Tentang provider yang sering bermasalah.
Semenjak bekerja terlalu fokus, dia sudah jarang menerima panggilan masuk maupun membaca sms. Berkali - kali kerabat menghubunginya, tidak dihiraukannya.
Di suatu Sabtu pagi, langit gelap dan udara sangat sejuk. Gadis yang bernama Darni tertidur lelap namun tiba - tiba rasa lapar membangunkannya. Tepat pada saat ia bangun, ada sebuah pesan masuk di ponselnya.
Hai Dar, hri ini kmu sibuk nggak? Aku btuh bntuanmu, kalau bs kta ktmuan jam 10 pagi di cafe langganan kita dlu.
Yana.
Rasa lapar membuat Darni hanya membaca isi pesan tadi.
Di dapur yang kotor dan berantakan Darni berdiri sendiri menggoreng telur mata sapi. Lalu membuka kulkas dan meracik sambal kecap kegemarannya.
Setelah makan, ia kembali tidur. Begitulah kebiasaannya tiap hari Sabtu.
Hingga siang pun menyapa, tapi kali ini siang tak bersama mentari. Aroma tanah basah berkelindan di udara. Listrik padam, siang itu pesan singkat yang sama dari Yana terkirim lagi dan masih diabaikan.
Sudah jam 04:00 sore, hujan semakin lebat. Darni terbangun untuk buang air kecil. Saat ia melintasi meja kecil yang penuh dengan tumpukan buku, tanpa sengaja ia menyambar buku - buku tersebut dan sebuah buku agenda tua menghalangi langkahnya.
Bukankah itu buku Yana yang pernah kupinjam?
Tanya Darni dalam hati dan bergegas ke toilet.
---
Dua hari kemudian, Darni pulang larut malam. Udara terasa sangat panas. Listrik padam dan ia tidak bisa tidur. Satu - satunya elektronik yang menemaninya hanya ponsel biru kesayangannya.
Sambil dengar musik, ia membuka galeri foto lalu ia membuka kotak masuk pesan.
Yana
Yana adalah teman lama yang sempat dekat dengannya, dulu. Sebelum Yana memergoki Darni bermesraan dengan kekasihnya waktu itu.
Meskipun tidak satupun dari mereka melanjutkan hubungan dengan Gusti, pertemanan mereka tidak seharmonis dulu lagi.
Air mata Darni menetes bersama riuh hujan yang mulai turun. Malam itu, kenangan mereka bersama terputar kembali. Bagai sebuah film di bioskop; layarnya besar dan suaranya menggelegar. Ia menyesali yang telah terjadi.
Yana, sblmnya dri dlu sy ingin minta maaf...mslh gusti. Bknx sllu ingin mnghindar, tpi kau tau...sy sbg tmnmu mrsa malu tlh mrebut kksihmu :'(
Yan, I'm so sorry....
Pesan Darni telah dikirimnya namun masih tertunda karena jaringan yang bermasalah.
Masih dalam keadaan sedih, ia tertidur pulas. Bantalnya basah oleh air mata penyesalannya.
---
Pagi kembali mendung, di bulan Februari yang seharusnya ceria nampak suram. Langit yang gelap dan dingin yang mencekam. Ada suara pintu pagar yang terbuka, Darni menuju ke arah ruang tamu.
Matanya merah dan bulu kuduknya merinding. Tidak ada siapa - siapa. Ia pun berbalik ke kamarnya dan mencium bau parfum yang mengingatkannya pada sosok Yana.
Diraihnya ponsel yang berada di atas tempat tidur dan menelfon Yana. Panggilan pertama dan kedua terabaikan, ia mencoba memeriksa pesan yang dikirimnya semalam namun belum juga terkirim.
Hingga sepuluh kali ia mencoba tetap tidak dijawab Yana.
Penasaran, Darni lalu bersiap ke rumah Yana meski hujan lebat meramaikan kota Daeng.
---
Ditengah perjalanan, motor Darni mogok dan terpaksa ia harus berhenti disebuah warung kecil untuk berteduh.
Sambil menunggu hujan dan motornya yang diperbaiki montir, ia kembali menghubungi Yana. Dan panggilannya dijawab.
"hai Yan, kamu lagi dimana sekarang??"
Tidak ada suara diseberang sana, entah jaringan yang mempermainkannya atau derasnya hujan membuat Darni tidak mendengar suara Yana. Ia menghubungi Yana lagi.
"halo... Halo... Yan, kamu bisa dengar?"
Terputus.
"shitt...!!"
---
Sore begitu cepat menghampiri. Hujan reda dan Darni yang sempat pulang ganti baju bersiap - siap ke rumah Yana.
Sesampainya di rumah Yana, tak terlihat tanda - tanda keramaian. Lorong yang berkelok - kelok terlihat sepi, hanya Adzan Maghrib dari Mushollah yang terdengar. Darni mengetuk - ngetuk pintu rumah Yana. Tapi tidak ada suara atau jawaban.
Ia mengintip di jendela, matanya mengintai ruang tamu. Tidak ada siapa - siapa. Kemudian ia mengetuk lagi, lebih keras.
"Yan, Yana... Ini saya, Darni. Kamu ada di dalam?"
Tidak bosan ia mengintip lagi, sekilas ada seorang gadis berkerudung putih melintas dari depan kamar Yana menuju ruang lainnya.
Itu seperti Yana, apa Yana tidak mau bertemu denganku? Tanya Darni dalam hati.
Putus asa, Darni pulang dengan kecewa. Sepanjang perjalanan ia tidak habis pikir, mengapa Yana tidak ingin membukakan pintu? Lalu apa maksud dan tujuan Yana ingin bertemu dengannya?
---
Darni yang tinggal sendiri di rumah kontrakannya duduk termenung di ruang tamu. Angin bertiup kencang lalu disusul oleh guntur dan hujan. Suara hujan menggantikan suara tangis yang tertahan.
"I wish I could turn back the time and I'd prefer my friendship" curahan hati Darni di akun Facebooknya.
Beberapa menit kemudian ia tertidur.
Malam yang sunyi dan hujan deras, Yana dengan kerudung putihnya membuka pagar Darni. Wajah Yana tidak seperti biasanya, ia tampak lelah dan matanya tersimpan berjuta duka. Diketuknya pintu rumah Darni.
Kaget, Darni segera membuka pintu dan terpaku melihat Yana. Kejadian setahun lalu terasa seperti baru terjadi kemarin. Mata sembab yang dipandang Darni, memancarkan kata - kata yang tak terucap.
"Yana, I am sorry..." Darni terisak, dadanya sesak. Kemudian tak mampu berkata - kata lagi.
Darni tak mampu menahan tangisnya, ia juga hanya bisa melihat Yana beranjak pergi tanpa kalimat sedikitpun. Darni terus menatap Yana yang semakin jauh.
"Yana...!" suara Darni melemah, keringatnya bercucuran dan ia terbangun.
Matanya terpaku pada sebuah pintu yang masih tertutup. Hanya mimpi.
"apa itu hanya mimpi?"
Darni menyibak rambut panjangnya lalu menghapus keringatnya. Ponselnya bergetar. Ada pemberitahuan dari akun facebooknya.
Mala Sari mengomentari status anda.
"kesempatan kadang tidak datang dua kali. Besok ada takziah di rumah kakek Yana."
"Kakeknya Yana meninggal dunia?"
"oh, brarti kamu blm tau yah?"
"apa itu? Beberapa hari ini saya belum online."
"Maaf, Darni... Yana sudah meninggal 3 hari yang lalu, saya pikir kamu sudah tau." jawab Mala Sari membuat Darni merinding.
"3 hari yang lalu? Perasaan, hari sabtu lalu Yana masih sempat sms sy deh..."
"iya, dia meninggal 3 hri yang lalu kecelakaan. Hri sabtu malam, malam minggu itu hujan keras ada supir truk dgn kcepatan tinggi menyambar Yana." lanjut Mala Sari membalas komentar Darni.
Kemudian salah seorang teman SMA mereka mengomentari status tersebut.
"kata kakek Yana, pagi itu almarhumah rencana menemui temannya, ia membawa sebuah kado yang ikut tergilas dengan beliau. Sungguh tragis. Saya sempat melayat malam itu, dia pakai jilbab pemberianmu Darni :'( saya msih shock ingat kejadian itu."
Wajah Darni berubah pucat pasi, tangannya gemetar setelah membaca komentar - komentar temannya. Dan dibalik pagar ada seseorang berkerudung putih berdiri sambil membawa bingkisan kado.
-The End-
*Cerita ini hanya fiktif belaka. This is my first fiction story. Request dari seorang teman. Penulis mempersilahkan kritik dan saran. Semoga terhibur... ^^v Remember tidak ada yang perlu ditakuti selain Tuhan, Allah selalu melindungi ummatNya. Dan... Sayangilah sahabatmu karena sahabat adalah teman terbaik anda.
Spice Up Your Life,
Poetry Spice
Tidak ada komentar:
Posting Komentar