Rabu, 26 September 2012

She is Needha.

Lihatlah langit, begitu biru dan awannya putih cerah.

Cerah...

Ya, secerah matanya.

Apakah kalian pernah mendaki gunung tertinggi di dunia?

Pernah lihat, tapi kali ini kita tidak sedang mengukur seberapa tinggi gunung Bawakaraeng atau gunung Alpen. Tapi badannya yang cukup tinggi.

Sudahlah... Beri tahu siapa dia.

She is Needha. My best friend yang walaupun terkesan kejam, tapi sebenarnya hatinya lembut.

Dia... yang selalu bawa tentengan dan sempat membuat saya ingin menyembunyikan tentengannya itu. Sebab tiada hari tanpa tentengan. Hehehehe...

Hmmm, dia... Suaranya lembut... Sekali mengeluarkan kata - kata, orang yang tidak cerdas mungkin tidak akan mengerti maksudnya. Isi kalimatnya selalu berisi (seperti isi tentengannya, hehehe... Peace)

Kalau kata hati Marie, "mudah - mudahan ada biskuit di dalamnya."

Kataku, "tentengan obat - obatan."

Minggu depan kami yang tersisa akan merindukan sebuah tentengan dan si jangkung yang bermata tajam. Tak seorang pun bisa merebut tentengannya, hehehehe...

"prriiiiip... Prriiiiiip...!" sempritan ketua PGH.

"Stop stop stop... Kita tidak sedang memperebutkan sebuah tentengan kan?" kata JM sambil mengeluarkan Note.

JM dan Gita akan menjemputnya...

Saya hanya bisa diam. Siang itu... saya menahannya di lantai 1, sebab saya masih menunggu satu orang murid pulang. Katanya, "hari ini terakhir saya mengajar."

Lalu?

Saya tetap ingin ditemani, tapi matanya berkaca - kaca mengenang murid - murid dan para sahabatnya. Sebelum air matanya jatuh, saya menyuruhnya naik ke lantai 2.

"sana, pergi..."

Dia dan Cenning pun kembali ke kelas. Saya tidak ingin berbalik karena saat itu saya sedang menahan kesedihanku. Lalu tetap tersenyum dihadapan muridku.

Pada saat makan bersama pun tidak ada yang membahas tentang esok hari, kami hanya membahas tentang film horor jaman dulu. Setelah itu selesai, ke kelas masing - masing dan pulang.

Di angkutan umum, saya tidak sedang cemberut karena masalah yang menimpaku beberapa hari ini. Hal itu tidak penting. Yang membuatku tiba - tiba sesak adalah sebuah kenangan.

Saat saya menyadari; besok - besok tidak akan bertemu dengannya tiap hari. Tidak mendengar nasehat singkatnya setiap ada masalah menerpa.

Sudahlah, hari ini sungguh cerah... Bulan depan dia menikah, itulah kebahagiaan yang dinantikannya. Sahabat yang baik selalu menginginkan yang terbaik untuk sahabatnya, bukan?

And the Princess will get married soon. Insya Allah :)

-Happy End-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar