Warnamu Merah, tetapi sebagian orang kurang teliti menyebutmu Jingga.
Ya, itu bukan kau.
"Bukan"
Kau mengelak, selanjutnya kau hanya diam membiarkan sebutan itu terngiang - ngiang lagi di lorong telingamu. Hingga akhirnya kau kesal dan menjauhinya.
Kembali pada saat Jingga terlupakan. Ledakanmu tercetus halus namun begitu menusuk hingga berlubang ke dalam hatinya.
Mungkin dia tidak mengenal Jingga, namun itulah dendam Merah.
Malam, dengan cahaya merah di ujung jalan pulang.
---
Hari kedua setelah Jingga terlupakan.
Ada sepotong baugette di atas piring putih. Rupanya sedari tadi tuan besar cacing sudah banyak komplain dalam perutmu. Namun, saat kau berdiri di hadapan roti yang kau beli kemarin, kau hanya diam dan mengernyitkan keningmu.
Sekelompok semut sedang merampok jatah makan siangmu. Si tuan cacing enggan berkompromi, ia bukan hanya memaki - maki tetapi juga membuat perutmu perih.
Engkau pun bertindak dan tidak kusangka kau melahap baugette setelah memotong roti tersebut menjadi dua bagian dan mengusir sebagian semut yang tersesat kehilangan arah.
Saat itu, kau menunjukkan sesuatu yang berbeda. Bukan hal bodoh, tetapi kasih sayang pada sekelompok makhluk kecil itu.
Siang itu, merahmu berbentuk menjadi hati.
---
"Selamat malam, Reyna. Kau harus istirahat." Kata Dorothee kemudian mengecup kening Reyna.
Gadis itu hanya diam lalu melambaikan tangannya ketika sahabatnya itu kembali memastikan Reyna menghentikan ketikannya, dan berbalik ke arah pintu kamar Reyna lalu pulang ke rumahnya.
Disibakkannya rambut lurus nan hitam miliknya. Tangan kanannya meraba pipi kiri dan perban yang membalut wajahnya.
Tangisannya dalam hati, ia belum bisa tidur. Sudah pukul 11:59 malam. Kejadian terakhir sebelum ia menjadi penghuni rumah sakit terputar kembali dan berulang - ulang hingga ia membawanya ke dalam mimpi dan terbangun.
---
Matanya melirik jam dinding, 12:02 AM. Ia terbangun karena dering telepon. Matanya setengah terbuka.
Joseph memanggil.
Layar ponselnya berkedip - kedip. "Halo?" suara Reyna dijawabnya singkat, "temui aku di bawah. Lantai 1, di samping tangga darurat." Sambungan telepon terputus.
"Gila! jam berapa ini?" gumamnya setengah ngantuk dan seperempat kesal.
Andai saja bukan Joseph yang meminta, ia tidak akan turun.
"Reyna?" tegur Joseph. Lelaki berdada bidang di samping tangga menghampiri Reyna dan memeluknya. "Jangan katakan pada siapapun aku menemuimu disini." Bisiknya membuat Reyna mengangguk.
Mereka berdua berjalan menuju kamar Reyna.
"Kau merasa kesepian?" tanya Joseph. Reyna menggelengkan kepalanya lagi. Matanya lurus memandang Joseph penuh rindu.
Bibir tipis Joseph merekah. Begitu damai dan manis. "Kau akan baik - baik saja disini. Tidurlah!"
Reyna meraih tangan hangat Joseph. "Kau tetap disini, bukan?" kemudian menunggu jawaban Joseph. "Temani aku." Lanjut Reyna.
Joseph membaringkan Reyna dan dengan lembut merapikan selimutnya. Tidak ada suara selain kecupan dari bibir Joseph, tepat di kening Reyna.
---
Reyna selalu tidak bisa menebak Joseph, ketika matahari memancarkan cahaya pagi, yang terjadi adalah menemukan dirinya sendiri lagi.
"Joseph?"
Tidak ada jawaban. Ponselnya pun sulit dihubungi.
~(˘ε˘~) Bersambung (~˘з˘)~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar