Sabtu, 08 September 2012

LARI

Saat aku kecil, aku suka berlari...

Aku senang bisa berlari sekencang mungkin. Meskipun lutut berdarah, jatuh bagiku hal biasa.

Darah adalah warna kesukaanku, meskipun sakit tapi merah itu selalu menarik perhatianku.

Hingga suatu saat aku menyadari lariku tidak sekencang dulu, fisik mungkin melemah tapi aku selalu merindukan saat - saat aku bebas berlari. Dimana aku merasa tertantang dengan rasa takut akan keterlambatan, aku tetap berlari sampai ke titik akhir. Itulah aku, dulu.

Saat indah itu terekam lagi: berlari; pada saat hujan deras, pada saat anjing mengejar, lari dari serangan teman - teman jahil atau... saat aku terlambat.

Namun, kini aku tidak menyukainya lagi. Tidak, sungguh tidak suka. Lari bagiku kini sangat menyiksa diri. Jantung terasa sesak dan aku tidak sekuat dulu.

Mungkin, aku membutuhkan seseorang yang membuatku ingin lari bersamanya, berlari pada sebuah kota kecil yang penuh lampu pada saat malam menyelimuti bumi.

Tahukah kau?
Menemukan seseorang yang bersedia menemanimu lari dan menangkapmu pada saat jatuh adalah cinta yang paling indah, seperti saat kau baru belajar berlari dan orang tuamu dengan penuh kasih menangkapmu.

Karena itulah cinta sejati, cinta dari Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar