Sudah lama aku berdiri di tengah deretan kata
M-E-N-G-A-L-A-H.
Alasanku di tiap bait selalu sama: ingin menjadi yang terbaik.
Namun pada tinta terakhir, yang kudapatkan selalu sama dengan cinta kemarin: Kecewa.
Tahun berputar dua kali menemani kesendirianku. Saat aku mulai menulis lagi dengan pena baru, tidak ada sepenggal katapun yang tertulis. Kuhindari setiap kata "mengalah", kuhapus jauh dari ide pokok tulisanku "penghianatan dan air mata."
Tidak, tidak ada seseorangpun atau mungkin belum ada yang mampu berfotosintetis menjadi seseorang yang kunantikan.
Mereka tahu aku sendiri, tanpa cinta. Tak jarang mereka datang dengan bungkusan do'a untukku. Namun apalah arti semua itu tanpa usaha, bukan?
Aku pun mulai berusaha. Aku berani menggadai gengsi, menghangatkan suaraku yang dingin juga membuka ruang untuk saling mengenal.
Tapi, ruang itu hanya untuk seseorang yang bisa menghibahkan kepiawaiannya dalam mengalah. Karena sudah lama aku fakir dengan kata mengalah.
Ketika telah kuputuskan ingin bahagia tanpa kata mengalah. Lampu berangsur - angsur meredup. Dan pintu terbuka lebar, silahkan pergi...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar