Bila cinta butuh pengorbanan, mengapa aku harus memilih
antara Kau dan Tuhan?
Bulir – bulir gerimis membasahi The Big Smoke. Disana berjalan
seseorang bermantel hitam, nafasnya berembun dan pandangannya tajam. Dia bukanlah
siapa – siapa di Britania Raya, siapa dia sebenarnya tak banyak yang tahu. Begitupun
gadis – gadis yang pernah dikencaninya, hingga ia bertemu gadis itu.
***
Pertengahan tahun 2011 yang lalu.
“kau suka London?”
“banyak tempat indah disana. Someday I wish I can be there.”
“percaya padaku, tidak ada hal menarik disini.”
“kenapa?”
“kau harus tau, selain mahal… tempat – tempat disini
membosankan dan dingin.”
“aku tetap suka London dan semoga suatu saat kita berjumpa
disana.”
“tentu saja, kita akan menikmati indahnya langit ketika
senja. Aku akan disampingmu, bersamamu, Canim.”
Berbincang dengan gadis itu membuatnya selalu bahagia. Matahari
seakan tetap menebarkan sinarnya dicuaca buruk sekalipun. Bersama kicau burung
dan tarian pelangi. Sebab gadis tersebut mampu menyembuhkan lara hatinya. Dia,
Prisilya. Suaranya yang lembut terus bergema di detak – detak jantung lelaki
berusia 27 tahun itu. Tidak akan pernah bisa hidup tenang sebelum bertemu
dengannya.
***
Minggu sore di Inggris Raya.
London Tower berdiri kokoh dan anggun, Raffael Yumuk lelaki
yang berasal dari Turkey itu bersantai sejenak selepas beribadah Minggu. Menikmati
pemandangan sungai Thames. Tepat dihadapannya London Tower yang ramai oleh
turis dan pejalan kaki. Raffael begitu bercahaya, senyumannya terus merekah dan
kedua matanya yang kecoklatan sedang kagum memperhatikan sepasang kakek dan
nenek yang sedang dipotret bersama cucu dan seekor anjing kecil. Mereka terlihat
bahagia.
“Canim…” gumamnya. Canim adalah panggilan sayang dari
Raffael untuk Prisilya yang merupakan bahasa Turkey, sesuai dengan artinya: sayang.
Gadis berdarah Minangkabau itu terus menyita waktunya dengan rasa rindu dan
sayangnya yang teramat dalam. Rambutnya yang hitam dan matanya yang sendu
sesekali terlihat tajam begitu menawan.
Dikeluarkannya sebuah ponsel hitam dari sakunya. Berkilau logo
Apel dan beberapa detik kemudian dimasukkannya kembali.
Matahari pun mulai beranjak dari singgasananya. Sinar Sang
Maha Besar berkilauan bersama rindu. Raffael lalu mendongak dan memejamkan
matanya. Rambutnya yang cepak disapa sinar keemasan Sang mentari.
Suatu ketika, kita
akan bersama dan aku akan menggenggam tanganmu sambil menyaksikan indahnya
lukisan langit dikala matahari terbenam. Suatu saat nanti, Canim.
***
Hujan dan November adalah sahabat lama. Mereka selalu
bertemu diwaktu yang sama. Rindu terus menyelimuti London dan awan berderai
dengan gelapnya. Tetapi cintanya tak terhapus oleh air hujan. Ia selalu
berjalan mengikuti cahaya cinta dan janji yang mereka rangkai bersama. Dan malam itu...
“happiness doesn’t depend on outward things. But on the way
we see, Canim.”
Malam itu mereka sedang memperdebatkan sesuatu yang rumit
untuk hubungan mereka.
“kita bisa bahagia bila bersama.” Tampik Prisilya.
“oh, kau pikir kita tidak mungkin bahagia bersama suatu saat
nanti?”
“ya, tentu saja bagimu semua mudah, tapi tidak bagiku,
agamaku.”
“kau selalu membawa agama diantara kita.”
“kita berdua lupa, tidak… aku yang lupa, agama itu cahaya hidup. Kita
tidak akan bahagia bila hanya saling memiliki namun rohani kita hampa, kosong. I
think I am not happy.”
“tell me what do you want?”
“you know what I want!”
Pembicaraan mereka terhenti selama satu jam. Yahoo Messenger
membisu. Tak satupun dari mereka saling berbalas.
Di Indonesia, tepatnya di pulau Sumatra, matahari mulai
tinggi dan hati gadis berusia 24 tahun itu mulai tak karuan. Ada rasa yang
begitu kuat. Tak ingin kehilangan seseorang yang selama ini menyayanginya,
menghargainya dan menemaninya meski jarak antara mereka begitu jauh. Raffael bukan
hanya tampan, hatinya pun baik ia selalu tulus mencintai dan menolong Prisilya
kapanpun ia membutuhkan pertolongan. Akan tetapi cinta Prisilya sedikit demi sedikit
pudar karena rasanya pada Tuhan lebih besar, walau dalam lubuk hatinya ia tidak
mampu melepaskan Raffael.
“my dear, Raffael… aku memberimu kesempatan untuk berfikir. Kita
bisa bersama, hidup bahagia asal kau mau berubah pikiran.”
“sayangku, Canim… tidak aka nada yang berubah. Kau tidak
akan bisa merubah seseorang dengan keinginanmu dan kepentinganmu. Sadarkah kau
cinta itu bagaimana kita bisa menerima pasangan kita apa adanya?”
“……” Prisilya terdiam dan dadanya mulai pilu.
“tidakkah kau merasa aku sangat mencintaimu dan
menghormatimu Canim… aku bisa menerima baik dan burukmu, aku bersungguh –
sungguh.” Lanjut Raffael meyakinkan.
“ya, aku tau itu sayang… I love you too, Seni seviyorum! Tapi
mengertilah, agamaku tidak mengizinkan pernikahan beda agama dan kau tau aku
tidak bisa.”
“kau bahkan tidak memberi kesempatan untuk kita bertemu.”
“untuk apa kita bertemu bila suatu saat kita pun akan
berpisah?”
“jangan memulai drama sedihmu Canim, sayangku… kau
memperumit keadaan, kita seharusnya berusaha agar tetap bersama. Kelak kita
akan mempunyai anak – anak yang lucu dan mereka akan mengerti dengan perbedaan
kita. We love each other, don’t we?”
“Sayang, kau tetap tidak mengerti keadaanku, orang tuaku
tidak akan merestui. Sungguh, aku menginginkanmu juga tapi aku akan memilih
jalan menuju Tuhanku. Kita tidak akan bisa bergandengan bila jalan kita
berbeda.”
“Birsey deyil… I mean, it’s ok… aku paham kau tidak akan mau
meneruskan hubungan ini.”
“maafkan aku, cintaku… ketahuilah, kau begitu tampan dan
mapan. Kau juga loyal, baik hati dan menyenangkan. Akan ada banyak gadis datang
padamu. Tak mudah bagiku mengatakan ini. It’s not easy to leave you”
“ No, I am not. Apalah artinya semua itu? Tampan? Loyal…
baik hati…jika aku tidak bisa memiliki gadis yang kucintai?”
“I’m sorry.”
Langit seakan runtuh, Raffael tidak pernah menyangka rasanya
akan sesakit itu. Sungguh, ia tidak akan mampu membiarkannya pergi. Cintanya telah
terpatri dihatinya. Harapan terbang satu per satu melayang bersama
angin dan hujan lebat.
“tunggu, Canim… katakan padaku apakah kau benar – benar akan
meninggalkanku?”
“bila berbuat dosa itu seindah cinta kita, terangkan padaku
adakah tempat di Neraka yang indah?”
Suasana hening, air mata lelaki berdada bidang itu tak
terbendung lagi. Begitupun dengan Prisilya, tak tahan lalu gadis bertubuh
sintal itu menghentikan percakapan.
Offline.
***
Dinginnya hujan menusuk sampai ke tulang. Dikencangkannya tali
mantel hitam berbahan kulit yang membungkus tubuhnya yang tinggi. Matanya
berkaca – kaca mengenang kembali cinta yang telah pergi. Cinta yang berakhir
atas nama Tuhan. The Big Smoke benar – benar berkabut.
Ia terus melangkahkan kakinya menuju London Underground, lalu berdiri
sendiri menunggu kereta bawah tanah yang belakangan mulai terlihat penurunan
pelayanan; seperti kepadatan dan keterlambatan kereta yang mungkin kekurangan
investasi.
Suara – suara orang berbincang dan bunyi kereta membuyarkan
lamunannya. Raffael tidak ingin larut dalam kesedihan. Ia berangkat kesebuah
wilayah kecil di London Raya, The City. Sebuah kota tua dimana ia dibesarkan,
mereka menyebutnya Square Mile.
Di kota bersejarah itu, kota asli London, Raffael kembali
pulang. Membuang kenangannya dan memeluk hangat seorang ibu yang tidak pernah
berhenti mencintainya.
Fin

Aaaiiihhhh..... Vin Diesel..... Hehehehehehehe.... Hhhhmmmmm..... Love it. ^_^
BalasHapusOMG!!! Puthe, I love it. . sayang bersambung :( So sad . . I almost cried when they broke up . .. :(
BalasHapusLee_ann: Thank u jan... I wait ur blog. Have u made it? Vien Diesel the bald cute man :)
BalasHapusNu: its a sad long distance relationship story... I wish I could make a lovely story like yours with Naj. And I was waiting for ur romantic story
Thanks for both of u... My favorite writers~readers <3
“bila berbuat dosa itu seindah cinta kita, terangkan padaku adakah tempat di Neraka yang indah?” <-- love it
BalasHapusmenurutku sangat eksplisit. ceritanya biasa tapi dibalut diksi luar biasa. gud job.
eksplore lagi :)
eitss.. ada bagian yang mungkin agak "mengganggu pembaca" (atau mungkin hanya menggangguku. lol).
ketika alur lagi pilu, tiba2 ada frase "lalu gadis bertubuh sintal itu.." hehehe..
chaayyoo pute keep going....!!!
teruslah.. baca seisi bumi dan tuliskan kembali :)
with love _Nany Diansari_
Dear K'Nany...
BalasHapusYou got it :)
Saat itu idex sdh buram... Si sintal itu memang rancu...
Hehehehehee jadi lucu.
Sederhana sekali kak... Malam itu saya hanya bermodalkan sepasang HVS dan spidol hitam...hendak memaksakannya menjadi emas tapi apa daya yang kupunya hanya secuil bara & segenggam ilmu.
Thankyuu, I will learn more :)
Cheers