Minggu, 24 Juni 2012

Lipstick and Me

my lipsticks ^^

Masih lekat di ingatanku saat berumur 3 tahun; berdiri di depan cermin lemari bermain bersama lipstick  ibu sambil  berlenggak – lenggok bak peragawati atau mengajak teman untuk bermain sinetron  dan aku berperanse bagai guru yang cantik sedangkan temanku adalah murid yang baik hati. Sejak kecil aku memang dilahirkan menjadi seorang anak pesolek. Kadang, ketika orang – orang dewasa disekitarku sedang sibuk dengan rutinitas mereka, aku sangat senang bersembunyi di dalam kamar dan memakai baju dan sepatu milik ibu.

Masa kecilku selalu menanti datangnya hari dimana aku bisa menggunakan lipstick tanpa mendengar protes dari teman maupun ibu. Beranjak SMP, ibu membelikanku pelembab bibir beraroma buah dan tidak jarang bila ada kerabat atau pun tetangga mengadakan pesta, 

Jadi pagar ayu. Baju Bodo modern.
aku sering ikut andil meskipun hanya menjadi pagar ayu. Rasanya senang karena itu berarti aku akan dirias. Sayang sekali semasa kecil aku kurang tertarik mengikuti fashion show dan semacamnya. Meskipun aku senang melihat segala sesuatu yang berbau fashion dan mode.

Visiting my aunty at Sahid Hotel, 2007

Padatahun 2005 aku lulus di salah satu universitas negeri di Gorontalo.Namun, langkahku pun terhenti saat melihat salah satu mahasiswa yang berpenampilan wah di kampus. Kelopak yang berwarna – warni, bulumata yang lentik dan tebal, perona pipi dan lipstick. Meskipun mencintai keindahan lipstick, bukan berarti harus berdandan menor disegala suasana.Syukurlah, semasa kuliah aku masih percaya bahwa kecantikan itu bukan bersumber dari polesan kosmetik tapi bagaimana kita berpenampilan dan tentunya dari dalam hati.

Setelah itu, aku bergabung pada salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa yaitu Teater.

Road show for Global Warming 2008

Disana aku bisa mengeksplorasi kegemaranku dengan tepat dalam menata rias. Bahkan bukan hanya merias untuk menjadi cantik, tapi juga merias pemain teater yang muda menjadi tua dan yang cantik bisa menjadi konyol. Banyak kenangan tentang tata rias di Teater Peneti Gorontalo. Hingga waktu mempertemukanku pada gelar sarjana. Momen terpenting bagi para mahasiswi adalah tampil cantik pada saat mengenakan toga. Aku bersama salah satu angkatanku rela bangun jam 4 subuh untuk mempersiapkan diri ke salon kecantikan. Kami dirias dan juga mencoba kreasi jilbab agar penampilan kami lebih menunjang.

Graduation ceremony, 2010
Waktu terus berjalan, hidup berputar dan berproses. Dunia nyata tentunya setelah kita sarjana. Aku melamar pada salah satu yayasan pendidikan di Makassar. Di tempat aku bekerja tersebut yang notabene guru – gurunya adalah seorang perempuan, aku menemukan tempat seperti dahulu kala sewaktu aku berperan sebagai guru dan juga aku bisa berias namun tidak berlebihan.  

Bambini School Graduation, 2011

Dan satu hal yang menarik adalah beberapa guru ada yang berbisnis kosmetik, hehehe. Namun langkahku tidak terhenti sampai disitu, masih banyak cita – cita yang belum tercapai.

Me and my workmate: Ms. Aisyah Amir
Kecantikan adalah anugerah Tuhan yang patut kita jaga dan syukuri. Bagiku, tidak ada perempuan di dunia ini yang diciptakan buruk oleh-Nya terkecuali anda sendiri yang menjadikan diri anda buruk.

Because the ugly truth is the way you hurt another by doing the cruel things. Be beauty just like the lipstick which gives some pretty colors to your smile.


1 komentar: