Senin, 08 April 2013

The Same Questions Have Gone Part II


"Sudahlah, let me do it." kataku pasrah.

Sikapnya pun aneh, ia terlihat kasar saat bekerja. Suasana kelas yang hening menjadi ribut dengan bunyi gunting yang terbanting, pelubang kertas yang jatuh di lantai. Oh, membuatku terngganggu saat mengisi report book. Tapi aku hanya diam, walau kesal melihat tingkahnya.

---

Hari itupun berlalu. Kulangkahkan kaki ku pagi ini di kelas. "Good morning miss, I've been waiting for you since long time!" Sapaku ingin mencairkan suasana. Ia hanya tersenyum dan berkata, "you know? maybe tomorrow is my last day. I want to resign." Katanya membuatku tercengang.

"Hah? kenapa? Apa ada kerjaan baru, atau miss tidak merasa nyaman dengan saya?" tanyaku.

"No, miss. As I always say to you. You are good, Bagiku miss sangat dewasa dibanding yang lain. Miss, sudah tau kan? saya selalu bilang saya merasa tidak nyaman disini dan tidak bisa berbaur. Saya tidak suka gosip dan making group. Sementara saya lihat dari atas sampai lantai 2, seperti itu."

Aku masih diam tidak percaya ternyata dia betul - betul tidak tahan lagi.

"Lagian ada yang nawarin kerja di luar kota. Awalnya masih ragu sih, tapi kayaknya I wanna quit."

"Oh, miss... I feel sorry. Hm, so have you sent the letter?"

Ia menggeleng dan bertanya bagaimana cara membuatnya? Tapi aku menggelengkan kepala. "I never type that kind of letter."

---

Suasana di kelas berubah. Aku merasa akan kehilangan, walau dulu aku bersikeras ingin  berpisah di term depan. Ia juga terlihat sedih. Kami tidak banyak bicara selain mengajar murid - murid.

"Friends... my lovely kids, do you know miss Ester will move. You will not meet miss Ester anymore." Tiba - tiba lampu padam. Suasana remang - remang. Sedikit cahaya dari balik jendela putih yang berhadapan miss Ester.

Serentak anak - anak heboh karena lampu padam.

"Ssttt... it's Ok, dear! by the way please say to miss Ester 'We will miss you, miss Ester,' and then shake miss Ester's hand, ok?" kataku pada anak - anak.

Meski gedung sekolah sebagian gelap, namun masih bisa melihat mata miss Ester yang berkaca - kaca. Aku tidak ingin hari terakhirnya bersama anak - anak berlangsung haru.

Dengan menyembunyikan rasa sedih aku bercanda pada anak - anak hingga mereka tertawa. Senyum miss Ester merekah. Sorot kelam masih menempel, aku terpukul mengingat kata - katanya dulu bahwa akulah satu - satunya guru yang dekat dengannya. Sementara aku tidak bisa sabar membimbingnya dan sering mengeluh pada JM.

---

Besok report day. Semua sudah rampung. Setelah makan siang, miss Ester memberitahu bahwa ia menunggu kabar dari bawah sebab ia telah memberikan surat pengunduran dirinya.

Entah apa yang telah terjadi, tapi menurut salah satu guru, ada seorang guru yang dipanggil atasan dan menanyakan kinerja miss Ester yang kebetulan mereka satu tim di kelas siang.

Saat itu aku sempat menyesali, mengapa saat kinerjanya sudah mulai baik, ia masih mendapat teguran? apa karena? Ah, aku berhenti berpikiran buruk. Namun bukankah aku telah memberitahu pada koordinator bahwa kinerjanya mulai bagus dan tidak masalah bila ia tetap jadi partnerku?

Apa boleh buat. Aku dan miss Ester masih asyik berbincang dan belum sempat bersalaman atau sekedar berbagi alamar email, telepon dari atasan ditujukan padaku untuk memberi kabar tentang pengunduran diri miss Ester.

Saat aku kembali di kelas, miss Ester telah pulang lebih awal dari biasanya. Ia pergi meninggalkan sejuta tanya untukku dan ia pergi membawa pertanyaan - pertanyaannya jauh. Tidak akan ada lagi pertanyaan yang sama darinya untukku seperti biasa. Juga, tidak ada pula sapaan hangat tiap pagi yang menjadi kebiasaannya...

"Miss... Good morning, I've been waiting for you."

-The End-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar