinitas mereka, aku sangat senang bersembunyi
di dalam kamar dan memakai baju dan sepatu milik ibu.
Masa kecilku selalu menanti datangnya hari dimana aku bisa menggunakan
lipstick tanpa mendengar protes dari teman maupun ibu. Beranjak SMP, ibu membelikanku pelembab bibir beraroma buah dan tidak jarang bila ada kerabat atau pun tetangga mengadakan pesta,
 |
| Jadi pagar ayu. Baju Bodo modern. |
aku sering ikut andil meskipun hanya menjadi pagar ayu. Rasanya senang karena itu berarti aku akan dirias.
Sayang sekali semasa kecil aku kurang tertarik mengikuti fashion show dan semacamnya.
Meskipun aku senang melihat segala sesuatu yang berbau fashion dan mode.
 |
| Visiting my aunty at Sahid Hotel, 2007 |
Padatahun
2005 aku lulus di salah satu universitas negeri di Gorontalo.Namun, langkahku pun
terhenti saat melihat salah satu mahasiswa yang berpenampilan wah di kampus. Kelopak
yang berwarna – warni, bulumata yang lentik dan tebal, perona pipi dan
lipstick. Meskipun mencintai keindahan lipstick,
bukan berarti harus berdandan menor disegala suasana.Syukurlah, semasa kuliah aku masih percaya bahwa kecantikan itu bukan bersumber dari polesan kosmetik tapi bagaimana kita berpenampilan dan tentunya dari dalam hati.
Setelah itu, aku bergabung pada salah satu
Unit Kegiatan Mahasiswa yaitu Teater.
 |
| Road show for Global Warming 2008 |
Disana aku bisa mengeksplorasi kegemaranku dengan tepat dalam menata rias. Bahkan bukan hanya merias untuk menjadi cantik,
tapi juga merias pemain teater yang muda menjadi tua dan yang cantik bisa menjadi konyol. Banyak kenangan tentang tata rias
di
Teater Peneti Gorontalo. Hingga waktu mempertemukanku pada gelar sarjana. Momen terpenting bagi para mahasiswi adalah tampil cantik pada saat mengenakan
toga. Aku bersama salah satu angkatanku rela bangun jam 4
subuh untuk mempersiapkan diri ke salon kecantikan. Kami
dirias dan juga mencoba kreasi jilbab agar penampilan kami lebih menunjang.
 |
| Graduation ceremony, 2010 |
Waktu terus berjalan, hidup berputar dan berproses. Dunia nyata tentunya setelah kita sarjana. Aku melamar pada salah satu yayasan pendidikan
di Makassar. Di tempat aku bekerja tersebut yang notabene guru –
gurunya adalah seorang perempuan, aku menemukan tempat seperti dahulu kala sewaktu aku berperan sebagai
guru dan juga aku bisa berias namun tidak berlebihan.
 |
| Bambini School Graduation, 2011 |
Dan satu hal yang
menarik adalah beberapa guru ada yang berbisnis kosmetik, hehehe. Namun langkahku tidak terhenti sampai disitu,
masih banyak cita – cita yang belum tercapai.
 |
| Me and my workmate: Ms. Aisyah Amir |
Kecantikan adalah anugerah Tuhan
yang patut kita jaga dan syukuri. Bagiku, tidak ada perempuan di dunia ini yang
diciptakan buruk oleh-Nya terkecuali anda sendiri yang menjadikan diri anda buruk.
Because the ugly truth is the way you hurt another by doing the cruel things.
Be beauty just like the lipstick which gives some pretty colors to your smile.
Nice story, Puthe :)
BalasHapus