Senin, 08 April 2013

The Same Questions Have Gone Part I

Pagi itu aku berjalan santai memasuki kelas. Dalam benak selalu bertanya - tanya bagaimanakah rupa partner kerjaku yang baru.

Sebelum masuk ke kelas, terlihat seseorang perempuan bertubuh tinggi besar dan rambutnya panjang tebal kecokelatan.

"Hi, how do you do?" Sapanya mengulurkan tangan padaku. Ia tersenyum ramah, terlihat jelas kepercayaan dirinya terpancar dari potongan wajahnya yang cantik.

"Ester." Kami berkenalan. Meski sebelumnya aku telah diwanti - wanti oleh kepala sekolah supaya aku tidak boleh diam saja- maksudnya, diam saat seseorang yang agresif lebih mendominasi atau membuatku terlihat lemah.

"Nice to meet you." Kataku dan tersenyum lalu duduk di kursi. Setelah itu aku mulai memperkenalkan diri dan menjelaskan secara singkat tugasnya sebagai asisten guru.

Sebelumnya aku sudah dengar, bahwa ia fasih bercakap bahasa Inggris. Terbukti saat aku mendengarnya sendiri. Senang, akhirnya aku mendapatkan partner yang bisa diandalkan untuk membantuku mengejar target.

---

Seminggu telah berlalu. Entah apa yang sebenarnya terjadi; canggung atau masih bingung karena dia masih baru. Tapi apa iya, ada yang sulit mengenal orang baru?

"I'm sorry because I don't know the teachers' name here. It's difficult to me to recognize them." Akunya padaku setelah makan siang.

"Oh? it's okay. You're new. So, all you need is try to be close with them." Jawabku.

Ester yang ramah dan sopan namun tertutup. Ia sangat rajin, kadang pelupa. Kuanggap itu hal biasa. Karena aku juga pernah menjadi guru baru seperti dia. Yang dibutuhkannya adalah beradaptasi.

---

Selang satu bulan lebih, aku yang sibuk mempersiapkan event besar sangat tidak sabar menghadapi Ester.

"Kenapa?" tanya JM sahabatku.

Lalu kujelaskan bahwa selama ini Ester selalu mempertanyakan hal yang sama berulang - ulang.

"Itu membuatku bosan!" keluhku kemudian menceritakan kronologis kekacauan kelas.

"Aku capek! rasanya aku yang kerja sendiri. Sementara aku harus bersabar dan mengerti posisinya sebagai guru baru." lanjutku panjang lebar.

"Ya sudah, Put... kamu tulis saja tugas - tugasnya di secarik kertas dan tempel di mading kelasmu. Beres."

Ide itu pula yang juga melayang - layang dalam otakku. Kemudian kuketik jadwal belajar kelasku dan beberapa tips.

---

"I heard you keep asking some teachers about our class' projects and schedule." Kataku dengan tenang seperti biasa kalau menghadapinya.

"who said?" tanya Ester. "Some teachers told me." jawabku dan menyimpan proposal dalam rak buku dekat meja kerjaku.

"Tell me who are they?" Ester memburu jawabanku. Tapi aku tidak bermaksud untuk mengadu domba.

"Some of them, and I think so. Because you always ask me what you have asked many times. I'm sorry for saying these, miss. But this is for you. I hope it will help you." Jelasku lalu menyodorkan dua lembar kertas berisi jadwal dan tips.

"Okay. Thank you."

Kulihat wajahnya sedikit kesal bercampur sedih, dengan terpaksa namun tetap sopan ia menerimanya.

Aku memang sering dibuatnya kesal bila ia hanya bengong ketika anak - anak usia 4 tahun di kelas kami tidak terkontrol. Maklumlah, anak pre-school mana ada yang kalem semua? Kalau bukan ada yang lari, pasti bersahut - sahutan sambil bercanda.

Aku kerap menerima komplain dari orang tua. Bahkan yang paling parah saat aku benar - benar sakit kepala dan tidak hadir, terjadi kecelakan ringan. Salah satu murid kami yang kuku kakinya panjang, tanpa sengaja menggores kaki si kecil Joseph.

Dua hari berturut - turut ibunya marah besar. Biasalah, di sekolah kami sangat menomorsatukan kualitas dan kenyamanan orang tua murid. Sehingga pelayanan sekolah harus sangat sempurna pada orang tua murid.

Siang itu, rasanya seperti dicabik - cabik saat mendengar kata - kata ibu Joseph. Bagiku, sebab saat terjadi aku tidak hadir dan kecelakaan kedua anak tampan dan mungil itu terpleset.

"Oh my God! I am really really really sick! kenapa sih, miss Ester tidak mengerti juga kalau menangani kelas Pre-K itu harus cekatan dan punya inisiatif. Kalau tidak peka, bisa - bisa aku tinggal tulang terbungkus kulit!" Kali ini aku mengeluh lagi pada JM.

"Hmmm, mungkin pikirannya sedang tidak konsen atau sulit baginya menyesuaikan diri." Timpal JM.

"Tadi siang, rasanya pengen jewer kupingnya. Tapi dia kan lebih tua dari aku, JM. Pokoknya aku pengen term depan ganti partner. Kalau begini tiap hari bisa gawat. Aku juga rasanya kehilangan kesabaran kalau ditanya berulang - ulang hal - hal yang udah kujelasin."

"Sabar... sabar... berdoa saja semoga next term dapat partner yang lebih baik.Kalaupun tetap dia, semoga dia jauh lebih baik."

---

Dua bulan kemudian, walau masih bertanya meski terlihat sangat segan bertanya, Ester sedikit curhat tentang dirinya.

Sejenak, hatiku berdesir. Rasanya selama ini aku kurang bijaksana menghadapinya. Akupun mulai luluh dan kami sering bercanda. Walau tetap saja, Ester tidak senang membahas masalah pribadinya.

"Do you know miss Ester? you look like Geri Halliwell. Ginger Spice." Kataku sambil memperlihatkan foto - foto Spice Girls.

Ia melihat dan tersipu malu. "Hm, no. I don't think so." kilahnya tersenyum, mata cokelatnya masih melihat - lihat koleksiku. "I only know the blondy one." Ester menunjuk  Baby Spice. "Ow, that's Emma." kataku.

Kami berdua rasanya seperti dua orang guru yang saling menjaga perasaan. Walau mungkin saja dalam hatinya ia juga kesal dengan sikapku yang terkadang dingin bila banyak hal yang harus aku kerjakan sementara suasana kelas berantakan.

---

Hampir tiap malam aku terganggu dan mengeluh dengan kinerja Ester. Hingga suatu hari aku bertanya pada Koordinator guru.

"Kira - kira next term siapa partnerku?"

Awalnya beliau tidak ingin menjawab, tapi akhirnya ia mengisyaratkan bahwa aku masih dipasangkan dengan Ester.

Telingaku bagai mendengar gelegar guntur. Kilat menyambar - nyambar, gelas - gelas kaca berjatuhan.

"Oh, no...!!!"

Kuceritakan pada JM dan bagai orang frustasi aku tidak hentinya berbicara dan menceritakan betapa hatiku serba salah tiap kali ingin marah, tapi harus tetap menjaga perasaannya, agar tidak terkesan mengintimidasi.

"Tapi apa aku harus begini terus?"

JM membisu, kehabisan kata - kata. Kami terdiam dalam ruang obrolan Whatsapp.

---

Setelah menyerah karena hal yang mustahil membujuk koordinator yang sudah angkat tangan sebelum aku minta tolong untuk memberi training pada guru - guru baru.

Sambil menghela nafas, aku berusaha sabar dan tidak memperumit. Setelah makan siang, aku mulai bercanda dengannya dan memberi tips dan cara menjelaskan pelajaran.

Satu per satu guru yang lewat depan kelas kami sempat meledek dengan jenaka. Tapi aku dan Ester tetap serius dalam diskusi kami. Ini demi kenyamanan bersama, khususnya untuk next term.

"I think it's enough, miss." Pinta Ester. "I get headache if I receive too many subjects." Terangnya.

Aku tersenyum dan berdoa untuk kedepannya bisa lebih baik.

---

Seminggu berlalu, untuk kesekian kali ia bertanya bagaimana kinerjanya. Biasanya aku hanya menjawab. "Not bad, because you're still new. You have to be proud. You are smart miss, and beautiful. But sometimes, you look confuse with many things." Kataku.

Pandangannya lurus padaku. Sedikit mengakui kelemahannya, ia berkata bahwa ia masih bingung dan kadang tidak tau harus berbuat apa. Ia juga mengakui bahwa ia pelupa.

Sifatku yang ceplas - ceplos, sedikit tidak menjaga perasaannya. Aku menyarankannya untuk meminum vitamin agar stamina otaknya fit. Karena bagiku dan kebanyakan guru lain, Ester benar - benar pelupa.

"I have bought Chinesse pill for brain." Katanya membuatku kaget dan sedikit menyesal telah menyusahkannya. Mungkin ia berfikir keras agar bisa menguasai medan. Seperti katanya, "I want everthing can go fast."

Aku menatapnya tanpa kata - kata. Sudah kuberi tahu, semua butuh proses dan tidak perlu khawatir berlebihan. Bekerja dengan santai tapi pasti. Pun aku berkata padanya, "Don't worry. You are getting better. You look happy and I feel good to see you have a great job" jelasku membuatnya tersenyum.

Tidak disangka, setelah asyik berdiskusi aku mendapatkan alasan mengapa ia terlihat bahagia. Rupanya sebentar lagi ulang tahunnya. Tanggal 21 Maret.

---

Selang beberapa hari, tepat pada hari ulang tahunnya, aku berniat untuk bercanda. "Hi miss... so how old are you now?"

Namun ia menjawabku dengan singkat dan terkesan dingin. "It's a secret, do not tell anyone about this day." Lalu ia pergi meninggalkan kelas.

"Oh, sungguh tidak bersahabat!" gumamku. Kadang Ester memang sulit ditebak, makanya sebagian besar guru - guru segan bersenda - gurau dengannya. Takut dijawab dengan singkat dan menyisakan tanda tanya, sebab ia sangat tertutup.

---

Akhir term telah tiba, kami sibuk mempersiapkan report day yang tinggal beberapa hari lagi. Seperti biasa, Ester selalu membuatku terdesak untuk melakukan sesuatu saking inginnya ia bergerak cepat. Tapi, sayangnya saat tugas telah dibagi, ia malah kebingungan dan stress sendiri.

"Sudahlah, let me do it."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar