Gadis itu bercermin sambil mengutarakan kekecewaannya.
"Aku tahu dia mencintaimu, tapi ingat aku juga begitu."
Air matanya berjatuhan dari sudut - sudut matanya, mata yang kata lelaki itu indah dan membuatnya jatuh cinta. Tapi itu dulu. Sebelum ia mengetahui ada perempuan lain yang menyelipkan surat cinta di dalam agenda Tom saat ia selesai mengajar di sekolah menengah atas, tempatnya bekerja.
"Sungguh, mati itu jauh lebih bahagia daripada hidup menderita."
Kata - kata gadis itu untuk Tom dalam suratnya, menggema di relung hati April. Berulang - ulang hingga ia meringis.
"April, kau tau dia sering menemuiku diam - diam. Lalu mengapa kau masih saja mempertahankannya?"
Sore nan mendung saat seorang remaja belia yang cukup percaya diri seolah menamparnya dengan pertanyaan itu.
"Kalau kau jadi aku, tidakkah kau malu membatalkan undangan pernikahan hanya karena perselingkuhan kalian?" Balas April sedikit menaikkan intonasinya.
Ia menatap lawan bicaranya dengan tatapan penuh dengki, menunggu jawabannya namun yang ia dapat hanya pekikan sinis. Lalu remaja bernama Anti itu meninggalkan April.
---
Lampu redup, air matanya masih mengalir. Ia sama sekali tidak bisa berhenti mengingat kembali perlakuan tunangannya, juga perempuan itu.
"Dimana Tuhan?"
"Mengapa ini terjadi padaku?"
Dadanya semakin sesak. Yang di hadapannya adalah malu dan sakit hati ketika pria yang telah meyakinkannya untuk menikah malah lebih memilih untuk pergi, entah kemana.
---
"Bagaimana aku menghadapi orang tua dan menjawab pertanyaan - pertanyaan rekan kerja, juga sanak famili, apakah harus kusaksikan wajah ayah dan ibu tertunduk karena malu?"
April meluapkan emosinya saat ia menemui tunangannya yang baru saja pulang dari persembunyiannya.
Di ruang tamu, lelaki itu kehilangan kata - kata. Tangannya berkeringat dan hatinya tercabik - cabik melihat April. Rasa kasihan juga menerpanya mengingat Anti sedang mengandung anaknya.
Ia berusaha menjelaskan, dengan suara yang serak nyaris tak terdengar. "Lalu aku harus bagaimana?"
April lemas tak berdaya mendengarnya. Andai saja ia tidak mencintai lelaki di hadapannya itu mungkin rasanya tak sesakit itu. Pilu, bagaikan beling - beling yang tertancap di jantungnya.
"Kau tau apa yang harus kau lakukan, Tom. Tapi kau harus menebus semuanya nanti, suatu saat!"
April meninggalkan rumah Tom dengan isak tangis, ia pun berlari mencari taksi.
"Aku ingin pulang. Kali ini benar - benar pulang."
---
Gadis berambut pendek itu menancapkan kunci dan membuka pintu rumahnya.
Cermin di kamarnya menguraikan kemalangan nasibnya. Pikirannya melayang - layang. Wajah ayah, ibu, kakak, sahabat - sahabat, para tetangga dan kemudian wajah Tom bersama Anti silih berganti.
"Pilih malu atau mati?"
"malu!"
"mati!"
"tidak! malu!"
"mati!"
"malu! malu! malu! malu!"
Pertengkaran dalam batin membakar sumbu khilafnya hingga keubun - ubun.
Ia meneguk racun tikus dan setelah itu melemparnya dengan kesal, diraihnya lagi sebotol obat nyamuk meski dadanya mulai terasa panas dan kepalanya seperti gasing yang diputar - putar. Satu teguk. Perutnya melilit - lilit, dari mulutnya keluar busa dan ia tergeletak.
Entah berapa menit ia tak sadar. Matanya terbuka dan aroma obat nyamuk masih bertebaran. Kepalanya pusing semopoyongan. Ia berusaha bangkit, namun badannya terasa berat. Ia bersikukuh, terus berusaha dan kemudian ia berhasil duduk dan berdiri.
Rasanya dingin dan tiba - tiba tubuhnya ringan seperti melayang di udara. Timbul keinginan untuk berbalik, ia menengok kebelakang dan mendapati dirinya tergeletak kaku.
Matanya membelalak menyaksikan dirinya sendiri. "Kalau gadis itu diriku, lalu aku sedang apa?"
-The End-
#Hidup dan mati itu sudah diatur oleh Tuhan. Seburuk apapun masalah yang kita hadapi, semalu apapun itu, yakinlah... Tuhan selalu adil dalam memperlakukan ummatNya. Katakan "TIDAK" untuk bunuh diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar