Rabu, 18 Januari 2012

The Way to Square Mile




Bila cinta butuh pengorbanan, mengapa aku harus memilih antara Kau dan Tuhan?

Bulir – bulir gerimis membasahi The Big Smoke. Disana berjalan seseorang bermantel hitam, nafasnya berembun dan pandangannya tajam. Dia bukanlah siapa – siapa di Britania Raya, siapa dia sebenarnya tak banyak yang tahu. Begitupun gadis – gadis yang pernah dikencaninya, hingga ia bertemu gadis itu.

***

Pertengahan tahun 2011 yang lalu.

“kau suka London?”
“banyak tempat indah disana. Someday I wish I can be there.”
“percaya padaku, tidak ada hal menarik disini.”
“kenapa?”
“kau harus tau, selain mahal… tempat – tempat disini membosankan dan dingin.”
“aku tetap suka London dan semoga suatu saat kita berjumpa disana.”
“tentu saja, kita akan menikmati indahnya langit ketika senja. Aku akan disampingmu, bersamamu, Canim.”

Berbincang dengan gadis itu membuatnya selalu bahagia. Matahari seakan tetap menebarkan sinarnya dicuaca buruk sekalipun. Bersama kicau burung dan tarian pelangi. Sebab gadis tersebut mampu menyembuhkan lara hatinya. Dia, Prisilya. Suaranya yang lembut terus bergema di detak – detak jantung lelaki berusia 27 tahun itu. Tidak akan pernah bisa hidup tenang sebelum bertemu dengannya.

***

Minggu sore di Inggris Raya.

London Tower berdiri kokoh dan anggun, Raffael Yumuk lelaki yang berasal dari Turkey itu bersantai sejenak selepas beribadah Minggu. Menikmati pemandangan sungai Thames. Tepat dihadapannya London Tower yang ramai oleh turis dan pejalan kaki. Raffael begitu bercahaya, senyumannya terus merekah dan kedua matanya yang kecoklatan sedang kagum memperhatikan sepasang kakek dan nenek yang sedang  dipotret bersama cucu dan seekor anjing kecil. Mereka terlihat bahagia.

“Canim…” gumamnya. Canim adalah panggilan sayang dari Raffael untuk Prisilya yang merupakan bahasa Turkey, sesuai dengan artinya: sayang. Gadis berdarah Minangkabau itu terus menyita waktunya dengan rasa rindu dan sayangnya yang teramat dalam. Rambutnya yang hitam dan matanya yang sendu sesekali terlihat tajam begitu menawan.

Dikeluarkannya sebuah ponsel hitam dari sakunya. Berkilau logo Apel dan beberapa detik kemudian dimasukkannya kembali.

Matahari pun mulai beranjak dari singgasananya. Sinar Sang Maha Besar berkilauan bersama rindu. Raffael lalu mendongak dan memejamkan matanya. Rambutnya yang cepak disapa sinar keemasan Sang mentari.

Suatu ketika, kita akan bersama dan aku akan menggenggam tanganmu sambil menyaksikan indahnya lukisan langit dikala matahari terbenam. Suatu saat nanti, Canim.

***

Hujan dan November adalah sahabat lama. Mereka selalu bertemu diwaktu yang sama. Rindu terus menyelimuti London dan awan berderai dengan gelapnya. Tetapi cintanya tak terhapus oleh air hujan. Ia selalu berjalan mengikuti cahaya cinta dan janji yang mereka rangkai bersama. Dan malam itu...

“happiness doesn’t depend on outward things. But on the way we see, Canim.”

Malam itu mereka sedang memperdebatkan sesuatu yang rumit untuk hubungan mereka.

“kita bisa bahagia bila bersama.” Tampik Prisilya.
“oh, kau pikir kita tidak mungkin bahagia bersama suatu saat nanti?”
“ya, tentu saja bagimu semua mudah, tapi tidak bagiku, agamaku.”
“kau selalu membawa agama diantara kita.”
“kita berdua lupa, tidak… aku yang lupa, agama itu cahaya hidup. Kita tidak akan bahagia bila hanya saling memiliki namun rohani kita hampa, kosong. I think I am not happy.”
“tell me what do you want?”
“you know what I want!”

Pembicaraan mereka terhenti selama satu jam. Yahoo Messenger membisu. Tak satupun dari mereka saling berbalas.

Di Indonesia, tepatnya di pulau Sumatra, matahari mulai tinggi dan hati gadis berusia 24 tahun itu mulai tak karuan. Ada rasa yang begitu kuat. Tak ingin kehilangan seseorang yang selama ini menyayanginya, menghargainya dan menemaninya meski jarak antara mereka begitu jauh. Raffael bukan hanya tampan, hatinya pun baik ia selalu tulus mencintai dan menolong Prisilya kapanpun ia membutuhkan pertolongan. Akan tetapi cinta Prisilya sedikit demi sedikit pudar karena rasanya pada Tuhan lebih besar, walau dalam lubuk hatinya ia tidak mampu melepaskan Raffael.

“my dear, Raffael… aku memberimu kesempatan untuk berfikir. Kita bisa bersama, hidup bahagia asal kau mau berubah pikiran.”
“sayangku, Canim… tidak aka nada yang berubah. Kau tidak akan bisa merubah seseorang dengan keinginanmu dan kepentinganmu. Sadarkah kau cinta itu bagaimana kita bisa menerima pasangan kita apa adanya?”
“……” Prisilya terdiam dan dadanya mulai pilu.
“tidakkah kau merasa aku sangat mencintaimu dan menghormatimu Canim… aku bisa menerima baik dan burukmu, aku bersungguh – sungguh.” Lanjut Raffael meyakinkan.
“ya, aku tau itu sayang… I love you too, Seni seviyorum! Tapi mengertilah, agamaku tidak mengizinkan pernikahan beda agama dan kau tau aku tidak bisa.”
“kau bahkan tidak memberi kesempatan untuk kita bertemu.”
“untuk apa kita bertemu bila suatu saat kita pun akan berpisah?”
“jangan memulai drama sedihmu Canim, sayangku… kau memperumit keadaan, kita seharusnya berusaha agar tetap bersama. Kelak kita akan mempunyai anak – anak yang lucu dan mereka akan mengerti dengan perbedaan kita. We love each other, don’t we?”
“Sayang, kau tetap tidak mengerti keadaanku, orang tuaku tidak akan merestui. Sungguh, aku menginginkanmu juga tapi aku akan memilih jalan menuju Tuhanku. Kita tidak akan bisa bergandengan bila jalan kita berbeda.”
“Birsey deyil… I mean, it’s ok… aku paham kau tidak akan mau meneruskan hubungan ini.”
“maafkan aku, cintaku… ketahuilah, kau begitu tampan dan mapan. Kau juga loyal, baik hati dan menyenangkan. Akan ada banyak gadis datang padamu. Tak mudah bagiku mengatakan ini. It’s not easy to leave you”
“ No, I am not. Apalah artinya semua itu? Tampan? Loyal… baik hati…jika aku tidak bisa memiliki gadis yang kucintai?”
“I’m sorry.”

Langit seakan runtuh, Raffael tidak pernah menyangka rasanya akan sesakit itu. Sungguh, ia tidak akan mampu membiarkannya pergi. Cintanya telah terpatri dihatinya. Harapan terbang satu per satu melayang bersama angin dan hujan lebat.

“tunggu, Canim… katakan padaku apakah kau benar – benar akan meninggalkanku?”
“bila berbuat dosa itu seindah cinta kita, terangkan padaku adakah tempat di Neraka yang indah?”

Suasana hening, air mata lelaki berdada bidang itu tak terbendung lagi. Begitupun dengan Prisilya, tak tahan lalu gadis bertubuh sintal itu menghentikan percakapan.

Offline.

***

Dinginnya hujan menusuk sampai ke tulang. Dikencangkannya tali mantel hitam berbahan kulit yang membungkus tubuhnya yang tinggi. Matanya berkaca – kaca mengenang kembali cinta yang telah pergi. Cinta yang berakhir atas nama Tuhan. The Big Smoke benar – benar berkabut.
Ia terus melangkahkan kakinya menuju London Underground, lalu berdiri sendiri menunggu kereta bawah tanah yang belakangan mulai terlihat penurunan pelayanan; seperti kepadatan dan keterlambatan kereta yang mungkin kekurangan investasi.

Suara – suara orang berbincang dan bunyi kereta membuyarkan lamunannya. Raffael tidak ingin larut dalam kesedihan. Ia berangkat kesebuah wilayah kecil di London Raya, The City. Sebuah kota tua dimana ia dibesarkan, mereka menyebutnya Square Mile.
Di kota bersejarah itu, kota asli London, Raffael kembali pulang. Membuang kenangannya dan memeluk hangat seorang ibu yang tidak pernah berhenti mencintainya.

Fin  

5 komentar:

  1. Aaaiiihhhh..... Vin Diesel..... Hehehehehehehe.... Hhhhmmmmm..... Love it. ^_^

    BalasHapus
  2. OMG!!! Puthe, I love it. . sayang bersambung :( So sad . . I almost cried when they broke up . .. :(

    BalasHapus
  3. Lee_ann: Thank u jan... I wait ur blog. Have u made it? Vien Diesel the bald cute man :)

    Nu: its a sad long distance relationship story... I wish I could make a lovely story like yours with Naj. And I was waiting for ur romantic story

    Thanks for both of u... My favorite writers~readers <3

    BalasHapus
  4. “bila berbuat dosa itu seindah cinta kita, terangkan padaku adakah tempat di Neraka yang indah?” <-- love it
    menurutku sangat eksplisit. ceritanya biasa tapi dibalut diksi luar biasa. gud job.
    eksplore lagi :)
    eitss.. ada bagian yang mungkin agak "mengganggu pembaca" (atau mungkin hanya menggangguku. lol).
    ketika alur lagi pilu, tiba2 ada frase "lalu gadis bertubuh sintal itu.." hehehe..
    chaayyoo pute keep going....!!!

    teruslah.. baca seisi bumi dan tuliskan kembali :)

    with love _Nany Diansari_

    BalasHapus
  5. Dear K'Nany...

    You got it :)
    Saat itu idex sdh buram... Si sintal itu memang rancu...
    Hehehehehee jadi lucu.

    Sederhana sekali kak... Malam itu saya hanya bermodalkan sepasang HVS dan spidol hitam...hendak memaksakannya menjadi emas tapi apa daya yang kupunya hanya secuil bara & segenggam ilmu.

    Thankyuu, I will learn more :)

    Cheers

    BalasHapus