Sabtu, 08 Desember 2012

Di Ujung Setapak

Hari selasa di ujung setapak terakhir kali aku melihatnya. Gumpalan darah yang tertempel di tubuhnya, menjadikan ratusan kata tak terucap.

Aku selalu mengikuti tiap episodenya. Mau tidak mau aku harus mendengarnya dan bukan karena terpaksa aku menyimak, tapi karena dia sahabatku.

Setahun sudah ia pergi. Kuping jalan setapak yang telah penuh keluh kesahnya pun merindukannya.

Sepertinya aku bingung membedakan perasaanku yang bersalah dan rasa yang tiba - tiba iba.

Tapi apakah setiap sepi selalu merangkai bait rindu?

Apakah setiap kesalahan selalu ada alasan? Lalu mengapa harus menyakiti hati lain? Bahagia buatnya adalah kesenangan diatas kepuasan. Dan rasanya tidak adil bila aku harus membelanya dan aku tau dia bersalah.

Saat itu, aku membiarkannya pergi mengikuti arah yang dipilihnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar