Kamis, 25 Oktober 2012

21 Morning

Ketika memori melompat pada episode bertahun - tahun lalu, penuh kerinduan.

Suatu pagi yang sejuk kala itu, gadis kecil menikmati keramahan dedaunan hijau tertiup angin. Seorang nenek tua berambut dan berkulit putih dengan mata sipitnya berjalan pulang dengan aroma khasnya, juga baju bunga - bunga pink kesukaannya. Selalu ramah melintasi depan rumah gadis kecil itu, lalu ia menyapa akrab pada bapak tua berkumis tebal yang selalu berdiri di belakang pagar rumahnya.

Tidak lupa, seorang ibu bertubuh kecil dengan tumpukan pakaian yang harus dicucinya. Si gadis kecil selalu mengamati setiap kejadian yang menjadi kebiasaan. Juga, motor berwarna putih yang ributnya minta ampun dan pengendaranya berkaca mata hitam:  Police glasses yang trend masa itu.

Hehehe, di sela - sela pagi itu pun nenek yang baik hati sedang membersihkan tanamannya. Aroma melati yang tak terlupakan, juga suara bidikan panah kayu buatan suaminya dari dalam rumah.

Mereka yang tiada lagi memeriahkan indahnya pagi dan keramahannya semoga Tuhan selalu bersama kalian.

Poetry. 21 Morning.
Memory of almarhumah Grandma Alimah, almarhum Grandpa Suyono and some neighbors who had passed away.

Setelah menulis 21 Morning, datang berita duka bahwa sahabat almarhumah Grandma Alimah yang tadinya ingin saya masukkan dalam tulisan do atas baru saja meninggal dunia. Rupanya memori ini ingin memberi petunjuk.

Dan...

Nothing last forever, but true friends are ever lasting memories... Rest in Peaceful sleep

Tidak ada komentar:

Posting Komentar